Share This Article

Liputan Utama
August 17, 2018 posted by Ozip Team

Cara Anak Muda Mencintai Indonesia

Cara Anak Muda Mencintai Indonesia

Kemajuan teknologi di berbagai bidang saat ini memungkinkan anak muda Indonesia masa kini untuk terlibat dalam pergaulan global. Arus informasi global yang kuat serta akses perjalanan lintas negara yang relatif mudah kemudian menimbulkan kekhawatiran akan lunturnya nilai-nilai dan akar budaya Indonesia di diri generasi milenial. Tak heran jika anak muda “zaman now” seringkali dikritik karena dinilai kurang memiliki nilai-nilai keindonesiaan dalam dirinya. Perilaku dan gaya hidup modern generasi muda ini dianggap mencerminkan perilaku yang kurang santun dan semakin menjauh dari nilai-nilai luhur bangsa. Sudah begitu, tingginya kebutuhan anak muda untuk pergi ke luar negeri baik untuk belajar, bekerja, atau sekadar jalan-jalan, juga membawa kekhawatiran lain: anak muda menjadi lupa pada Indonesia.

Apakah pandangan ini benar adanya? Menurut Bayu Pratama, mahasiswa RMIT University sebenarnya amatlah rumit untuk menilai anak muda sekarang saat perubahan sosial di dunia terjadi sangat cepat. “Itu tergantung anak muda-nya Indonesia, panutan yang mereka dambakan juga mempunyai efek tersendiri. Di satu sisi, banyak yang menginginkan hidup kebarat-baratan, namun masih banyak kalangan muda Indonesia yang masih menjaga norma-norma Indonesia seperti Pancasila, terlepas mereka tinggal di dalam walaupun luar negeri,” ujarnya.

 

Desi Nur Akbari memandang bahwa internet merupakan salah satu faktor yang membuat pudarnya rasa sopan-santun dalam perilaku anak muda. “Kini hampir semua informasi dan pengetahuan sangat mudah diakses oleh anak muda. Kita seolah tidak perlu lagi mengkaji dan belajar dari orang yang lebih tua. Sebagian orang juga beranggapan bahwa teori-teori dari para tetua itu kuno,” ujar gadis asal Bukittinggi yang sedang mencari pengalaman kerja di Australia menggunakan working holiday visa ini.

 

Akan tetapi, menurut Bayu yang sudah menjadi penduduk Melbourne sejak enam tahun lalu, kemajuan teknologi justru bermanfaat untuk mempromosikan Indonesia ke semua orang di dunia dan dari berbagai kalangan. “Orang mau belajar budaya Indonesia sekarang makin mudah dengan banyaknya platform teknologi seperti YouTube, Facebook, dan sebagainya.”

Senada dengan Bayu, Ezar Resha, pemuda asal Jakarta yang juga alumnus Monash University mengatakan bahwa kemajuan teknologi tidak serta-merta membuat budaya Indonesia sulit dipertahankan. “Ide-ide seperti Pancasila atau nilai yang terkandung dalam Bhinekka Tunggal Ika bisa selalu kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” tukasnya.

 

Sementara itu, menanggapi lalu lintas anak muda yang gemar bepergian ke luar negeri, Desi mengatakan bahwa sebenarnya merantau itu baik. “Bangsa kita sendiri sudah mengenal tradisi merantau, seperti di masyarakat Minang. Merantau sangat dianjurkan agar ilmu serta wawasan bisa bertambah,” tutur Desi. Hanya saja, seringkali si perantau lupa dengan nilai-nilai budaya serta adat di tempat asalnya. Di titik inilah, menurut Desi, budaya akan susah dipertahankan. Karena itu, ia mengingatkan agar anak-anak muda yang merantau ke luar negeri seperti ke Australia membawa hal-hal baik yang ia temui di negara ini untuk membangun masyarakat yang lebih baik di Indonesia. “Kalau hanya membanding-bandingkan saja, memang akhirnya akan terasa berat kembali ke tanah air,” kata Desi.

 

Lalu bagaimana sih cara anak muda mewujudkan cintanya terhadap tanah air, terutama bagi mereka yang sedang berada di luar negeri seperti Australia?

 

Bayu menyebutkan bahwa anak muda bisa menunjukkan kecintaannya pada Indonesia di antaranya dengan mengajarkan budaya Indonesia kepada murid-murid sekolah yang berada di luar negeri, memberikan informasi untuk warga negara Indonesia melalui forum dan teknologi, serta menghargai satu sama lain walaupun berbeda agama, suku, jenis kelamin, dan sebagainya.

 

“Tidak semua orang perlu melakukan revolusi untuk mewujudkan rasa cinta terhadap tanah air,” kata Ezar. Hal yang paling penting adalah membangun kesadaran bahwa kita semua merupakan jendela pertama ke budaya negeri Indonesia bagi orang lain. “Jangan malu menunjukkan budaya Indonesia yang indah dan kaya,” katanya, “sebab kadang-kadang, melihat orang lain mengapresiasi indahnya budaya Indonesia akan mengingatkan betapa luar biasanya negara kita.”

 

Teks: Pratiwi Utami dan Evelynd

 Foto: Bayu Pratama, Ezar Resha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bayu (kanan) dan teman-temannya sedang mempersiapkan pementasan budaya Indonesia/Foto: dok. Bayu Pratama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ezar Resha (berdiri paling belakang) bersama teman-teman lintas negara dalam sebuah kegiatan di kampus/Foto: dok. Ezar Resha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *