Category Archives: Contributor

Bangsa Tempe
Kolom Opini Nuim
June 2, 2018 posted by Ozip Team

Bangsa Tempe

Pujangga, ahli matematika dan ilmu falaq Persia (sekarang Iran) Omar Khayyam (1048-1131)  pernah mengingatkan manusia agar sangat berhati-hati ketika menulis sesuatu (dan tentu saja ketika mengatakan sesuatu yang kemudian dicatat/ditulis, seperti ucapan seseorang yang sedang berpidato atau menyampaikan ceramah/taushiyah, yang lantas disebarluaskan).

Dalam sajak mashurnya “The Rubaiyat of Omar Khayyam “ (yang diterjemahkan oleh Edward Fitzgerald), Omar Khayyam antara lain menulis:

The Moving Finger writes; and, having writ,

Moves on: nor all thy Piety nor Wit

Shall lure it back to cancel half a Line,

Nor all thy Tears wash out a Word of it.

(Jari yang bergerak menukilkan; dan setelah menulis

Kemudian berlalu: semua kesalehanmu begitu pula kecerdasanmu

Tiada akan mampu mengimbaunya kembali atau menghapuskan bahkan setengah baris

Begitu juga semua air matamu tidak akan berdaya menghapuskan bahkan sepatah kata pun.)

Dalam budaya kita peringatan ini berbentuk wanti-wanti yang lebih menyeramkan:

“Mulut kamu harimau kamu mengerekah batu kepala kamu!”

Selama menjadi presiden R.I. Bung Karno memang acap berpidato, dan ucapan-ucapannya di depan massa rakyat itu dicatat demi sejarah.

Dalam salah satu pidatonya, Bung Karno menghardik lawan-lawan Indonesia dengan ucapan ini:

“Kita bangsa besar, kita bukan “bangsa tempe”, kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak… Tradisi Bangsa lndonesia bukan “tradisi tempe”. Kita dizaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.” (Soekarno, dalam Pidato ultah hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1963.)

Jelas dalam pidatonya itu penggunaan perumpamaan atau tamsil “tempe” dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai sesuatu yang mengecilkan, merendahkan, bahkan menghina. Namun kenyataannya kini sungguh sangat berbeda, karena tempe dianggap sebagai salah satu jenis makanan terpuji yang sangat besar khasiatnya.

Kata seorang pelawak, yang membuat tempe sama sehatnya seperti yang membuat minuman anggur: sama-sama harus mengangkat dan menurunkana kedua kaki mereka secara berulang-ulang  (menginjak-injak) ketika mengolah kedelai untuk tempe dan buah anggur untuk minuman yang banyak digemari oleh orang di Barat, terutamanya.

Dalam berbagai kajian kesehatan tempe (tempeh) disebut “incredibly good” for you, dan setidaknya ada tujuh khasiat dari tempe:

Contains Probiotics. The consumption of fermented, probiotic foods has many benefits. …

Reduces Cholesterol. …

Increases Bone Density. …

Reduces Menopausal Symtoms. …

Provides Muscle-Building Protein. …

Contains Diabetes-Fighting Manganese. …

Treats Cancer and Inflammatory Diseases.

Seingat penulis pernah ada sebuah buku setebal lebih dari dua ratus halaman yang ditulis seorang ahli gizi Amerika mengenai khasiat tempe.

Sayang di Indonesia sendiri, atau di kalangan bangsa Indonesia tempe, sebagaimana halnya dengan jagung, dianggap sebagai lambang kemiskinan, hingga sering timbul ucapan penuh belas kasihan atau mungkin juga celaan, bahwa si fulan “kasihan sekarang makan tempe/jagung”, karena dianggap tidak lagi sanggup makan nasi dan gulai ayam.

Agaknya disebut “bangsa tempe” mungkin lebih terhormat ketimbang dibilang “bangsa babu”.

Seorang penulis Hong Kong, Chip Tsao, dalam kolomnya di majalah HK Magazine, menyebut warga Filipina sebagai “bangsa babu” (ia tidak menggunakan istilah yang lebih terhormat, seperti Pembantu Rumah Tangga alias Domestic Helpers, melainkan servants).

Cemoohan ini dilontarkannya ketika Filipina angkat suara sehubungan dengan klaim negara itu terhadap sebagian dari Kepulauan Spratly yang juga diklaim oleh sejumlah negara lain, termasuk Tiongkok

“Jangan sok jago lu,” kata Chip Tsao yang menambahkan “Lu kan bangsa babu”.

Yang dimaksudkannya adalah para TKW Filipina yang banyak di antaranya bekerja sebagai PRT di Hong Kong dan banyak negara lainnya, seperti Singapura, Malaysia dan Timur Tengah.

Memang dalam sejarahnya Filipina kurang terbukti suka atau berani unjuk otot.

Sebelum Amerika menyerbu Filipina dalam tahun 1898, bangsa berbahasa Tagalok itu diperintah oleh hanya lima ribu orang Spanyol, empat ribu di antaranya pastor (bukan tentara).

Di Hindia Timur (Indonesia), 37-juta rakyatnya dibelenggu oleh 16-ribu serdadu Belanda totok dan 26-ribu tentara local yang berdinas dalam kemiliteran Belanda penjajah.

Alhasil Filipina memang mencerminkan suatu “kelembutan” kalau tidak hendak disebut kelemahan.

Sekarang saja Presiden Rodrigo Duterte, yang terpilih tahun 2016 untuk hanya satu masa jabatan selama 6 tahun, sudah angkat tangan dan mengaku tidak sanggup untuk menyelesaikan masa jabatannya sampai tahun 2022. Ia mengaku akan pensiun tahun 2020.

Masih mendingan Presiden Joko Widowo, yang biar pun “kerempeng” (ini istilah Megawati Sukarnoputri : biar dia kerempeng tapi dia Banteng), namun tetap tegar dan bercita-cita untuk merebut masa jabatan kedua dalam pilpres 2019. Benar Jokowi pernah tidak menyelesaikan masa-masa jabatannya sebagai Wali Kota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta, namun itu karena dia mengejar jabatan yang lebih tinggi – sebagai Walkot ia mengincar jabatan Gubernur dan ketika sebagai Gubernur ia tergiur oleh jabatan Presiden – bukan karena beliau letih atau tidak sanggup meneruskan.

Namun dalam hal “cari duit”, terutama di luar negeri, para tenaga kerja Filipina, diakui oleh bahkan mantan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo, jauh lebih hebat dan gesit.

Dikatakannya, para Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri sanggup mengirim uang kembali  ke Indonesia “hanya” sebanyak 8-miliar dolar (US) setahun, sementara para pekerja Filipina mampu mengirim kembali sampai 28-miliar dolar setahun.

Jadi jangan anggap enteng sama “bangsa babu”.

Ada sebuah plaza di Singapura yang selalu ramai dengan para tenaga kerja Filipina. Kebanyakan mereka mendatangi agen-agen remitansi untuk mengirim uang ke sanak keluarga di Filipina, bukan khusus untuk belanja atau masuk restoran (di plaza ini ada warung Indonesia yang menghidangkan antara lain ayam penyet).

Sebenarnya kita pun sebagai bangsa Indonesia pernah dihina oleh seseorang dari Barat – tidak pasti apakah dari Belanda atau Jerman – yang menyebut bangsa Indonesia sebagai “a nation of coolies and a coolie among nations”.

Tetapi bukankah seorang kuli yang jujur jauh lebih baik dari seorang pamong praja yang korup atau komprador/kolobrator penjajah yang zalim?

Pujangga abad ke-18 Inggeris, Alexander Pope, pernah mengingatkan bahwa “honour and shame from no condition rise. Act well your part: there all the honour lies.”

