• From Aceh to Jakarta: Sam’s Motorcycle Adventure »

    In support of the Victorian Heart Foundation, I undertook a motorbike journey during August and September of this year. I have always been a keen motorcycle rider, especially while living in Indonesia. I had spent six months studying at Gadjah Mada University, during which time, I took to the roads of Central Java for a few nights at a time. However, this trip would be substantially more arduous and risky.  (more…)

  • Kuliner Indonesia di Adelaide:Indonesian Cuisine In Adelaide »

    Jumlah restoran Indonesia di Adelaide tidak sebanyak rumah makan yang berasal dari negara Asia lainnya. Menurut pemilik restoran De Sate, Astari Kusumawardani, jumlah restoran Indonesia yang ia temui saat tiba di Adelaide hanya ada satu dan merujuk ke target pasar kalangan atas. Hal ini nampaknya menjadi peluang dan tantangan bagi gadis kelahiran Jakarta untuk membuka restoran De Sate yang menyasar kalangan pelajar dan warga lokal sejak dua tahun lalu. (more…)

  • Seharusnya Kita Bisa “Mengalahkan” Thailand »

    Listrik, sejarah, dan rumah makan adalah tiga hal yang sepintas tidak berhubungan satu sama lain. Tapi renungkanlah sejenak. Dengan listrik, ruangan yang gelap menjadi terang benderang. (more…)

  • “Ini Masalah Persepsi yang Harus Diatasi – It’s a Perception Issue Needs to Move On” »

    (Acara Perwira) Selalu meriah! Saya sudah mencoba cendol dan bakso. Kali ini tahun ketiga saya hadir dan setiap tahun terus berkembang. Ada lebih banyak makanan dan stall. Nunung (dan Perwira) telah melakukan pekerjaan besar. Saya pikir ini penting. (more…)

  • Promosi Makanan Melalui Festival »

    Banyak cara untuk mempromosikan makanan, di antaranya melalui pelaksanaan festival. Dalam setiap festival budaya Indonesia di Australia, aneka makanan Nusantara selalu menjadi pavorit. Bagi warga Indonesia, aneka jajajan dan penganan itu adalah obat rindu kampung halaman. Sementara bagi warga non-Indonesia, datang ke festival itu menjadi wisata kuliner yang menantang.

    (more…)

  • Mereka (Sebenarnya) Suka Makanan Indonesia-They (Actually) Like Indonesian Food »

    Indonesia memiliki semua modal dasar untuk menjadi pemain dunia di bidang kuliner. Ragam menu dan variasi rasa makanan Nusantara adalah yang terkaya di dunia. Setiap sudut bumi Indonesia memiliki makanan khas dengan bahan dasar ikan, daging, umbi-umbian, dan sayur-mayur. Bahkan di tengah trend makanan sehat non lemak, variasi menu organik terus berkembang, baik dari menu tradisi maupun hasil kreasi para juru masak masakini. (more…)

Recent Posts

Christmas 2014 Message From The Prime Minister

18 December, 2014

  Christmas is a time to gather with family and friends, and to give thanks for everything we have. It is a joyous time – but it can be a...

Recent Posts Thumbs

  • From Aceh to Jakarta: Sam’s Motorcycle Adventure
  • Kuliner Indonesia di Adelaide:Indonesian Cuisine In Adelaide
  • Seharusnya Kita Bisa “Mengalahkan” Thailand
  • “Ini Masalah Persepsi yang Harus Diatasi – It’s a Perception Issue Needs to Move On”
  • Promosi Makanan Melalui Festival
  • Mereka (Sebenarnya) Suka Makanan Indonesia-They (Actually) Like Indonesian Food
  • Cover Story – Michelle & Sophie : Promosi Makanan Sehat Indonesia

First Column

Christmas 2014 Message From The Prime Minister

18 December, 2014

  Christmas is a time to gather with family and friends, and to give thanks for everything we have. It is a joyous time – but it can be a...

