Ganjar Pranowo. Nama ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia, terutama di telinga pengikut setia panggung politik Indonesia. Lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada tanggal 28 Oktober 1968, beliau kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah periode 2018-2023. Ini adalah kali kedua beliau menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah setelah berhasil memenangkan Pilkada serentak 2018. Sebelumnya, beliau sempat menjabat sebagai anggota DPR RI selama dua periode, yakni di tahun 2004-2009 dan 2009-2013. 

Belum lama ini, Ganjar diundang sebagai salah satu narasumber untuk edisi terbaru acara bincang-bincang dengan presenter Najwa Shihab bertajuk “Catatan Najwa Goes to Melbourne”. Tema besar yang diangkat untuk edisi talkshow kali ini adalah “Merawat Indonesia”, yang mengupas lebih dalam fenomena polarisasi yang terjadi di kalangan masyarakat semasa dan sesudah Pilpres 2019. Beliau diundang sebagai perwakilan pemerintah dalam diskusi empat arah antara Najwa, aktivis Yenny Wahid, dan direktur eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya. 

Ketika ditanyakan alasan terjadinya polarisasi dalam kalangan masyarakat pasca Pilpres oleh Najwa, Ganjar memaparkan bahwa terdapat berbagai faktor pemicu di masyarakat. Diantaranya termasuk faktor kontestasi, keinginan, dan perbedaan ideologi. Beliau berpendapat bahwa ketiga faktor berkontribusi terhadap perpecahan yang terjadi dalam masyarakat. Diantara ketiga faktor tersebut, Ganjar menyatakan bahwa pesan ideologi harus lebih diwaspadai jika dibandingkan dengan faktor lainnya. 

Menurut Ganjar, solusi bagi permasalahan polarisasi dalam masyarakat adalah mengajarkan nilai-nilai Pancasila. Berangkat dari gagasan Yenny untuk kembali ke Pancasila sebagai nilai luhur bangsa Indonesia, Ganjar mengajak berbagai elemen masyarakat untuk mencari cara baru untuk menyampaikan nilai-nilai Pancasila. Alasan dari ajakan ini adalah, menurut beliau, kecenderungan masyarakat yang sulit menangkap dan menerapkan prinsip dan nilai Pancasila jika hanya diajarkan secara teori dan harfiah. 

Oleh karena itu, Ganjar menyarankan orang tua untuk turut mengajarkan nilai Pancasila kepada anak-anak mereka. Contohnya, orang tua dapat mengimbau anak agar mau bermain dan bergaul dengan temannya yang berbeda kepercayaan.  Dengan demikian, Pancasila sebagai dasar negara yang mulia nilainya dapat lebih mudah ditangkap dan dipraktikkan oleh anak-anak. “Kita harus terus mencari gimmick-gimmick baru dalam mengajarkan nilai Pancasila”, jelasnya dalam memaparkan solusi terhadap polarisasi masyarakat. 

Ganjar juga terkenal sebagai tokoh politik yang aktif di media sosial, terutama di Twitter. Baginya, netizen Indonesia juga memiliki peran dalam menyebabkan polarisasi dalam masyarakat. Ketika ditanyakan mengenai “kegelisahan” Ganjar pasca Pemilu 2019, beliau berkomentar bahwa netizen “jangan ngawur berbincang di media sosial.” Beliau lalu menjelaskan bagaimana followers seorang tokoh politik dapat memicu perselisihan pendapat di media sosial walaupun tokoh politik yang dimaksud tidak membuat keributan dan bahkan tidak mengatakan hal yang dipaparkan oleh sang follower. Oleh karena itu, beliau turut mengimbau tokoh politik untuk ikut mengajak followers mereka menjaga situasi kondusif dalam media sosial. 

Keaktifan Ganjar di media sosial juga tercermin dari kebijakan yang dimilikinya: semua kepala dinas wajib memiliki akun social media bercentang biru (verified). Tujuannya adalah untuk memangkas birokrasi dan memastikan agar pesan dapat tersampaikan secara langsung secara kelompok maupun individu. Kebijakan ini adalah satu dari banyaknya cara yang diterapkan oleh Ganjar Pranowo guna menangkal polarisasi dalam masyarakat, baik secara nyata maupun di dunia maya. 

Polarisasi mungkin tengah mewabahi masyarakat Indonesia. Namun, pesan sang gubernur Jawa Tengah yang ramah senyum ini pun menjadi motivasi tersendiri bahwa keharmonisan masih dapat dicapai bersama. 

Teks: Jason Anselmo
Foto: Windu Kuntoro