Mengenal Krakatoas dalam Rangkaian Pertemuan 2+2 Australia–Indonesia

Dari kiri Darcy Moore, kapten Collingwood Football Club, Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, dan pendiri Krakatoas Iain Shearer dalam rangkaian Pertemuan 2+2 Australia-Indonesia di MCG. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.

Didirikan oleh Iain Shearer pada 2015, Krakatoas menjadikan footy sebagai jembatan persahabatan antara masyarakat Australia dan Indonesia.

Oleh Tien Cathy Patricia Hutahaean

Di tengah rumput Melbourne Cricket Ground, diplomasi mendadak terasa lebih santai. Sebuah bola oval berpindah dari Menteri Luar Negeri RI Sugiono ke Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, lalu kepada seorang pemain perempuan Krakatoas. Momen itu berlangsung spontan. Bagi Iain Shearer, pendiri Krakatoas Football Club, setiap operan memperlihatkan keakraban dan rasa saling percaya antara Indonesia dan Australia.

Acara ini menjadi bagian dari Pertemuan ke-10 Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Australia-Indonesia 2+2 pada 26 Agustus 2026. Krakatoas hadir sebagai klub lintas budaya berbasis di Melbourne yang berafiliasi dengan AFL (Australian Football League) Indonesia. Kepada OZIP, Iain Shearer bercerita tentang sebelas tahun hidupnya di Indonesia dan alasan ia memilih footy untuk membangun persahabatan antara masyarakat kedua negara.

Sebelas Tahun di Indonesia Membentuk Sebuah Ide

Sebelum kembali ke Australia, Iain Shearer tinggal di Indonesia selama sebelas tahun dan ikut membantu AFL Indonesia di Jakarta. Ia mengenal kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dengan cukup dekat. Setelah pulang ke Melbourne, ia mendengar beberapa pelajar Indonesia menganggap Melbourne Adalah kota yang sepi karena pusat perbelanjaan tutup lebih awal. Banyak dari mereka juga lebih sering berkumpul dengan teman sesama Indonesia.

Iain Shearer merasa masih banyak sisi kehidupan Australia yang belum dikenal oleh para pelajar itu. Menurutnya, tinggal di negara lain juga berarti bertemu masyarakat setempat dan berani mencoba hal baru. Dari pemikiran itu lahirlah Krakatoas. Klub ini ingin membantu warga Indonesia menikmati pengalaman hidup di Australia yang lebih luas sekaligus mendukung perkembangan Australian Rules Football di Indonesia.

Setelah membawa tim Indonesia ke AFL International Cup di Melbourne, Iain Shearer menghubungi teman-temannya dari Australia-Indonesia Youth Association. Awalnya mereka hanya berkumpul dan menendang bola di taman. Kegiatan itu kemudian berjalan setiap minggu dan berkembang menjadi sebuah tim. Krakatoas Football Club pun lahir pada 2015.

Mengapa Footy

Sebenarnya, Iain Shearer bisa saja memilih tenis atau olahraga lain. Ia memilih AFL karena footy sangat dekat dengan kehidupan warga Melbourne. Pada akhir pekan, orang datang ke klub komunitas, menonton pertandingan, minum kopi di pinggir lapangan, dan membicarakan tim kesukaan mereka. Obrolan tentang footy sering menjadi cara mudah untuk mulai pertemanan.

“Saya bukan pemain footy yang hebat. Saya memilihnya karena footy adalah perekat budaya Melbourne.”
Iain Shearer

AFL Juga Ada di Indonesia

AFL memang belum sepopuler sepak bola di Indonesia, tetapi olahraga ini sudah dimainkan oleh beberapa komunitas. Ada Jakarta Bintangs di Jakarta, Bali Geckos di Bali, dan Borneo Bears di Balikpapan. Saat mewakili Indonesia dalam pertandingan tingkat Asia, pemain dari klub-klub ini bergabung sebagai Indonesia Volcanoes.

Masyarakat Indonesia sudah akrab dengan sepak bola. Orang yang pernah bermain atau menontonnya biasanya memahami kerja tim, mencari ruang, dan menendang bola kepada teman. Hal itu membuat latihan AFL pertama terasa tidak terlalu asing. Namun AFL tetap memiliki teknik berbeda, seperti menggunakan bola oval, melakukan handball, menangkap bola atau mark, dan mencetak skor melalui empat tiang gawang.

