• Perputaran Kehidupan »

    Andrie Wongso

    History doesn’t repeat, but it rhymes.  Mark Twain (1835-1910)

     

    Ada ungkapan, hidup laksana sebuah roda. Artinya, selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Yang jadi masalah adalah bagaimana kalau saat berada di bawah kelamaan? Apa tidak jadi beban yang berkepanjangan? Di sinilah sebenarnya kekuatan seseorang diuji. Sebab, saat di bawah itulah, pilihan paling memungkinkan hanyalah berputar naik. Artinya, saat berada di level paling bawah, sebenarnya kita sedang “mengumpulkan energi” untuk naik ke atas.
    (more…)

  • Imigrasi, Populasi, dan Pertumbuhan Ekonomi »

    Hendrarto Darudoyo

    Peneliti dan Penulis

    Tahukah anda, tahun 2030-an diproyeksikan bahwa kemungkinan bakal lebih banyak warga Australia yang wafat ketimbang mereka yang lahir? Australia termasuk negara-negara dengan populasi yang menua, dimana jumlah warga berusia 65 tahun keatas semakin meningkat. Sementara, sebagai bangsa yang bukan penganut prinsip “banyak anak, banyak rejeki”, tingkat kelahiran di negeri ini terbilang masih rendah. Kurang penduduk juga berarti kurangnya mereka dari usia kerja. Kecenderungan demikian dapat menjurus kepada kelangkaan tenaga kerja, naiknya biaya-biaya kesehatan dan kesejahteraan, berkurangnya pertumbuhan ekonomi, serta turunnya standar hidup warga Australia.
    (more…)

  • Kenangan Indah di Wheelers Hill Library »

    Oleh AM. Sidqi

    Saat Anda membaca tulisan ini, aku sudah kembali ke Tanah Air. Jadi tulisan ini semacam mengenang salah satu tempat favoritku selama tinggal di Victoria, bahkan favorit kami sekeluarga, atau bisa juga alasan kami betah di Victoria. Ini hanyalah sebuah perpustakaan lokal di Kota Monash, Wheelers Hills Library namanya, sekitar 35 km dari Kota Melbourne. Kami bisa membaca, menulis, menggambar atau sekedar online menghabiskan waktu sambil menikmati pemandangan dari sebuah ruangan berdinding kaca. Kalau biasanya banyak orang di Indonesia mengisi akhir pekan dengan menyesaki mall dan pusat pembelanjaan, karena hampir tidak ada pilihan lain; di Victoria, perpustakaan lokal menjadi salah satu pilihan untuk hang out di akhir pekan. Tentu saja mall juga tetap ramai, walau tidak sesesak di Jakarta.

    Sering kali, kami sekeluarga berlibur menghabiskan akhir pekan di perpustakaan Wheelers Hills. Biasanya kami tidak sendiri. Para mahasiswa sudah sejak pagi hari menguasai cubical atau meja-meja di sekitar colokan listrik, membuka laptop, memasang earphone, dan setumpuk buku di sampingnya. Sementara para warga senior datang untuk sekedar membaca koran atau novel. Dan para orang tua pun tidak ingin ketinggalan mengajak anak-anaknya ke pojok khusus Kids Space. Untungnya masih ada meja tersisa menghadap dinding kaca. Segera kami membuka lapak dan larut dengan urusan masing-masing: aku menulis thesis, Mia istriku yang keren merampungkan buku memasaknya, dan Athar anak kebanggaan kami menggambar sambil bulak-balik mengumpulkan buku-buku dari pojok anak-anak.