Second Column

PADANG  KITCHEN – Cooking with Heart

PADANG KITCHEN – Cooking with Heart

20 October, 2014

Dapur masakan Indonesia,   cita rasa masakan rumahan Pada mulanya Dian Bahroelim, wanita Padang berusia 40 tahun datang ke Australia untuk menemani suami yang bekerja di sebuah perusahaan pertambangan di Western...

First Column

Interview with GM Garuda Indonesia-Melbourne – Bobby Rusyandi

Interview with GM Garuda Indonesia-Melbourne – Bobby Rusyandi

19 March, 2014

Bagi orang Indonesia, Melbourne adalah salah satu tujuan paling menarik untuk mengenyam pendidikan maupun memulai karier. Dengan populasi warga Indonesia yang meningkat tiap tahunnya, Melbourne telah menjadi salah satu pusat...

Second Column

Soundsekerta 2014: Limitless Indonesia

Soundsekerta 2014: Limitless Indonesia

12 October, 2014

Antrian panjang di depan Melbourne Town Hall (MTH) menunjukkan antusiasnya masyarakat Indonesia pada Minggu petang, 14 September 2014 itu. Gate yang di buka pada jam 6 sore sudah dipenuhi penonton...

Third Column

Bisnis dan Popularitas

18 December, 2014

Kian populer produknya, makin menjamur bisnisnya di Australia. Di negara dimana industri jasanya kini tengah naik daun ini, bisnis restoran tergolong masih lumayan (jika tidak bisa dibilang amat) menjanjikan. Menilik...

From Blog

Culture
December 18, 2014

Christmas 2014 Message From The Prime Minister

PM & Mrs Abbott-2

 

Christmas is a time to gather with family and friends, and to give thanks for everything we have.

It is a joyous time – but it can be a sad time, especially for people who have lost loved ones during the year.

This year we are thinking of those families bereaved by the siege in Martin Place, and the loss of Flights MH 370 and MH 17.

Our hearts go out to all affected by these most tragic incidents.

We are also thinking of farmers in drought affected areas whose futures and homes depend on good rains.

Christmas is a time to reach out – to those who have had a difficult year, as well as those who, for whatever reason, are doing it tough.

This Christmas, I acknowledge the significant contribution that Australia’s multicultural communities make to our nation.

We are a nation with an Indigenous heritage, a British foundation and a multicultural character. Together, we have found unity in our diversity and respect in our differences.

Christmas is a time to reflect and resolve; to count our blessings and look forward to a stronger future ahead.

From my family to yours, I wish you a safe and merry Christmas.

 

The Hon. Tony Abbott MP

Prime Minister of Australia

Biz Sharing
December 18, 2014

Bisnis dan Popularitas

Daru-ozip

Kian populer produknya, makin menjamur bisnisnya di Australia. Di negara dimana industri jasanya kini tengah naik daun ini, bisnis restoran tergolong masih lumayan (jika tidak bisa dibilang amat) menjanjikan. Menilik kebutuhan dan selera makan masyarakat Australia, bisnis makanan boleh dibilang “tidak ada matinya”. Yang pasti, semua orang butuh makan. Menu masayarakat Australia semakin beragam dengan hadirnya masakan-masakan Asia. Jumlah rumah makan, depot, kedai, warung, atau apapun nama sejenisnya bernuansa Asia yang menyuguhkan masakan masing-masing bangsa terus bertambah.

 

Popularitas masakan Asia di Australia terus meningkat. Restoran-restoran Cina dan India, contohnya, banyak ditemui di berbagai wilayah, sampai yang cukup ke pelosok sekalipun. Masyarakat Australia memperoleh bermacam pilihan ragam masakan bukan hanya dari kedua negara Asia tersebut dan bisa memilih bersantap di rumah makan kelas atas hingga warung kelas take-away. Selain masakan Cina dan India, masayarakat Australia juga kian akrab dengan masakan-masakan asal Thailand, Jepang, Malaysia, Vietnam, Korea, Indonesia dan Srilangka.

