RAHWANA: Mitologi, Multikulturalisme, dan Teater Sinematik yang Menggetarkan

Oleh Raden Arifin (Ozip Magazine)

Malam itu, 8 November 2025, RMIT Capitol Theatre berubah menjadi ruang pertemuan budaya: penonton dari beragam latar hadir untuk menyaksikan RAHWANA, produksi teater sinematik yang dipersembahkan Perwira Inc. Pembukaan dimulai oleh MC, lalu diikuti rangkaian sambutan yang menegaskan visi multikultural dan misi budaya produksi ini.

Diana Lestari, Presiden Perwira, membuka dengan nada penuh rasa, “Musik, gerak, dan cerita bertemu di panggung ini. RAHWANA berbicara tentang keberanian dan cinta,” ujarnya, menegaskan bahwa produksi ini ingin menyatukan estetika dan jiwa lintas tradisi. Vivien Nguyen dari Victorian Cultural Commission menambahkan, “Kami bersemangat membagikan keragaman budaya, kekuatan kita adalah kebersamaan.” Bruce Wong dari Foot Solutions menegaskan peran sponsor, “Kami mendukung Perwira karena produksi seperti ini merekatkan komunitas melalui multikulturalisme.” Perwakilan KJRI, Konsul Jenderal Yohanes, memberi dukungan diplomatik dan budaya dari Indonesia, lengkap dengan sambutan hangat untuk upaya kolaboratif antara seniman diaspora dan lokal.

Pertunjukan disuguhkan bukan hanya dengan teatrikal, tetapi juga dengan kualitas vokal live yang menonjol, para pemain menyuguhkan rangkaian nyanyian yang melintasi genre sehingga menyuburkan nuansa emosional setiap adegan. Dari awal sampai akhir, keseimbangan antara suara hidup, koreografi, dan elemen sinematik terasa sebagai denyut nadi produksi.

Cerita dimulai dari latar keluarga Rahwana yang sederhana dan hangat, tiga bersaudara yang tumbuh bersama dalam ikatan akrab. Seiring waktu, Rahwana berkelana, membangun kerajaan dengan kebijaksanaan dan kekuatan. Ia hidup bersama istri, saudara perempuan, dan para pengawal setia. Konflik bermula ketika saudara perempuan Rahwana datang mengadu bahwa ia telah dilukai di bagian wajahnya oleh Rama. Kemarahan Rahwana memicu keputusan tragis yaitu penculikan Sita sebagai upaya pembalasan. Meski istri dan ajudan mencoba menahan langkahnya, pilihan Rahwana mengantar keputusan ke titik benturan epik.

Klimaks pentas mencapai puncak ketegangan ketika Rama, dibantu Hanuman, menyerang istana Rahwana. Di sinilah koreografi dan elemen visual menunjukkan tarian Kecak yang intens dilengkapi penampilan Mahindra Bali, menghasilkan momen pertarungan yang mendebarkan dan menggetarkan. Kombinasi paduan suara, bunyi gamelan yang diselingi scoring sinematik, serta gerak massa penari membuat suasana pertempuran terasa monumental.

Puncak emosional datang tatkala Rahwana tumbang oleh panah Rama. Adegan sang raja menghembuskan napas terakhir di pangkuan istrinya adalah momen yang menghentak. Bukan sekadar kematian seorang tokoh antagonis, melainkan penutup perjalanan karakter yang penuh ambivalensi yaitu kekuatan, cinta, harga diri, dan kehancuran.

Reaksi penonton bervariasi: tepuk tangan panjang, bisik haru, hingga tepukan di akhir adegan- adegan dramatis. Di akhir malam, lagu penutup “Embers of Divine” dinyanyikan oleh Anna Balani, penutup yang anggun dan mengikat emosi penonton sebelum lampu panggung padam.

Secara keseluruhan, RAHWANA berhasil menyajikan versi Ramayana yang berani dan reflektif: menghormati akar budaya sambil mengeksplorasi bentuk penceritaan kontemporer. Keberhasilan ini bukan semata pada efek visual atau skala produksi, tetapi pada kemampuan tim kreatif untuk menjaga keseimbangan antara kontinuitas budaya dan inovasi artistic, sebuah pencapaian yang layak diapresiasi oleh penikmat seni lintas komunitas.