PPIA QUT Tampilkan Tari Ratoh Duek di Brisbane

Penampilan Tari Ratoh Duek

Indonesian Students Association at QUT (ISAQ) untuk pertama kalinya menampilkan Ratoh Duek, tarian tradisional dari Aceh yang lebih dikenal dengan tari saman. Penampilan tari ini menjadi opening act pada acara Creative Exchange, gelaran seni dan budaya yang diselenggarakan oleh QUT Guild pada Jumat, 5 Juni 2026 di La Boite Theatre, Brisbane. Acara ini memberikan kesempatan kepada berbagai student club dan komunitas berbasis budaya di QUT untuk unjuk bakat dan penampilan seni. Pertunjukkan beragam mulai dari musik, drama, band, akustik, paduan suara, tari tradisional, peragaan busana, modern dance, dan seni kontemporer lainnya. Meskipun sudah sering ditampilkan di Indonesia, masyarakat di Brisbane justru belum familiar dengan tarian Ratoh Duek ini. Gilang selaku Presiden ISAQ mengaku sangat bangga dengan penampilan tim tari ini, “Performance-nya sangat keren! QUT Guild memilih tari ini sebagai performance pertama dan menurutku itu opener terbaik untuk acara itu.”

Setelah latihan hampir dua bulan lamanya, tim ISAQ berhasil memukau penonton yang hadir dengan konsep tarian yang unik, yakni body percussion seperti tepukan tangan yang dinamis. Evelynd, mahasiswa PhD di QUT yang juga menjadi pelatih tim tari ini mengungkapkan, “Awalnya ragu apakah bisa melatih teman-teman dari nol, ternyata mereka semua antusias, jadi saya juga yakin bisa.” Dengan latihan rutin, tentunya sangat membantu dalam membentuk kekompakan, tak hanya antar penari tapi juga dengan irama gendang dan alunan lagu yang dinyanyikan. Gabriella, mahasiswa PhD yang juga ikut menari mengatakan, “I’m so amazed by all the first-time performers, you all learned so fast! Salut!” Meskipun sudah berpengalaman belajar tari Ratoh Duek sebelumnya di Indonesia, ia tetap semangat memperlancar gerakan dan turut membantu melatih teman penari lainnya.

Sebanyak 7 orang penampil tari, 2 orang diantaranya bukanlah orang Indonesia. Satu orang Australia, Cyrus Goulter merupakan mahasiswa QUT yang pernah mengikuti Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) tahun 2025. Dari pengalamannya mengikuti AIYEP ke Lampung, ia sangat terkesan dengan budaya Indonesia khususnya mempelajari tarian tradisional. “An invaluable journey with AIYEP to experience such a beautiful culture. I wanna continue to learn and discover the cultures.” Tentu saja, ia tertarik mempelajari tari Ratoh Duek dan semangat untuk tampil. Seorang penari lainnya berasal dari Jerman, Marlene Ebster mengungkapkan, “When I think of our performance, I return to the moment we stepped on stage. We moved as one, focused, listening more deeply than ever to the drums and chants. It felt transcendent, though our bodies never stopped moving. We became a single rhythm with a shared purpose: to give joy by holding it ourselves.”

“In a long ratoh duek practice there are two kinds of dancers: those with aching knees and those with aching feet. Still, time always slipped past me. I was having too much fun to notice,” tambah Marlene, terkenang dengan momen saat latihan.