Krakatoas memberi pemain baru tempat yang nyaman untuk mempelajari perbedaan itu. Mereka bisa berlatih bersama orang yang memahami budaya dan bahasa Indonesia, lalu bertemu warga Australia. Iain Shearer menyebut Krakatoas sebagai transit lounge atau ruang singgah. Setelah lebih percaya diri, para anggota dapat didorong untuk melanjutkan bermain di klub lokal seperti Monash, South Melbourne, Brunswick, dan Frankston.

Pertukaran budaya di Krakatoas berjalan dua arah. Anggota Australia belajar tentang Indonesia melalui teman, bahasa, makanan, dan kegiatan klub. Iain Shearer bercerita tentang seorang anggota Australia yang sebelumnya belum pernah ke Indonesia. Setelah beberapa tahun bersama Krakatoas, orang itu pindah ke Indonesia dan menikmati kehidupannya di sana. Bagi Iain Shearer, hubungan budaya sering tumbuh dari pertemanan sehari-hari.

Klub yang Mengutamakan Pemain Indonesia

Banyak warga Australia tumbuh bersama footy, sehingga pemula asal Indonesia terkadang ragu untuk ikut bermain. Krakatoas membuat langkah pertama itu terasa lebih mudah. Tidak perlu pengalaman atau memahami semua aturan karena setiap orang bisa belajar dari awal.

Dalam sebuah kompetisi yang diikuti sepuluh tim, Krakatoas pernah mencapai di posisi kedua. Pada awal musim, pemain Australia membantu tim tetap kompetitif. Menjelang pertandingan terakhir, seluruh pemain yang turun adalah orang Indonesia. Iain Shearer sengaja memberi mereka kesempatan bermain meski ada pemain Australia yang lebih berpengalaman. Semangatnya terangkum dalam kalimat yang kerap digunakan klub: “Orang Indonesia main footy? Pasti bisa.”

Bagi Iain Shearer, hasil pertandingan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia senang ketika anggota rajin berlatih, memahami kerja tim, dan merasa ikut memiliki klub. Mereka juga mengenal budaya olahraga komunitas Australia yang berjalan berkat relawan. Pelatih, pengurus, dan pemain menyumbangkan waktu agar klub tetap hidup.

Krakatoas juga menjadi tempat belajar mengelola komunitas.  Iain Shearer ingin semakin banyak orang Indonesia menjadi pelatih, ketua klub, dan pengurus. Menurutnya, AFL di Indonesia akan lebih kuat jika orang Indonesia sendiri ikut memimpinnya.

Dari Lapangan Komunitas ke MCG

Krakatoas mendapat kesempatan mengikuti kegiatan di MCG bersama Menteri Luar Negeri RI Sugiono dan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong. Tim Watts hadir mengenakan jumper Krakatoas pemberian Iain Shearer, sementara Darcy Moore, kapten Collingwood Football Club yang bisa berbahasa Indonesia, turut mendampingi kegiatan.

Pendiri Krakatoas Iain Shearer dan Tim Watts berswafoto di MCG dengan mengenakan seragam Krakatoas. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono bersama Darcy Moore dan Iain Shearer saat mengikuti kegiatan footy di MCG. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.

Klinik AFL itu mempertemukan anggota Krakatoas, perwakilan AFL, pejabat Australia dan Indonesia, serta siswa Brunswick North West Primary School yang sedang belajar bahasa Indonesia. Para pemain Krakatoas dan pelatih AFL menjalankan kegiatan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Bagi Iain Shearer, lapangan menjadi tempat alami untuk belajar olahraga sekaligus mengenal budaya satu sama lain.

Anggota Krakatoas mendampingi siswa Brunswick North West Primary School berlatih handball di MCG. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.
Krakatoas bersama siswa Brunswick North West Primary School dan para tamu seusai pengenalan Australian Rules Football di MCG. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.

Belajar Bahasa Sambil Bermain Footy

Darcy berbicara tentang pentingnya warga Australia belajar bahasa Indonesia dan bagaimana bahasa membantu membangun pemahaman yang lebih dalam antara dua budaya. Ia lalu memandu latihan handball singkat dan mengantar para menteri menemui siswa yang sedang menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi nyata.

