Share This Article

Profile
December 31, 2017 posted by Ozip Team

Clarice Campbell: Sulit Membedakan Bahasa Indonesia Resmi dan Gaul

Clarice Campbell: Sulit Membedakan Bahasa Indonesia Resmi dan Gaul

Clarice Campbell, alumnus jurusan Bahasa Indonesia dan Ilmu Linguistik Universitas Monash, bercerita tentang ketertarikannya akan bahasa dan budaya Indonesia. Pada akhirnya kecintaannya ini jugalah yang membawa Clarice menjadi Director of Operations di Australia-Indonesia Youth Association (AIYA), bahkan Clarice berhasil mendapatkan Hamer Scholarship dari Pemerintah Victoria untuk tinggal dan bekerja di Indonesia selama satu tahun.

Hai Clarice, apa kabar? Sedang sibuk apa sekarang?
Halo, kabar baik. Saat ini saya sudah menyelesaikan program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di UI dan baru selesai magang di Victorian Government Trade and Investment Office. Rencananya bulan depan saya akan ikut program The Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) di Bengkulu, Sumatra.

Cerita dong sejak kapan belajar bahasa Indonesia dan kenapa tertarik dengan Indonesia?
Dimulai sekitar 10 tahun yang lalu, saya ambil bahasa Indonesia karena waktu SMP di Williamstown High School kami harus memilih satu kelas bahasa asing di antara tiga pilihan: Prancis, Jepang, dan Indonesia. Waktu itu saya sangat tertarik akan binatang dari Indonesia seperti orangutan dan harimau. Selain itu saya rasa bahasa Indonesia tidak sesulit bahasa Jepang dan bahasa Prancis jadilah saya menjatuhkan pilihan ke bahasa Indonesia.

Apa kesulitan terbesar yang dirasakan saat belajar bahasa Indonesia?
Wah, ini dia. Menurut saya kesulitan terbesar adalah bedanya antara bahasa resmi dan bahasa gaul. Biasanya orang asing pada awalnya belajar bahasa formal seperti yang digunakan di pidato Jokowi, undang-undang, koran, dan situasi formal lain. Begitu sudah ngobrol sehari-hari, ternyata bahasa yang digunakan sangat berbeda.

Pernah ada pengalaman lucu nggak?
Tentu saja. Ketika saya mulai belajar bahasa Indonesia ada kelas tata bahasa tentang imbuhan seperti ke-an. Misalnya merah = red, kemerahan = reddish. Tapi ada satu situasi dalam pidato di ujian di mana saya mencoba menggunakan imbuhan ke-an dengan malu. Ternyata kemaluan artinya tidak sama dengan shyness! Hahaha…
Selain itu, sekarang kan saya sedang di Jakarta, jadi kalau naik Gojek dan mas Gojek-nya tahu saya lancar berbahasa Indonesia biasanya mereka kaget dan bertanya “Miss dari mana?” “Sudah tinggal di Jakarta berapa lama?” “Kenapa ingin tinggal di Indonesia?”.

Apa peribahasa dalam bahasa Indonesia yang disukai? Kenapa?
Peribahasa favorit saya adalah ‘asam di gunung, garam di laut bertemu dalam satu belanga’. Saya suka peribahasa ini karena itu sangat Indonesia dan mewakili bahwa ketika ada orang dari negara atau tempat lain, mereka masih bisa ketemu dalam kehidupan ini.

Selain bahasa, apa hal lain yang menarik dari Indonesia?
Indonesia punya banyak suku, budaya, dan bahasa namun tetap bisa berinteraksi dengan damai. Saya suka sekali.

Apa rencana Clarice setelah selesai kuliah? Menetap di Jakarta atau kembali ke Australia?
Saya sudah lulus kuliah dan sedang mencari kerja. Pada saat ini saya masih di Indonesia dan mudah-mudahan ada kesempatan untuk bekerja di sini.

Apa harapan Clarice terhadap hubungan Indonesia dan Australia?
Tentunya saya berharap Australia dan Indonesia bisa bekerjasama lebih banyak di masa depan dan lebih banyak orang Australia mencari kesempatan di Indonesia.

Teks: Putri
Foto: Dok. Pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *