Ramadan Pertama di Negeri Kangguru

Ada yang spesial, tapi bukan martabak telur. Ada yang istimewa, tapi bukan Yogyakarta. Tahun ini terasa spesial dan istimewa karena menjadi kali pertama saya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan di Negeri Kangguru, Australia.

Menjadi bagian dari umat minoritas di sini memberikan sensasi dan pengalaman yang berbeda. Kemeriahan Ramadhan seperti yang biasa saya rasakan di tanah air, kini terasa lebih sunyi. Tidak ada hiruk-pikuk antrian membeli takjil, atau jalanan yang ramai dengan penjaja makanan khas buka puasa. Kini, untuk menikmati jajanan khas Indonesia, saya harus memesannya jauh-jauh hari melalui grup WhatsApp komunitas Indonesia.

Cuaca Melbourne yang tak menentu menjadi tantangan tersendiri. Dalam satu hari, suhu bisa mencapai 37°C di siang hari, lalu turun drastis menjadi 11°C di malam hari. Perubahan suhu ekstrem ini membuat tubuh harus lebih cepat beradaptasi, apalagi saat menjalani puasa seharian.

Waktu berpuasa di sini pun jauh berbeda dibandingkan Indonesia. Waktu Subuh dimulai sekitar pukul 05.33 pagi, sedangkan Maghrib baru tiba pukul 08.00 malam. Bila ingin melanjutkan ibadah Tarawih, adzan Isya baru berkumandang sekitar pukul 09.15 malam, dan salat Tarawih biasanya selesai sekitar pukul 10.30 malam.

Kebetulan, Ramadan tahun ini juga bertepatan dengan dimulainya semester baru perkuliahan. Menyeimbangkan tanggung jawab akademik dan keinginan untuk memaksimalkan ibadah menjadi tantangan yang tidak mudah. Persiapan materi kuliah, kuis, tugas, ditambah harus memasak untuk sahur dan berbuka sendiri, memaksa saya untuk pintar-pintar membagi waktu dan energi.

Membeli makanan di luar bukanlah solusi jangka panjang, mengingat harga makanan yang cukup tinggi dan terbatasnya pilihan makanan kaki lima seperti di Indonesia. Semua hal ini membuat saya lebih menghargai kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu terasa biasa saja.

Dukungan Komunitas Muslim yang Menghangatkan

Beruntungnya, komunitas Muslim di Melbourne cukup solid—baik dari kalangan Indonesia maupun internasional. Banyak masjid besar yang tersebar di berbagai wilayah. Hampir semua universitas besar seperti University of Melbourne, RMIT, Monash, dan Swinburne memiliki fasilitas ibadah untuk mahasiswa Muslim.

Menariknya, tiap masjid di Melbourne punya karakternya sendiri. Di Masjid Noble Park, komunitas Bosnia dan Herzegovina menjadi mayoritas. Masjid Dandenong dikenal dengan komunitas Bangladesh-nya. Masjid Westall menjadi pusat berkumpulnya warga Indonesia. Bahkan, Masjid Coburg memiliki cukup banyak jamaah dari warga kulit putih keturunan Australia.

Selama Ramadhan, Masjid Westall bersama MIIS (Monash Indonesian Islamic Society) mengadakan berbagai kegiatan, mulai dari pesantren kilat untuk anak-anak, buka puasa bersama, hingga event Twilight Market. Pasar ini menjadi wadah bagi warga Indonesia untuk menjajakan makanan khas tanah air serta produk-produk Muslim seperti baju gamis, mukena, sajadah, dan hijab.

Mencicipi Rasa Palestina di Jalanan Brunswick

Selain masakan Indonesia, saya juga berkesempatan mencicipi kuliner khas Palestina dari sebuah food truck bernama Aheda Kitchen. Lokasinya berada di 15 Hope Street, Brunswick, tepat di depan Superfood Supermarket. Meski tidak memiliki jadwal tetap, Anda bisa mengikuti info terbaru dari akun Instagram-nya di @palestinian_chef_aheda.

Menu yang ditawarkan sangat menggoda, seperti falafel wrap, maqluba, mandy lamb, koofteh lamb roll, dan tentunya baklava. Rasanya autentik, hangat, dan penuh cerita. Makanan ini bukan sekadar pengisi perut, tapi juga membawa kita menyelami budaya dan perjuangan masyarakat Palestina.

Ramadan yang Mengajarkan Rindu dan Syukur

Ramadan kali ini memang berbeda. Sunyi dari keramaian, jauh dari keluarga, tapi justru menyisakan ruang untuk merenung dan memahami makna. Perbedaan-perbedaan kecil ini yang justru mendewasakan—mengingatkan bahwa hal-hal sederhana seperti suasana berburu takjil dan jajanan di sepanjang jalan atau adzan Maghrib tepat waktu bisa begitu dirindukan saat tak lagi ada.

Di balik tantangan, selalu ada pelajaran. Ramadan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang beradaptasi, memperkuat iman, dan bersyukur atas hal-hal yang dulu mungkin terabaikan.