Bangsa Inggeris bangga dengan pengakuan bahwa mereka bersemangat “bull dog” – anjing khas Inggeris yang tampangnya bukan saja sangat jelek melainkan juga menyeramkan. Konon seekor anjing jenis bull dog yang begitu kecil mampu mengalahkan seekor banteng yang sekian kali lebih besar dari dirinya. Bak kata orang kita, “kecil-kecil cabai rawit”.

Bagaimnana dengan julukan “bangsa tempe”?

Pimpinan Forum Tempe Indonesia baru-baru ini mengatakan:

“Kita harus bersyukur bahwa tempe baru saja diterima dan ditetapkan Indonesia sebagai warisan budaya nasional pada Oktober tahun lalu sehingga siap untuk maju ke UNESCO pada 2021 untuk mendapat pengakuan.”

Jangan anggap enteng sama tempe, Bung! Wallahu a’lam.#

  

IS BUSINESS INSURANCE WORTHWHILE?
Ozip Tax
May 31, 2018 posted by Ozip Team

IS BUSINESS INSURANCE WORTHWHILE?

If you’re like many small business owners, your business may not be adequately insured in the case of a fire, flood, natural disaster, theft, or personal injury.

Often home-based business owners assume they are covered under their homeowner’s policy. Other entrepreneurs, working long hours and pulled in too many directions, may never get around to talking to an insurance agent about their business.

If you’ve been procrastinating on business insurance, consider this: small businesses are much more likely than larger companies to be devastated in the event of an unforeseen loss, and business insurance needn’t be costly. You can save money on a bundled business insurance package, or lower your premiums by simply increasing your deductible.

Take a look at these 4 essential types of business insurance designed to protect businesses of any size.

General liability insurance

Protects business owners should they, an employee, product, or service cause personal injury or property damage to a third party. 

Property insurance

Protects business owners who own a building or other valuable assets (e.g. equipment, computers, tools, or inventory) in case of fire, flood, vandalism, or theft.

Business interruption

Protects business owners from financial loss should business activity be suspended for a period of time (e.g. following a theft, flood, or other unforeseen loss).

Vehicle coverage

Protects business owners for damage and collisions when vehicles owned or leased by the business are used by staff to perform their jobs or transport products/equipment.

SAVE CASH WITH A BUSINESS

OWNER’S POLICY

A number of factors come into play when determining business insurance premiums, including the type of business insured, location, gross revenue, and types of coverages required. A business owner’s policy (BOP) offers the most complete coverage in a customizable bundled package, and the best value. This type of policy typically includes:

• Liability insurance

• Property insurance

• Crime insurance

• Business interruption insurance and

• Vehicle coverage

INSURANCE FOR

HOME-BASED BUSINESSES

If you run a business out of your home, you may prefer an add-on or rider to your homeowner or renter insurance rather than a separate comprehensive policy. This can be a cost-efficient option for solopreneurs who don’t own a large amount of inventory or valuable equipment—in other words, a business owner for whom a fire, theft, or flood won’t greatly disrupt or devastate the business.

An in-home policy is another option for home-based business owners who need greater protection than a rider or add-on to an existing policy can offer. Generally speaking, this type of policy costs a bit more than a rider but protects the owner and up to three employees against theft, injury, and other risks to the business.

FINAL TIPS

When it comes to protecting your small business, your profit margins aren’t what should determine whether or not to get insurance. What matters is how great the impact would be to your business should something unexpected go wrong.

Get in touch with a reputable insurance company, or seek out an independent business insurance broker, to do a risk assessment for your business—then see exactly what kind of insurance you need.

If cost is a barrier to getting business insurance, take heart; your premiums may very well qualify as an end-of-the-year tax write off.

The Materials are provided for general information purposes only and are not intended as professional advice and should not be substituted for, or replace, such professional advice.