    Aku ingat ketika itu, Mia masih sibuk dengan draf buku memasaknya dan Athar masih mencorat-coret kertas putih. Menurut Athar, ia sedang menggambar pesawat di antara awan-awan. Pada mulanya, aku khawatir Mia dan Athar akan terenggut kehidupannya di Tanah Air demi “menemaniku” sekolah di Monash University. Mia memang lebih pintar dari aku. Semasa sekolah dulu, Mia adalah siswa teladan Jawa Barat dan mahasiswa berprestasi di Universitas Indonesia. Perlahan kekhawatiranku sirna ketika menemukan perpustakaan lokal serupa Wheelers Hills ini. Tidak hanya di Wheelers Hills, perpustakaan-perpustakaan lokal juga terdapat di berbagai suburb (semacam kecamatan) yang dikelola oleh Pemerintah Kota Monash, yaitu Clayton, Glen Waverley, Mount Waverley, Mulgrave Neighbourhood, Oakleigh, dan Monash Federation Centre. Perpustakaan-perpustakan ini seolah berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi warga secara cuma-cuma. Untuk anak-anak, jejaring perpustakaan ini rutin mengadakan pembacaan cerita (story telling), program liburan sekolah, klub mengerjakan tugas sekolah, lomba menulis, dan program menarik lainnya. Sedangkan untuk dewasa, macam ragam program dirancang bervariasi, dari mulai klub membaca, kelas melukis, merajut, klub percakapan bahasa Inggris bagi penutur asing (conversation circle), pelajaran bahasa lain, pelatihan komputer, internet, IELTS, dan lain sebagainya.

    Selain paling indah dibandingkan perpustakaan kecamatan lainnya di Kota Monash, hanya Wheelers Hills terdapat Monash Gallery of Art. Sekitar bulan Februari lalu, produk budaya dan seni Indonesia juga turut dipamerkan di sini. Kalau Wheelers Hills boleh berbangga karena punya Monash Gallery of Art, Clayton Community Center tidak mau kalah dengan fasilitasnya sangat lengkap disamping perpustakaan, seperti, pusat kesehatan ibu dan anak (maternity and child health), gymnasium, kolam renang, taman kanak-kanak (pre-school), penitipan anak (child care), theatter, klub lansia (senior club) juga klub berbasis hobi dan etnis.

    Lebih jauh lagi, kekhawatiranku Mia dan Athar akan “putus sekolah” sementara menemaniku sekolah sirna begitu mengetahui program-program di Community Centre ini. Sekitar bulan November 2013, Mia sangat rajin berkeliling dari satu perpustakaan ke perpustakan untuk mengikuti kelas percakapan conversation circle. Ia ingin bahasa Inggrisnya semakin lancar sebelum mengikuti ujian instruktur untuk pijat bayi di Royal Melbourne Hospital. Pernah juga, Mia dan teman-temannya pernah mengikuti seminar tentang zat adiktif pada makanan anak di Wheelers Hills library. Sedangkan sebelum masuk kinder, Athar rutin kami ajak ke program story telling di setiap perpustakaan di Kota Monash. Ia paling senang jika diajak ke Oakleigh library karena story teller-nya yang ekspresif dan energik. Elleen namanya. Usut punya usut, ternyata Neng Elleen ini pernah menjuarai lomba story telling dan menyabet gelar story teller terbaik di Victoria. Menariknya, semua program-program itu gratis alias tanpa biaya sama sekali! Bermodal dengkul dan mengantongi niat, kita bisa menikmati semua fasilitas dari negara ini.

    Tidak hanya programnya yang gratis, para relawan juga diundang untuk mengisi program-program di perpustakaan tanpa bayaran, seperti pemandu conversation cirlce biasanya seorang mahasiswa, juga pemandu kelas merajut biasanya berasal dari klub merajut di kecamatan setempat, dan demikian seterusnya. Sehingga label community center betul-betul berbasis komunitas, dan negara cukup menfasilitasinya.

    Ringkas kata, setiap warga Kota Monash difasilitasi untuk belajar dan mengembangkan keterampilannya masing-masing melalui perpustakaan yang tersebar di setiap suburb. Mungkin inilah mengapa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Australia, menurut United Nations Development Programme (UNDP), menduduki peringkat ke-2 dunia, sementara Indonesia masih terus berjuang agar keluar dari peringkat ke-121.

    Aku heran melihat Australia ini. Bukankah orang bilang leluhur negeri ini adalah para bandit? Namun mengapa kini bisa menduduki peringkat ke-2 dalam indeks pembangunan manusia dunia. Sementara bangsa kita senang sekali mengulang-ulang sejarah adiluhung para leluhur, tapi jauh panggang dari api.

    Mungkin salah satu sebabnya karena pembangunan Community Center di Victoria ini yang masif, sistematis, dan terstruktur dalam memfasilitasi dan membuka berbagai ragam kesempatan bagi setiap warga negara agar menjadi pembelajar sejati sesuai minat hanya dengan bermodal niat. Dalam konteks Indonesia, penjaminan pasal 31 UUD 1945 bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan mungkin salah satunya dapat diterjemahkan ke dalam bentuk community center seperti di Victoria ini. Pemerintah dan pemerintah daerah yang diwajibkan memprioritaskan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD, aku yakin, bukan tidak mungkin membangun pusat-pusat komunitas yang jauh lebih baik dari yang dimiliki Kota Monash.

