Jangan Salah Pilih

Ganjar Pranowo, presidential candidate of the ruling Indonesian Democratic Party-Struggle (PDI-P), and his running mate, Mohammad Mahfud Mahmodin, Indonesian chief security minister, known as Mahfud MD, pose for photographs after registering themselves, at the election commission headquarters in Jakarta, Indonesia, October 19, 2023. REUTERS/Willy Kurniawan

Suatu hari, dalam sebuah percakapan di WhatsApp:
Halo Pak, saya mau tanya, gimana tanggapan bapak mengenai perdebatan cawapres dan juga perdebatan capres minggu lalu? Saya belum banyak menonton debat cawapres jadi saya tidak bisa menanggapi, meskipun melihat awalnya. Dan melihat awalnya saya jujur cukup surprised oleh gayanya Gibran yang kelihatan confident dan ready. Perdebatan capres saya setuju dengan kebanyakan orang bahwa Anies yang menguasainya. Tetapi itu kan cuma kata-kata belaka, saya lebih tertarik sama rekam jejak kandidat masing-masing.

Saya juga tidak menganggap Gibran sebagai “teman sesama anak muda” karena walaupun ia milenial, dan jauh lebih muda daripada kandidat lain itu tidak langsung berarti kami akan “relate” dengannya atau bahwa dialah yang memahami isu-isu Gen Z di Indonesia.

Lagipula, usia mayoritas pemilih Indonesia di bawah 30 tahun kan?

  • Pagi, menurut saya bagus dan juga kelihatan kita masih belajar tentang arti/makna demokrasi itu sendiri. Di AS sendiri kelihatan di debat inilah kita bisa melihat ‘karakter para calon’; emosional, tenang & sopan. Tapi tetap saja jejak langkah paling menentukan. Debat lebih kurang ‘sandiwara’ seperti kata Shakespeare; masing-masing aktor berusaha memainkan perannya sebaik mungkin, kan?
  • Oh iya, saya tidak terlalu mengikuti pemilu di Indonesia, bisa puyeng. Patokan saya ada dua: kata sejarawan org Belanda, Indonesia “seperti dunia ghaib”, dan kata Mahfud MD, di Indonesia “malaikat pun bisa jadi iblis”. Saya masih ingin jadi org waras, hahaha.

Iya, betul sekali. Dalam satu segmen Musyawarah, Najwa Shihab mengkritik perdebatan capres dengan mengatakan sebenarnya tidak ada pengungkapan mendalam tentang gagasan karena kita malah mengingat ‘slepet-slepetnya’ daripada ide masing-masing capres.

Saya sendiri merasa terhina oleh kampanye-kampanye capres yang berupaya untuk memikat generasi muda.

  • Semuanya ‘tukang jual obat’. Sekarang tinggal para pemilih harus lihat siapa dari tukang jual obat ini yg relatif jujur & cerdas dan punya keinginan untuk menyelamatkan Indonesia! Bukan kelompok/etnis/agama/ideologi dan sebagainya. Orang Minangkabau bilang Rumah Besar/Indonesia harus selamat; kalau itu selamat, semua selamat. Tapi, kalau Rumah Besar gak selamat, gak ada yg bakal selamat!
  • Karena serigala-serigala gila dan lapar selalu mengintai Indonesia, kita harus hati-hati siapa dari para tukang jual obat ini yang sadar mengenai hal ini!!

Siapa serigala-serigala ini?

  • Ya seperti sudah tercatat di buku-buku sejarah, karena Indonesia begitu kaya dengan sumber daya alam, banyak negara lain di dunia seperti Amerika Serikat yang terlibat dalam peristiwa Permesta & PRRI. Di tahun 1965, dilihat dari peristiwa G30S, ternyata semakin banyak yang ikut campur persoalan dalam negeri Indonesia. Amerika Serikat hanya salah satu negara yang punya kepentingan terhadap Indonesia, masih ada beberapa negara lainnya.

Apa maksudnya punya kepentingan?

  • Amerika Serikat pasti punya kepentingan sejak dulu. Lihat saja begitu kuatnya pengaruh Amerika sehingga banyak orang Indonesia berbahasa Inggris dengan aksen Amerika padahal mereka tidak pernah tinggal di sana.
  • Australia, satu-satunya negara ‘barat’ di kawasan Asia, mungkin merupakan salah satu negara tetangga yang punya kepentingan supaya Indonesia aman, tidak ricuh, dan tetap mengakui NKRI.
  • Semua rakyat Indonesia harus memastikan jangan sampai campur tangan asing ikut bermain dalam pemilu kali ini, karena Pemilu ini menentukan apakah Indonesia akan maju menuju Indonesia Maju 2045 atau mundur kembali, yang mengakibatkan visi Indonesia Maju semakin jauh dan menjadi fatamorgana. Jadi apa dong ukuran memilih paslon 1, 2 & 3?
  • JEJAK LANGKAH! Jejak langkah tidak bisa dihapus. Betul manusia boleh berubah tapi karakter sulit atau hampir tidak bisa berubah. Kali ini jangan salah pilih, taruhannya terlalu besar yaitu Indonesia Maju 2045. Pikir tiga (3) kali sebelum ‘nyoblos!’ Berdoa, yoga, meditasi dulu sebelum ‘N Y O B L O S’!

Mari kita lihat dari ketiga paslon siapa yang paling pantas menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2024 – 2029 & bisa menyelamatkan Indonesia.

Paslon no 3: Ganjar Pranowo (tidak kenal & tak kedengaran berita buruk tentang dia) – Mahfud MD (kenal waktu beliau Melbourne beberapa tahun silam, punya jejak langkah bersih sejauh ini).

Paslon no 2: Prabowo Subianto (tak kenal & jejak langkah yang masih belum jelas; apakah dia yang memberikan perintah penculikan aktivis ‘98 atau dia dikorbankan ABRI?) – Gibran Rakabuming (terlalu muda mengurus Indonesia dan juga ditunjuknya dia sebagai cawapres bikin heboh).

Paslon no 1: Anies Baswedan (tak kenal & jejak langkahnya juga masih ada tanda tanya sedikit, tentang hasil kerjanya di DKI Jakarta & hubungannya dengan kelompok tertentu) – Muhaimin Iskandar (sosok yang tidak kedengaran berita buruk tentang jejak langkanya alias bersih).

Artikel ini mungkin merupakan artikel terakhir sebelum negeri yang bernama Indonesia yang kita cintai bersama ini mempunyai penguasa atau presiden baru periode 2024 – 2029! Semoga Tuhan kali ini tidak bosan-bosannya ikut campur menyelamatkan Indonesia. Akhirnya, siapapun yang terpilih nanti, itulah pasangan terbaik untuk Indonesia menuju Indonesia Maju/Emas.

Teks: Anton Alimin | Podcast Good Morning Indonesia with Poetry
ghazellapublisher@gmail.com

Catatan redaksi: Artikel di atas merupakan artikel opini kontributor OZIP dan tidak serta-merta mewakili lajur pendirian OZIP Magazine terhadap Pemilu 2024.