KISAH MACMAHON BALL DAN JOE ISAAC – PERTAMA KALI WAKIL PEMERINTAH AUSTRALIA BERTEMU DENGAN PRESIDEN SUKARNO PADA NOVEMBER 9, 1945

Setelah Perang Dunia Kedua WW2 berakhir beberapa negara di Asia yang bekas penjajahan mengharap pada masa depan mereka akan bebas dari para penjajah kolonial barat dan mereka akan merayakan kemerdekaannya. Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya pada Augustus 17, 1945. Pemerintah Australia terkejut mendengar kabar ini. Pemerintah Australia heran dan tanpa kebijakan yang jelas. Karena negara Australia waktu itu masih bagian kewajiban Inggris (British Empire), Australia harus mengikuti Mandat SEAC Panglima Sekutu Inggris Lord Louis Mountbatten yang memastikan bahwa ‘Pemerintah Penjajah Belanda harus kembali memiliki Indonesia’

MASYARAKAT JAKARTA MELIHAT DENGAN CURIGA TENTARA ASING INGGRIS

 Waktu tentara dua ratus tentara Inggris Skotlandia mendarat di di Tanjung Priok, Jakarta pada September 29,1945, perwira Inggris terkejut menyadari bahwa Indonesia Merdeka, dan masyarakat Indonesia memperlakukan tentara asing dengan curiga.  Jenderal Inggris Christison memberi kekuasaan Indonesia kepada Angkatan Bersenjata Jepang, karena tentara Jepang bisa memberikan perlindungan kepada mereka. Inggris takut serangan oleh Pemuda Indonesia.  Angkatan Senjata Jepang harus menjaga ketertiban, sebelumnya bala bantuan tentara Inggris tiba di Jakarta. Christison, Jenderal Inggris menggunakan dua ratus pasukan Inggris Skotlandia yang dibantu oleh pasukan Hindia seperti Sikh, Punjabi dan Gurkha. Jumlah tentara Sekutu tidak cukup untuk menjaga ketertiban. Pemimpin dan Pemuda Indonesia mendesak bahwa mereka harus menahankan Kemerdekaan Indonesia. Jaminan ini tidak bisa diberikan, Pemimpin Indonesia menerima kabar bahwa Panglima Sekutu SEAC Lord Mounbatten memberi perintah bahwa Kekuasan Belanda akan kembali ke Indonesia untuk memulihkan Pemerintah Kolonial.A group of people outside of a building

AI-generated content may be incorrect.

CORETAN GEDUNG DI JAKARTA PADA SEPTEMBER 1945 – MERDEKA QUO VADIS?

Menteri Luar Negeri Australia pada waktu itu. Dr. H.E. Evatt memberi tugas kepada dua dosen Universitas Melbourne, Macmahon Ball (Mac) dan Joe Isaac (Joe) untuk mengunjungi Batavia dan memberi laporan tentang keadaan yang kusut dan mengkhawatirkan.  Surat kabar Australia melaporkan berita pertempuran antara pemuda Indonesia dan tentara KNIL Belanda yang dibebebaskan dari penjara Jepang. Pada saat itu buruh Maritim Australia mendukung Kemerdekaan Indonesia dan mengadakan pelarangan/ black ban kapal-kapal Belanda di pelabuhan di seluruh Australia. Kapal-kapal yang akan mengangkut tentara Belanda kembali ke Indonesia untuk meneruskan penjajahan colonial. Kapal- kapal ini diberi nama Black Armada atau Armada Hitam.

WAKIL PEMERINTAH AUSTRALIA MACMAHON BALL DAN JOE ISAAAC – MEREKA BERTEMU DENGAN PRESIDEN SUKARNO DAN BUNG HATTA PADA NOVEMBER 9, 1945

Mac dan Joe berangkat dari Australia dan tiba di bandara Kemayoran, Batavia pada tanggal November 7, 1945. Mereka mendapat tempat perlindungan di istana mantan Gubernur Jawa Barat.  Kendaraan Jeep yang mereka menggunakan diberi bendera Australia dan mendapat ucapan suka cita dari masyarakat dan pemuda Indonesia, karena mereka mendengar cerita larangan kapal Belanda di Australia. Situasi di Jakarta pada waktu it sangat berbahaya, tembak menembak antara pemuda Indonesia dan pendukung Belanda terjadi tiap hari dan pada tiap malam di jalanan tidak aman untuk masyarakat biasa.