    [caption id="attachment_2820" align="alignright" width="150"]AM Sidqi-OZIP AM Sidqi.[/caption]

    Hanya masalahnya adalah keberpihakan. Tidak perlu pening memikirkan siapa yang akan menjalankan community center jika dibangun di Tanah Air. Jiwa kerelawanan (volunteerism) yang ditunjukan oleh para relawan di Rumah Dunia dan community center di Victoria menjadi bukti bahwa masyarakat sudah mandiri dan kreatif untuk meminyaki program, tinggal pemerintah berpihak dan bersungguh-sungguh memfasilitasinya.

    Aku percaya, orang Indonesia itu bukan hanya kreatif, tetapi super kreatif. Aku membayangkan, jika pusat komunitas seperti Wheelers Hills dibangun dengan fasilitas lengkap oleh masing-masing pemerintah daerah di seantero kepulauan Nusantara, maka kita akan menyaksikan kelahiran penulis seimajinatif Rowling dari Samarinda, pujangga sekaliber Tagore dari Pekanbaru, ilmuwan secerdas Habibie dari Sigli, pejuang kemanusiaan setulus Niteangel dari Poso, hukum dan politik kita disucikan oleh negarawan-negarawan sekelas Gandhi, Mandela, dan Mohammad Hatta dari tiap-tiap pulau Indonesia. Setiap warga negara tanpa terkecuali bisa merayakan apapun yang diinginkannya karena kesempatan yang dibuka seluas-luasnya oleh negara.

    O, alangkah indahnya!

     

    Foto: AM. Sidqi

  • Pako Festa – Pesta Budaya Terbesar di Australia »

    Diversitat Pako Festa adalah perayaan terbesar keanekaragaman budaya di Australia. Dimulai sejak 1983, Pako Festa telah menyatukan banyak orang dari Geelong dan sekitarnya, seniman profesional, kelompok masyarakat, sekolah, pelaku bisnis, pedagang kaki lima, dan seniman dari seluruh lapisan, menghadirkan satu perayaan besar yang menakjubkan.
    (more…)

  • Diplomasi di Panggung Puisi – Diplomacy on the Poetry Stage »

    Diplomasi di Panggung Puisi – Diplomacy on the Poetry Stage

     

    Di jalan seueur mobil. Badé arangkat ka mana ari mobil?

    Mobil badé arameng. Da ayeuna téh dinten Minggu.

     

    Di jalan banyak mobil. Mau berangkat ke mana mobil itu?

    Mobil mau bermain. Sebab sekarang hari Minggu.

     

    There are lots of cars in the street. Where are they going?

    Cars are cruising. Today is Sunday.

    (Si Ujang Jalan-jalan/Cruising)

     

    (more…)

  • Clayton Street Festival – Dari Kopi Hingga Orkes Jawi »

    Festival budaya di seputar Melbourne, Victoria itu tak ada habisnya. Terus mengalir seperti air dalam setahun dengan keunikan acara di empat musim yang berbeda. Anda yang tinggal sementara untuk belajar atau bekerja, tak akan bisa menyaksikan semua sajian budaya itu. Tidak perlu jauh-jauh, di sekitar tempat anda tinggal, pasti ada festival local. Seperti di Clayton, kota tempat kampus Monash University berdiri.
    (more…)

  • Menuju Diplomasi Agama – Towards Religious Diplomacy »

    Menjaga iman di Australia itu ternyata penuh tantangan. Demikian terbaca dari penuturan para pemuka agama dalam laporan utama OZIP kali ini. Beribadah ke gereja, sekalipun hanya seminggu sekali, ternyata tak semudah dibayangkan. Minggu adalah hari keluarga, saat-saat terbaik untuk menemani pasangan hidup atau anak-anak setelah sepekan sibuk bekerja.
    (more…)

  • Pentingnya Wadah Lintas Agama & Etnik – The Importance of Across Religious and Ethnical Forum »

    Foto sampul: Dr Asmi Wood, Associate Profesor Nadirsyah Hosen, dan Associate Professor Greg Fealy, dalam seminar ”Muslims in Australia after the Sydney Siege” di ANU, Canberra (26/2/15).