 

Kalau kita mau sekedar membuat peringkat, sebagaimana termuat dalam satu blog yang didedikasikan untuk seni dan budaya Asia-Australia, diantara masakan bangsa-bangsa Asia, posisi masakan Indonesia ada di urutan bawah dalam 10 besar. Di bilangan Asia Tenggara, masakan Indonesia berada di belakang Thailand, Malaysia dan Vietnam. Masakan Thailand (setelah Cina dan India, masing-masing peringkat pertama dan kedua) dan Malaysia (setelah Jepang yang bertengger di urutan keempat) masuk 5 besar masakan terpopuler di Australia.

 

Beberapa dekade belakangan ini, popularitas masakan Thailand terlihat melejit, bersaing dengan masakan Cina dan India di Australia. Berdasarkan data yang diambil dari Universitas Sydney, jumlah bisnis restoran Thailand mencapai lebih dari tiga ribu dan seperempatnya berlokasi di Sydney. Di luar Thailand, populasi orang Thailand di Sydney tercatat terbesar kedua setelah Los Angeles, Amerika Serikat.  

 

Lantas, bagaimana halnya dengan restoran Indonesia? Jumlahnya memang ternyata tidak sebanyak restoran Thailand. Diperkirakan, jumlah restoran Indonesia di Australia tidaklah mencapai seribu. Kendati Bali adalah tujuan wisata yang lebih populer ketimbang Thailand bagi warga Australia, tetapi Indonesia tampaknya tidaklah demikian. Begitupun dengan masakan Indonesia, kurang populer dan kalah mendunia dibandingkan dengan masakan Thailand. Sementara, masakan Bali lebih tidak populer lagi dan jumlah restorannya tidak banyak pula. Padahal, letak Indonesia lebih dekat ke Australia daripada Thailand.

 

Popularitas masakan bukanlah satu-satunya yang menentukan kehadiran bisnis restoran dari negara Asia tertentu. Populasi asal suatu bangsa di Australia juga berperan dalam hal ini. Orang-orang Cina dan India adalah dua kelompok bangsa Asia terbesar. Jumlah mereka yang besar ini turut mendorong berdirinya bisnis-bisnis restoran Cina dan India di Australia. Namun, jumlah orang Thailand dan Jepang tidaklah banyak di berbagai wilayah Australia. Toh, masakan-masakan asal Thailand dan Jepang hampir menyaingi kepopuleran masakan-masakan Cina dan India.

 

Berbeda dengan restoran Cina atau India, banyak restoran Thailand dan Jepang yang dikelola dan diawaki oleh orang-orang non-Thailand dan Jepang. Orang-orang Cina dan India, selain bangsa Anglo, juga berada di belakang sejumlah bisnis restoran Thailand dan Jepang. Dari pengamatan sekilas, mereka yang bekerja sebagai manajer dan bahkan juru masak (chef) di restoran-restoran ini tidaklah selalu orang-orang Thailand dan Jepang. Sedangkan restoran-restoran khas Indonesia (atau Bali) pada umumnya dikelola dan diawaki oleh orang-orang Indonesia, yang jumlahnya juga tidak banyak di Australia. Kurangnya jumlah restoran Indonesia di negara ini dikarenakan tidak terdukung baik dari sisi popularitas masakan maupun populasi warganya.

Satu hal lain yang ikut menentukan belum cukup banyaknya restoran Indonesia dibandingkan Cina, India, Thailand, atau Jepang di Australia adalah budaya kewirausahaan di kalangan orang-orang Indonesia yang bermukim di Australia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan orang Indonesia lebih memilih menjadi profesional ketimbang wirausahawan/wati. Berbisnis memang kompleks, dan masih kurangnya popularitas dan populasi membuat persaingan tersendiri dalam bisnis restoran Indonesia di sini.

 

.

Hendrarto Darudoyo

Praktisi Bisnis

From Aceh to Jakarta: Sam’s Motorcycle Adventure
Ozip Travel
December 11, 2014

From Aceh to Jakarta: Sam’s Motorcycle Adventure

In support of the Victorian Heart Foundation, I undertook a motorbike journey during August and September of this year. I have always been a keen motorcycle rider, especially while living in Indonesia. I had spent six months studying at Gadjah Mada University, during which time, I took to the roads of Central Java for a few nights at a time. However, this trip would be substantially more arduous and risky.  (more…)