BATAVIA TRAM DENGAN CORETAN KEMERDEKAAN INDONESIA – SITUASI DI JAKARTA PADA NOVEMBER 1945 

Situasi berbahaya ini latar belakang utusan Ball dan Isaac, tetapi mereka tekad meneruskan jabatannya. Gubernur Belanda Van Mook dan wakilnya Charles Vander Plas tidak mau bercampur tangan dengan wakil pemerintah Indonesia. Jendral Tentara Inggris Christison memutuskan bahwa wakil Pemerintah Australia harus mematuhi aturan Mandat Panglima Inggris Christison dan Chief Commander SEAC Lord Mountbatten. Pewakil Australian Ball dan Joe berani menantang perintah Inggris dan Mandat Lord Mountbatten.

 Macmahon Ball dan Joe Isaac mendapat undangan dari Pemimpin Pemerintah Indonesia. Mereka bertemu dengan Pemimpin Pemerintah Indonesia di rumah Presiden Sukarno pada November 9, 1945. Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta dan Menteri Luar Negeri Subarjo, bersama anggota Pemerintah Indonesia Pertama KNIP memberi sambutan hangat kepada Ball dan Isaaac. Pemimpin Indonesia menganggap kunjungan dari wakil Australia dengan  penuh semangat dan pertemuan yang penting sekali. 

Presiden Sukarno mendesak bahwa PBB/ United Nations Security Council dan penduduk di Negara Sekutu mengakui dan membantu Kemerdekaan Indonesia. Bung Karno juga meminta bantuan obat- obat seperti sulphur, antibiotika untuk mencegah infeksi antara Masyarakat dan tentara Indonesia, yang menderita luka-luka atau sakit. Presiden Sukarno sangat menghargai bantuan Australia ini.

BUKU HARIAN YANG DITULIS OLEH JOE ISAAC – MENCATAT BAHWA PADA 9 NOVEMBER 1945 – MACMAHON BALL DAN JOE ISAAC BERTEMU DENGAN PRESIDEN SUKARNO DAN WAKIL PRESIDEN HATTA BERSAMA MENTERI- MENTERI PEMERINTAH INDONESIA PERTAMA, KOMITE NASIONAL INDONESIA PUSAT, KNIP

Pada November 10, 1945, tiga hari setelah Mac dan Joe tiba, pertempuran sengit di Surabaya dan Semarang meletus. Tentara Indonesia dan masyarakat di kedua kota melawan tentara Inggris Hindia yang didukung dengan alat perang modern tank, pesawat pembom dan kapal pertempuran. Dalam waktu dua minggu, lebih dari 10,000 orang menjadi korban. 

Dalam semua peperangan, kekacauan dan kebingungan, wakil Pemerintah Australia, Mac dan Joe bertemu dengan Pemimpin Pemerintah Indonesia Pertama. Kejadian luar biasa ini menjadi Bilateral Relationship Pertama antara Australia dan Indonesia.

Emeritus Professor Joe Isaac AO, dari Universitas Melbourne, Graduate School of Business and Economics. Joe, seorang ahli sarjana, yang paling terkenal dalam Hubungan Industri di Australia. Professor Joe Isaac wafat pada tahun 2019. Tetapi prestasi dan warisannya terus berlanjut antara Indonesia dan Australia. 

ANTHONY LIEM B.ARCH (SYDNEY UNIVERSITY) – RETIRED ARCHITECT AND HONORARY HISTORY RESEARCHER –PH +61 432 258 693

REFERENCES:

ALAN RIX – INTERMITTENT DIPLOMAT; THE JAPAN AND BATAVIA DIARIES OF W, MACMAHON BALL

JOHN LEGGE – NEW DIRECTIONS IN AUSTRALIAN FOREIGN POLICY; AUSTRALIA AND INDONESIA

PROFESSOR JOE ISAAC BERSAMA ANTHONY LIEM WAKTU MEREKA BERTEMU PADA TAHUN 2018