    Associate Professor Nadirsyah Hosen

    Pegiat Interfaith Dialog/Interfaith Dialogue Activist

     

    Semakin makmur sebuah negara maka kian jauh penduduknya dari agama. Demikian menurut survey Pippa Norris dan Ronald Inglehart yang dilakukan di 80 negara. Semakin masyarakat merasa aman dengan ekonomi dan masa depan, mereka semakin sekuler. Sepinya gereja-gereja di Australia misalnya, menjadi bukti kebenaran survey itu. Namun, lain halnya dengan para pendatang Indonesia. Sekalipun sebagian dari mereka sudah makmur kehidupannya, ternyata masih setia mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Seseorang yang tadinya rajin beribadah, saat pindah ke Australia tetap menjaga ketaatannya itu. Sementara ada juga yang tadinya jauh dari agama, setelah pindah ke sini justru merasa hidupnya kurang bermakna dan menemukan kedamaian dalam kegiatan-kegiatan agama. Apalagi sistem kerja di Australia memungkinkan seseorang memiliki waktu untuk aktif dalam kegiatan agama dan masyarakat. Terlebih lagi bagi mereka yang sudah pensiun.
    (more…)

  • Beribadah di Gereja itu Kadang Tidak Mudah – Worship at Church is Sometimes Not Easy »

    Pdt. Kuncoro Rusman

    Indonesian Congregation Camberwell

    Australia adalah negera yang dihuni oleh banyak bangsa pendatang dari pelbagai negara. Termasuk salah satu pendatangnya adalah dari Indonesia. Untuk orang Indonesia bukan hanya mempraktekan kebudayaan dan adat istiadat akan tetapi juga terus berusaha menjalankan perintah agama mereka sesuai dengan iman masing-masing. Saya ingin menggambarkan kegiatan warga Kristen Indonesia yang tinggal di Melbourne dan sekitarnya, dengan mengambil contoh Jemaat Indonesia yang saya layani dan pimpin di Gereja St John’s Anglican Camberwell.
    (more…)

  • Kita Berpikir dan Bertindak demi Kemajuan Indonesia – We Think and Act for the Progress of Indonesia »

    Ustadz Hamim Jufri

    Pengurus (Committee) IMCV

    Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV) adalah wadah organisasi yang menaungi seluruh kegiatan di lingkungan masyarakat Muslim Indonesia di wilayah Victoria. Kegiatannya cukup berragam, mulai dari kegiatan kegamaan (kajian keislaman dan pelaksanaan ritual keagamaan), kegiatan sosial, dan pendidikan. Semuanya berpusat di tiga centre yaitu Masjid Westall di Westall, Surau Kita di Coburg, dan Baitul Makmur di Laverton. Secara pribadi saya saat ini diamanahi memimpin program Beasiswa IMCV, yang tugas pokoknya adalah menyalurkan zakat, sedekah dan donasi lainya untuk memberi beasiswa pendidikan (scholarship) kepada anak-anak kurang mampu di Indonesia. Saat ini kami memberikan bantuan untuk 148 anak yang tersebar di seluruh Indonesia. Ke depan kami akan tingkatkan jumlah dan juga kualitas dari program ini.
    (more…)

Recent Posts

Perputaran Kehidupan

Perputaran Kehidupan

01 April, 2015

Andrie Wongso History doesn’t repeat, but it rhymes.  Mark Twain (1835-1910)   Ada ungkapan, hidup laksana sebuah roda. Artinya, selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Yang jadi masalah...

Recent Posts Thumbs

  • Perputaran Kehidupan
  • Imigrasi, Populasi, dan  Pertumbuhan Ekonomi
  • Kenangan Indah di Wheelers Hill Library
  • Pako Festa – Pesta Budaya Terbesar di Australia
  • Diplomasi di Panggung Puisi – Diplomacy on the Poetry Stage
  • Clayton Street Festival – Dari Kopi Hingga Orkes Jawi
  • Menuju Diplomasi Agama – Towards Religious Diplomacy
  • Pentingnya Wadah Lintas Agama & Etnik – The Importance of Across Religious and Ethnical Forum
  • Beribadah di Gereja itu Kadang Tidak Mudah – Worship at Church is Sometimes Not Easy
  • Kita Berpikir dan Bertindak demi Kemajuan Indonesia – We Think and Act for the Progress of Indonesia
  • Menjaga Iman Selalu Ada Tantangannya – Keeping Faith is Always a Challenge
  • Monash Beri Gelar kehormatan untuk Kevin Soetjipto

First Column

Kenangan Indah di Wheelers Hill Library

Kenangan Indah di Wheelers Hill Library

28 March, 2015

Oleh AM. Sidqi Saat Anda membaca tulisan ini, aku sudah kembali ke Tanah Air. Jadi tulisan ini semacam mengenang salah satu tempat favoritku selama tinggal di Victoria, bahkan favorit kami...

