Imajinasi dan Sains, Bahan Bakar Kreativitas Seorang Dee Lestari

Berjalan sedikit tergesa, Dewi Lestari Simangunsong atau lebih dikenal dengan nama Dee Lestari menyapa beberapa orang yang sudah hadir di ruang T1 dan T2, Sir Louis Matheson Library Monash University, Kamis (13/6) lalu. Dee berada di kampus Monash University pagi itu untuk menghadiri acara kumpul-kumpul santai bersama beberapa akademisi, Indonesianis, dan mahasiswa Monash University. Dee sebenarnya diundang oleh Herb Feith Indonesia Engagement Centre (HFIEC) sebagai pembicara dalam acara Herb Feith Dialogue, kegiatan teranyar HFIEC yang kelak akan dilaksanakan rutin ke depannya. Sebagai pendahuluan, panitia acara kemudian membuat sebuah pertemuan kecil informal khusus untuk menyambut kedatangan novelis kenamaan Indonesia tersebut. 

OZIP berkesempatan hadir dalam acara tersebut dan mengobrol dengan Dee, yang dalam acara kumpul-kumpul kemarin berbagi tentang perjalanannya menulis sejak kecil hingga di titik ia berada saat ini.

Berawal dari hobi

“Saya memang dari kecil suka sekali menulis,” ujarnya membuka perbincangan. Sejak masih duduk di bangku SD, Dee sudah menunjukkan minat pada penulisan dan selalu menanam angan-angan bahwa suatu saat nanti, karyanya akan dipajang di toko buku. Beranjak remaja, Dee mulai memberanikan diri mengirimkan tulisan ke berbagai majalah remaja populer. Namun, jalannya tidak mulus. Ia harus menerima pahitnya penolakan demi penolakan, berulang-ulang.

Dee kemudian menguji peruntungannya di bidang lain: dunia tarik suara. Dengan suara emasnya, Dee membentuk trio vokal bersama Rida Farida dan Indah Sita Nursanti yang kemudian terkenal dengan nama grup Rida Sita Dewi (RSD). RSD sempat mengudara di kancah musik Indonesia selama sekitar satu dekade (1994-2003), melahirkan 4 album dan 2 single, termasuk sejumlahlagu nge-hits seperti Antara Kita, Masih Ada, Datanglah, dan Kusadari.

Bergelut di dunia musik tidak membuat Dee melupakan hobinya menulis. Honornya menyanyi bahkan ia gunakan untuk membeli laptop agar ia bisa menulis lebih mudah. Menjelang akhir era ’90-an, laptop masih merupakan barang langka. Bendanya tak mudah didapat, harganyapun tidak mudah dijangkau. Namun Dee mantap membeli laptop dan menuangkan gagasan serta hasratnya menulis lewat gawai tersebut. Dari laptop itulah lahir cerpen Filosofi Kopi dan Perahu Kertas (yang kelak diterbitkan masing-masing dalam bentuk buku kumpulan prosa dan novel).

Mencari tantangan, mewujudkan mimpi 

Setelah melewatkan beberapa tahun masa mudanya sebagai penyanyi, Dee merasa membutuhkan tantangan baru. “Saat itu, semuanya terasa terlalu mudah. Semua pintu di dunia musik seperti terbuka dengan mudahnya untuk saya. Saya ingin mencicipi tantangan lain,” ujarnya.

Di titik itulah, ia kemudian mulai memfokuskan diri untuk menulis. Ia memulainya dengan membaca. “Kala itu, tiba-tiba saja saya tertarik dengan Fisika Kuantum dan astronomi,” katanya. Dulu, hidup kita belum dibanjiri informasi dari internet seperti saat ini, karenanya Dee melakukan riset dan mencari referensi pendukung melalui buku. “Saya beli sejumlah buku mengenai tema-tema itu, lalu saya baca semuanya.”

Berbekal data yang diperolehnya melalui riset, Dee pun menulis dan menulis, hingga rampunglah kisah Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. “Saya kemudian berpikir, saya ingin menerbitkan novel ini. Bukan untuk apa-apa, saya hanya ingin memberi hadiah ulang tahun ke-25 bagi diri sendiri. Selain itu, saya ingin mewujudkan mimpi saya, sekali seumur hidup.” 

Maka, dengan bantuan dua kawan baiknya, Dee kemudian menerbitkan Supernova secara independen. Mereka mengurus semuanya sendiri, dari desain hingga percetakan. Dee bahkan menguras tabungannya untuk membiayai semua proses penerbitan buku “sekali seumur hidup” itu. “Saya akhirnya berhasil menerbitkan buku sendiri, tapi jadinya saya nggak punya duit lagi,” selorohnya.

Awal tahun 2001, Supernova resmi diterbitkan sekaligus menandai debut pertama Dee. Penerbitannyadilakukan tanpa mimpi yang muluk, melainkan sekadar wujud kenaifan, kepolosan, dan kemurnian Dee untuk mewujudkan mimpi. Tapi, tanpa disangka, novel yang membungkus ilmu filsafat, sains, psikologi, dan astronomi dalam sebuah kisah roman ini diserap cepat oleh pasar pembaca Indonesia. Sebanyak 12.000 eksemplar novel habis dalam waktu sebulan saja.

Mengawinkan imajinasi dengan sains

Hingga kini, sudah ada 12 karya yang lahir dari tangan Dee Lestari. Selain saga Supernova (6 jilid), ada pula kumpulan prosa Filosofi Kopi dan Madre, novel Aroma Karsa, serta yang terbaru Di Balik Tirai Aroma Karsa yang berisi perjalanan Dee dan kisah di balik layar penulisan Aroma Karsa.Dalam setiap karyanya, Dee selalu menjadikan sains dan riset sebagai elemen penting dalam bangunan cerita. Tak berlebihan jika kemudian Dee diidentikkan dengan karya fiksi ilmiah. Dari mana ide itu datang dan bagaimana proses menulisnya hingga terasa meyakinkan bagi pembaca?

“Saya selalu menulis apa yang ingin saya baca,” tuturnya. “Ketika menulis Filosofi Kopi, misalnya, saya menyadari bahwa tidak banyak fiksi Indonesia yang mengangkat tentang kopi Indonesia, padahal negara kita punya harta karun kopi yang amat berharga. Begitu juga dengan Aroma Karsa. Rasanya belum ada novel yang menjadikan indera penciuman sebagai sentral kisah. Nah, dari ketiadaan itu, saya berangkat untuk mencari informasi lebih dalam. Kemudian, karena saya menulis fiksi, semua itu saya gabungkan dengan imajinasi yang saya miliki,” katanya lagi.

Imajinasi dan sains memang telah menjadi bahan bakar penting atas kerja kreatif Dee selama hampir dua dasawarsa ini. Kerja kreatif itu berbuah manis. Hingga kini, Dee telah mengantongi beberapa penghargaan termasuk Nominasi Khatulistiwa Award, Karya Sastra Terbaik versi Majalah Tempo 2006, Penghargaan Sastra 2012 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, serta Book of The Year IKAPI untuk 2016 dan 2018. Belum lagi festival-festival buku dan literasi level internasional yang diikutinya. Supernova jilid I dan Perahu Kertas bahkan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

Selanjutnya, apa lagi?

“Saya ingin menulis novel untuk pembaca muda, usia SMP-SMA. Saya merasa mereka adalah pembaca potensial. Mereka membutuhkan bacaan yang baik, karena mereka yang akan mewarisi tradisi literasi bangsa kita,” pungkasnya.

Teks dan foto: Pratiwi Utami