Setelah melihat para peserta berlatih, Pak Sugiono pun tertarik mencoba menendang bola footy. Ia mengikuti arahan dengan santai dan tampak sangat menikmati pengalaman tersebut. Suasana menjadi semakin meriah ketika ia berseloroh kepada Penny Wong, “Penny, kita perlu mengubah jadwal hari ini. Saya ingin tetap di sini!” Ucapannya langsung disambut tawa para peserta. Momen sederhana itu membuat kegiatan yang awalnya resmi terasa lebih hangat. Di lapangan MCG, footy dan bahasa Indonesia menjadi titik temu yang mendekatkan para menteri, pemain, siswa, dan komunitas dari kedua negara.

“Kadang, satu bola footy sudah cukup untuk memulai percakapan.”
Iain Shearer

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong bersama anggota Krakatoas di lapangan MCG. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.

Semangat yang Tumbuh Kembali

Krakatoas berawal dari kelompok kecil pada 2015. Sekitar 40 orang dapat hadir dalam satu sesi latihan. Klub ini berlatih setiap Minggu dan bertanding pada Selasa malam. Setelah pandemi COVID-19, Krakatoas perlu membangun kembali jaringannya karena banyak anggota telah pulang ke Indonesia.

Kini, latihan Krakatoas rata-rata diikuti belasan orang. Klub lebih banyak mengadakan kegiatan sosial, sementara beberapa anggotanya bermain untuk Monash University, South Melbourne, dan Brunswick. Iain Shearer mulai melihat semangat untuk kembali membangun tim kompetisi.

Hubungan dengan AFL Indonesia tetap penting. Anggota yang pulang tidak hanya membawa kemampuan bermain. Mereka juga membawa pengalaman mengelola klub dan bekerja sebagai relawan. Seorang mantan anggota pernah mengadakan pelatihan AFL perempuan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Salatiga yang diikuti sekitar 150 perempuan. Anggota lain memperkenalkan footy kepada murid-murid di sebuah sekolah desa.

Anggota Krakatoas berfoto bersama di lapangan MCG. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.

Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, Iain berharap pelajar Indonesia sudah mengenal Krakatoas sebelum tiba di Australia. Ia juga ingin melihat komunitas serupa hadir di Adelaide, Perth, Sydney, Brisbane, dan Indonesia. Harapan terbesarnya adalah melihat orang Indonesia memimpin seluruh kegiatan Krakatoas.

“Saya akan berhasil ketika orang Indonesia bertanggung jawab atas semuanya di Krakatoas. Artinya, saya perlu membuat diri saya sendiri menganggur.”
Iain Shearer

Darcy Moore dan anggota Krakatoas mengabadikan kebersamaan mereka lewat swafoto di MCG. Dokumentasi: Krakatoas Sports Club.

Persahabatan yang Bertahan Lebih Lama

Bagi pelajar Indonesia yang belum pernah memainkan AFL, pesan Iain sederhana, jangan malu dan datanglah ke Krakatoas. Ia ingin mereka mengenal Australia di luar kampus dan lingkaran teman yang sudah dikenal. Setelah pulang ke Indonesia, banyak anggota justru merindukan latihan di taman, barbeku bersama, dan perjalanan dari Federation Square ke MCG untuk menonton pertandingan.

Menurut Iain Shearer, olahraga tim mirip dengan hubungan Australia-Indonesia. Pemain datang dari latar belakang berbeda, tetapi mereka mengejar tujuan yang sama. Di lapangan, mereka belajar bekerja sama, tertawa, dan saling membantu. Sikap itu juga berguna dalam pendidikan, pekerjaan, dan hubungan antarmasyarakat.

Menuju Grand Final AFL 2026

Menutup wawancara, obrolan beralih ke Grand Final AFL 2026 di MCG pada 26 September. Inilah puncak musim, satu pertandingan untuk menentukan juara dan satu hari besar yang dinikmati para pencinta footy di Melbourne. Lalu, siapa jagoan Iain? “Saya ingin Hawthorn yang menang. Kalau bukan Hawthorn, pilihan saya Brisbane,” ujarnya. Pilihan itu menambah seru penantian menuju final. Namun siapa pun yang akhirnya tampil, Iain Shearer berharap Grand Final dapat mengajak lebih banyak orang Indonesia menonton, mengenal aturan AFL, dan suatu hari ikut mencoba footy bersama Krakatoas.