Second Column

Loenpia Semarang Ndoro Njonja

Loenpia Semarang Ndoro Njonja

23 February, 2015

Setiap kota di Indonesia pasti punya ciri khas makanan. Untuk kota Semarang, lumpia tentu harus disebut di depan. Cemilan ini memang khas dari ibukota Jawa Tengah itu. Pergi ke Semarang...

First Column

Indonesia Beruntung Bisa Bertetangga dengan Australia

Indonesia Beruntung Bisa Bertetangga dengan Australia

09 March, 2015

Ahmad Almaududy Amri Presiden PPIA Pusat 2014-2015 Ahmad Almaududy Amri, akrab disapa Dudy, terpilih sebagai Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Pusat pada Kongres PPIA XXI, 18-20 Juli 2014 di Brisbane....

Second Column

Clayton Street Festival – Dari Kopi Hingga Orkes Jawi

Clayton Street Festival – Dari Kopi Hingga Orkes Jawi

24 March, 2015

Festival budaya di seputar Melbourne, Victoria itu tak ada habisnya. Terus mengalir seperti air dalam setahun dengan keunikan acara di empat musim yang berbeda. Anda yang tinggal sementara untuk belajar...

Third Column

Imigrasi, Populasi, dan  Pertumbuhan Ekonomi

Imigrasi, Populasi, dan Pertumbuhan Ekonomi

30 March, 2015

Hendrarto Darudoyo Peneliti dan Penulis Tahukah anda, tahun 2030-an diproyeksikan bahwa kemungkinan bakal lebih banyak warga Australia yang wafat ketimbang mereka yang lahir? Australia termasuk negara-negara dengan populasi yang menua,...

From Blog

Perputaran Kehidupan
From Our Columnist
April 1, 2015

Perputaran Kehidupan

Andrie Wongso

History doesn’t repeat, but it rhymes.  Mark Twain (1835-1910)

 

Ada ungkapan, hidup laksana sebuah roda. Artinya, selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Yang jadi masalah adalah bagaimana kalau saat berada di bawah kelamaan? Apa tidak jadi beban yang berkepanjangan? Di sinilah sebenarnya kekuatan seseorang diuji. Sebab, saat di bawah itulah, pilihan paling memungkinkan hanyalah berputar naik. Artinya, saat berada di level paling bawah, sebenarnya kita sedang “mengumpulkan energi” untuk naik ke atas.
(more…)

Imigrasi, Populasi, dan  Pertumbuhan Ekonomi
Biz Sharing
March 30, 2015

Imigrasi, Populasi, dan Pertumbuhan Ekonomi

Hendrarto Darudoyo

Peneliti dan Penulis

Tahukah anda, tahun 2030-an diproyeksikan bahwa kemungkinan bakal lebih banyak warga Australia yang wafat ketimbang mereka yang lahir? Australia termasuk negara-negara dengan populasi yang menua, dimana jumlah warga berusia 65 tahun keatas semakin meningkat. Sementara, sebagai bangsa yang bukan penganut prinsip “banyak anak, banyak rejeki”, tingkat kelahiran di negeri ini terbilang masih rendah. Kurang penduduk juga berarti kurangnya mereka dari usia kerja. Kecenderungan demikian dapat menjurus kepada kelangkaan tenaga kerja, naiknya biaya-biaya kesehatan dan kesejahteraan, berkurangnya pertumbuhan ekonomi, serta turunnya standar hidup warga Australia.
(more…)

