Share This Article

Featured Articles
May 13, 2014 posted by Ozip Team

Saman Indo-Melbourne

Saman Indo-Melbourne

Cuaca hari itu cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya. Melbourne yang selama seminggu diliputi hujan tanpa henti, pada hari Sabtu tanggal 12 April disambut dengan siang yang cerah. Sang surya seakan-akan tak sabar menanti penampilan kelompok tari Saman Indomelb di hari itu. Kali tersebut Saman Indomelb tampil sebagai pembuka acara University of Melbourne Australia-Awards Club (UMAC), yakni sebuah perhelatan bagi para penerima beasiswa Australia yang datang dari seluruh dunia. Tarian yang dibawakan oleh kelompok tari ini adalah Likok Pulo. Mendengar ini timbullah pertanyaan, bukankah tarian yang dibawakan adalah Tari Saman?

Tari Saman Gayo merupakan salah satu dari berbagai jenis tarian duduk lainnya. Saman Gayo sendiri berasal dari kabupaten Gayo Lues, provinsi Aceh. Namun, dalam perkembangannya, kata ‘Saman’ akhirnya dipakai untuk menjeneralisasi jenis tarian duduk lainnya yang berasal dari Aceh. Likok Pulo adalah jenis lain tari duduk yang berasal dari Pulau Beras atau Pulau Breueh, Kabupaten Aceh Besar di utara Pulau Sumatera. Ini sesuai dengan nama Likok Pulo itu sendiri; Likok berarti gerak tari, sedangkan Pulo berarti pulau. Pada awalnya Likok Pulo diciptakan sebagai sarana untuk penyebaran agama Islam di Pulau Beras. Berkembang dari situ, tarian ini biasa dipertunjukkan pada perayaan atau ditandingkan antar kampung. Tarian ini tergolong maskulin karena ditarikan oleh penari pria.

 

Pratiitou Arafat

Pratiitou Arafat

Akan tetapi, tari Likok Pulo yang dibawakan oleh Saman Indomelb terasa lebih spesial; hanya ada satu pria di antara 13 penari wanita. Pria itu adalah Pratitou Arafat, seorang mahasiswa yang sedang studi S2 dalam bidang arsitektur lanskap. Mengaku dirinya berasal dari Banda Aceh, pria yang akrab dipanggil Tito ini menganggap antusiasme terhadap ‘Tari Saman’ lebih terasa di luar wilayah Aceh sendiri. Ia pun mengaku baru belajar Saman setelah kuliah di Institut Pertanian Bogor. Setelah mendapatkan beasiswa di Melbourne pertengahan tahun lalu, ia segera bergabung dengan kelompok tari Saman Indomelb.

 

 

Menurut Tito, gerakan-gerakan tari Likok Pulo tergolong sulit jika dibandingkan dengan tari duduk lainnya. Meski demikian, ia merasa bahwa jenis tari duduk relatif gampang dibandingkan dengan tarian lain yang mesti memikirkan langkah kaki. Tari Saman biasanya melibatkan gerak tangan, bahu, pinggang, dan kepala. Tiap gerakan ini pun memiliki makna yang beragam. Nah, sangat baik bagi para penari untuk mengerti makna dari gerakan yang mereka tarikan agar tarian tersebut dapat lebih dihayati. Contohnya gerakan yang sering memukau penonton, yaitu gelombang. Gerakan tersebut menceritakan gelombang laut yang adalah pemandangan sehari-hari Aceh yang terletak di tepi laut. Ada juga gerakan yang mirip jala yang seolah-olah menceritakan seseorang yang sedang menjalin jala. Selain kegiatan sehari-hari yang diceritakan, Tari Saman juga membawakan pesan keagamaan, cerita cinta, maupun politik.

 

Penampilan di UMAC hanyalah satu dari penampilan lain dari Saman Indomelb yang akan datang di tahun ini. Sebagai salah satu sarana promosi seni dan budaya Indonesia, Tari Saman telah berhasil menggelitik keingintahuan masyarakat Australia terhadap kesenian negara tetangganya ini. Saman Indomelb pun telah merencanakan strategi untuk memperluas target penonton akan seni ini, beberapa di antaranya adalah melalui flash mob dan busking di tempat umum. Satu hal yang pasti, kita selalu antusias menanti pertunjukkan mereka selanjutnya!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *