

Mengakhiri musim dingin tahun ini, aku berkunjung ke Nagoya untuk mengunjungi salah satu perkebunan teh di Nishio, Aichi Prefektur. Sebagai salah satu produsen teh terbesar di Jepang, daerah ini menawarkan pengalaman mendalam dalam menikmati teh hijau berkualitas tinggi. Namun, perjalanan kuliner kali ini bukan tentang teh, melainkan tentang salah satu hidangan paling khas dari Nagoya—Unagi, atau belut air tawar yang dimasak dengan cara khas dan memiliki keunikan tersendiri di kota ini.
Kenapa Unagi Terkenal di Nagoya? Unagi memang dikenal sebagai hidangan mewah di Jepang, tetapi di Nagoya, hidangan ini memiliki cara penyajian yang unik, yakni Hitsumabushi. Berbeda dengan unagi kabayaki yang lebih umum di Tokyo atau Kansai, hitsumabushi berasal dari daerah Chubu, khususnya Nagoya. Unagi di sini dipanggang dengan bara api, diberi saus tare khas, dan disajikan di atas nasi dalam sebuah mangkuk atau kotak kayu.
Keistimewaan unagi di Nagoya juga berasal dari cara pengolahan dan sejarahnya. Secara tradisional, unagi dipotong melintang di Nagoya, berbeda dengan gaya Tokyo yang membelahnya dari punggung. Teknik ini dipengaruhi oleh sejarah samurai di masing-masing daerah—di Edo (Tokyo), unagi dibelah dari punggung karena samurai menghindari metode pemotongan dari perut yang dianggap menyerupai ritual seppuku. Sementara di Nagoya, pemotongan dari perut lebih umum karena tidak ada pengaruh budaya samurai yang begitu kuat di sana.
Ada tiga cara menikmati Unagi Hitsumabushi. Ada kertas petunjuk tata cara makan yang membuat pengalaman mencicipinya semakin seru. Satu porsi hitsumabushi biasanya datang dalam sebuah wadah kayu bundar, lengkap dengan berbagai pendamping seperti sup miso merah, acar, daun bawang, nori, wasabi, dan kaldu dashi.


Cara menikmatinya pun memiliki tiga tahap: Makan seperti biasa – Langkah pertama adalah mengambil unagi dan nasi lalu menyantapnya langsung tanpa tambahan apapun untuk menikmati rasa asli dari belut panggang yang manis, gurih, dan sedikit smoky karena proses pembakaran dengan arang. Kemudian menambahkan bumbu pelengkap – Kita bisa menambahkan daun bawang, nori, dan wasabi ke dalam mangkuk untuk menciptakan kombinasi rasa yang lebih kompleks dan segar. Yang ketiga, menjadikannya seperti chazuke, yakni menuangkan kaldu dashi ke dalam nasi dan unagi, menciptakan sensasi makan seperti sedang menikmati semangkuk chazuke (nasi dengan teh atau kaldu). Teksturnya menjadi lebih lembut, dan rasa umaminya semakin kuat.
Cara makan yang bervariasi ini menjadikan hitsumabushi sebagai salah satu pengalaman kuliner paling menarik bagi para pecinta makanan Jepang. Hitsumabushi Hanaoka, salah satu restoran unagi yang mendapat rating sangat tinggi di Google, membuatku terpanggil untuk mengunjunginya. Begitu tiba di Nagoya, aku segera bergegas menuju Hitsumabushi Hanaoka, salah satu restoran terkenal yang menyajikan unagi berkualitas tinggi. Terletak di kawasan yang cukup mudah dijangkau dari pusat kota, restoran ini menawarkan suasana yang nyaman dengan interior khas Jepang yang sederhana namun elegan.
Begitu masuk, aroma harum dari unagi yang dipanggang langsung menggoda selera. Aku memesan set hitsumabushi lengkap seharga 4,800 yen, dan tidak butuh waktu lama sebelum sepiring kelezatan ini tersaji di hadapanku.
Unaginya memiliki tekstur yang sempurna—bagian luar renyah, sementara daging di dalamnya tetap lembut dan juicy. Saus tare khas restoran ini memiliki keseimbangan rasa manis dan gurih yang pas, berpadu sempurna dengan nasi hangat. Namun, untuk bisa menikmati hidangan ini, aku harus mengantri sekitar 1 jam dalam kondisi dingin.
Antrian panjang ini menunjukkan betapa populernya restoran ini, terutama saat jam makan malam. Meski demikian, setelah mencicipi setiap suapan hitsumabushi, aku merasa bahwa penantian panjang dan hawa dingin yang menusuk benar-benar terbayarkan. Hitsumabushi Hanaoka hanya buka pada jam makan siang (11:00 – 15:00 WIB) dan makan malam (18:00 – 21:00 WIB). Oleh karena itu, jika ingin mencicipi hidangan ini, sebaiknya datang lebih awal untuk menghindari antrian yang panjang.
Saat mengikuti ritual atau tata cara makan hitsumabushi, aku benar-benar bisa merasakan bagaimana tiap cara menyantapnya memberikan sensasi berbeda. Bagian favoritku adalah ketika kaldu dashi dituangkan ke dalam nasi dan unagi—perpaduan rasa gurih dan umami yang luar biasa membuat setiap suapan terasa begitu memuaskan.
Sebagai salah satu kota yang terkenal dengan unagi, Nagoya memiliki banyak restoran yang menyajikan hidangan ini. Diperkirakan ada lebih dari 100 restoran yang menawarkan unagi dalam berbagai variasi. Beberapa restoran terkenal selain Hitsumabushi Hanaoka antara lain Atsuta Horaiken, yang diklaim sebagai tempat asal dari hitsumabushi, serta Maruya Honten yang juga populer di kalangan wisatawan dan penduduk lokal.
Berkunjung ke Nagoya tidak lengkap tanpa mencicipi hitsumabushi. Dengan metode penyajian yang unik, rasa yang kaya, dan pengalaman makan yang baru, hidangan ini benar-benar menggambarkan keunikan kuliner khas Nagoya. Jika suatu hari nanti kamu berkesempatan mengunjungi kota ini, pastikan untuk mampir ke salah satu restoran hitsumabushi dan rasakan sendiri bagaimana belut panggang bisa menjadi hidangan yang begitu istimewa. Musim dingin yang perlahan berlalu terasa lebih hangat dengan semangkuk hitsumabushi yang menggugah selera. Dan siapa tahu, mungkin di perjalanan berikutnya, akan ada lagi kuliner khas Jepang lainnya yang siap untuk dijelajahi!
Oleh Siti Mahdaria