Kenangan Indah di Wheelers Hill Library
Culture
March 28, 2015

Kenangan Indah di Wheelers Hill Library

Oleh AM. Sidqi

Saat Anda membaca tulisan ini, aku sudah kembali ke Tanah Air. Jadi tulisan ini semacam mengenang salah satu tempat favoritku selama tinggal di Victoria, bahkan favorit kami sekeluarga, atau bisa juga alasan kami betah di Victoria. Ini hanyalah sebuah perpustakaan lokal di Kota Monash, Wheelers Hills Library namanya, sekitar 35 km dari Kota Melbourne. Kami bisa membaca, menulis, menggambar atau sekedar online menghabiskan waktu sambil menikmati pemandangan dari sebuah ruangan berdinding kaca. Kalau biasanya banyak orang di Indonesia mengisi akhir pekan dengan menyesaki mall dan pusat pembelanjaan, karena hampir tidak ada pilihan lain; di Victoria, perpustakaan lokal menjadi salah satu pilihan untuk hang out di akhir pekan. Tentu saja mall juga tetap ramai, walau tidak sesesak di Jakarta.

Sering kali, kami sekeluarga berlibur menghabiskan akhir pekan di perpustakaan Wheelers Hills. Biasanya kami tidak sendiri. Para mahasiswa sudah sejak pagi hari menguasai cubical atau meja-meja di sekitar colokan listrik, membuka laptop, memasang earphone, dan setumpuk buku di sampingnya. Sementara para warga senior datang untuk sekedar membaca koran atau novel. Dan para orang tua pun tidak ingin ketinggalan mengajak anak-anaknya ke pojok khusus Kids Space. Untungnya masih ada meja tersisa menghadap dinding kaca. Segera kami membuka lapak dan larut dengan urusan masing-masing: aku menulis thesis, Mia istriku yang keren merampungkan buku memasaknya, dan Athar anak kebanggaan kami menggambar sambil bulak-balik mengumpulkan buku-buku dari pojok anak-anak.

Aku ingat ketika itu, Mia masih sibuk dengan draf buku memasaknya dan Athar masih mencorat-coret kertas putih. Menurut Athar, ia sedang menggambar pesawat di antara awan-awan. Pada mulanya, aku khawatir Mia dan Athar akan terenggut kehidupannya di Tanah Air demi “menemaniku” sekolah di Monash University. Mia memang lebih pintar dari aku. Semasa sekolah dulu, Mia adalah siswa teladan Jawa Barat dan mahasiswa berprestasi di Universitas Indonesia. Perlahan kekhawatiranku sirna ketika menemukan perpustakaan lokal serupa Wheelers Hills ini. Tidak hanya di Wheelers Hills, perpustakaan-perpustakaan lokal juga terdapat di berbagai suburb (semacam kecamatan) yang dikelola oleh Pemerintah Kota Monash, yaitu Clayton, Glen Waverley, Mount Waverley, Mulgrave Neighbourhood, Oakleigh, dan Monash Federation Centre. Perpustakaan-perpustakan ini seolah berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi warga secara cuma-cuma. Untuk anak-anak, jejaring perpustakaan ini rutin mengadakan pembacaan cerita (story telling), program liburan sekolah, klub mengerjakan tugas sekolah, lomba menulis, dan program menarik lainnya. Sedangkan untuk dewasa, macam ragam program dirancang bervariasi, dari mulai klub membaca, kelas melukis, merajut, klub percakapan bahasa Inggris bagi penutur asing (conversation circle), pelajaran bahasa lain, pelatihan komputer, internet, IELTS, dan lain sebagainya.

Selain paling indah dibandingkan perpustakaan kecamatan lainnya di Kota Monash, hanya Wheelers Hills terdapat Monash Gallery of Art. Sekitar bulan Februari lalu, produk budaya dan seni Indonesia juga turut dipamerkan di sini. Kalau Wheelers Hills boleh berbangga karena punya Monash Gallery of Art, Clayton Community Center tidak mau kalah dengan fasilitasnya sangat lengkap disamping perpustakaan, seperti, pusat kesehatan ibu dan anak (maternity and child health), gymnasium, kolam renang, taman kanak-kanak (pre-school), penitipan anak (child care), theatter, klub lansia (senior club) juga klub berbasis hobi dan etnis.

Lebih jauh lagi, kekhawatiranku Mia dan Athar akan “putus sekolah” sementara menemaniku sekolah sirna begitu mengetahui program-program di Community Centre ini. Sekitar bulan November 2013, Mia sangat rajin berkeliling dari satu perpustakaan ke perpustakan untuk mengikuti kelas percakapan conversation circle. Ia ingin bahasa Inggrisnya semakin lancar sebelum mengikuti ujian instruktur untuk pijat bayi di Royal Melbourne Hospital. Pernah juga, Mia dan teman-temannya pernah mengikuti seminar tentang zat adiktif pada makanan anak di Wheelers Hills library. Sedangkan sebelum masuk kinder, Athar rutin kami ajak ke program story telling di setiap perpustakaan di Kota Monash. Ia paling senang jika diajak ke Oakleigh library karena story teller-nya yang ekspresif dan energik. Elleen namanya. Usut punya usut, ternyata Neng Elleen ini pernah menjuarai lomba story telling dan menyabet gelar story teller terbaik di Victoria. Menariknya, semua program-program itu gratis alias tanpa biaya sama sekali! Bermodal dengkul dan mengantongi niat, kita bisa menikmati semua fasilitas dari negara ini.

Tidak hanya programnya yang gratis, para relawan juga diundang untuk mengisi program-program di perpustakaan tanpa bayaran, seperti pemandu conversation cirlce biasanya seorang mahasiswa, juga pemandu kelas merajut biasanya berasal dari klub merajut di kecamatan setempat, dan demikian seterusnya. Sehingga label community center betul-betul berbasis komunitas, dan negara cukup menfasilitasinya.

Ringkas kata, setiap warga Kota Monash difasilitasi untuk belajar dan mengembangkan keterampilannya masing-masing melalui perpustakaan yang tersebar di setiap suburb. Mungkin inilah mengapa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Australia, menurut United Nations Development Programme (UNDP), menduduki peringkat ke-2 dunia, sementara Indonesia masih terus berjuang agar keluar dari peringkat ke-121.

Aku heran melihat Australia ini. Bukankah orang bilang leluhur negeri ini adalah para bandit? Namun mengapa kini bisa menduduki peringkat ke-2 dalam indeks pembangunan manusia dunia. Sementara bangsa kita senang sekali mengulang-ulang sejarah adiluhung para leluhur, tapi jauh panggang dari api.

Mungkin salah satu sebabnya karena pembangunan Community Center di Victoria ini yang masif, sistematis, dan terstruktur dalam memfasilitasi dan membuka berbagai ragam kesempatan bagi setiap warga negara agar menjadi pembelajar sejati sesuai minat hanya dengan bermodal niat. Dalam konteks Indonesia, penjaminan pasal 31 UUD 1945 bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan mungkin salah satunya dapat diterjemahkan ke dalam bentuk community center seperti di Victoria ini. Pemerintah dan pemerintah daerah yang diwajibkan memprioritaskan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD, aku yakin, bukan tidak mungkin membangun pusat-pusat komunitas yang jauh lebih baik dari yang dimiliki Kota Monash.

[caption id="attachment_2820" align="alignright" width="150"]AM Sidqi-OZIP AM Sidqi.[/caption]

Hanya masalahnya adalah keberpihakan. Tidak perlu pening memikirkan siapa yang akan menjalankan community center jika dibangun di Tanah Air. Jiwa kerelawanan (volunteerism) yang ditunjukan oleh para relawan di Rumah Dunia dan community center di Victoria menjadi bukti bahwa masyarakat sudah mandiri dan kreatif untuk meminyaki program, tinggal pemerintah berpihak dan bersungguh-sungguh memfasilitasinya.

Aku percaya, orang Indonesia itu bukan hanya kreatif, tetapi super kreatif. Aku membayangkan, jika pusat komunitas seperti Wheelers Hills dibangun dengan fasilitas lengkap oleh masing-masing pemerintah daerah di seantero kepulauan Nusantara, maka kita akan menyaksikan kelahiran penulis seimajinatif Rowling dari Samarinda, pujangga sekaliber Tagore dari Pekanbaru, ilmuwan secerdas Habibie dari Sigli, pejuang kemanusiaan setulus Niteangel dari Poso, hukum dan politik kita disucikan oleh negarawan-negarawan sekelas Gandhi, Mandela, dan Mohammad Hatta dari tiap-tiap pulau Indonesia. Setiap warga negara tanpa terkecuali bisa merayakan apapun yang diinginkannya karena kesempatan yang dibuka seluas-luasnya oleh negara.

O, alangkah indahnya!

 

Foto: AM. Sidqi