Nusantara in Melbourne 2026: Membangun Jembatan Lewat Cerita, Bahasa, dan Budaya

Ruby Healey & Kris Redden (Buku Merantau); John Cheong Holdaway (Gamelan Dan Anda); Yacinta Kurniasih (Monash University); Helen Brown (The Australia-Indonesia Centre)

Oleh Muhammad iqbal

“Budaya adalah penghubung. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti.” Pesan tersebut disampaikan oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Victoria dan Tasmania, Yohanes Jatmiko Heru Prasetyo, dalam pembukaan acara Nusantara in Melbourne 2026 pada Sabtu lalu, 13 Juni 2026.

Diselenggarakan oleh AIYA Victoria bersama IDN (Indonesian Diaspora Network), Nusantara in Melbourne tahun ini kembali menjadi ruang yang mempertemukan Diaspora Indonesia dan para penggiat budaya Indonesia di Australia dari beragam latar belakang, mulai dari pendidikan, riset, seni, hingga budaya. Mengangkat tema Building Meaningful Connections between Indonesia & Australia, acara ini menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dibangun oleh pemerintah atau institusi besar, tetapi juga melalui people-to-people connection yang berawal dari rasa ingin tahu, lalu tumbuh menjadi persahabatan dan pengalaman yang dibagikan bersama.

Dalam sambutannya, Ian Darmawan selaku Presiden AIYA Victoria menekankan pentingnya merayakan budaya kita sendiri di luar negeri sebagai salah satu bentuk upaya membangun hubungan yang lebih dekat antarmasyarakat. Senada dengan itu, Devi Shanty, Presiden IDN Victoria, mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia akan semakin kuat ketika lebih banyak orang terlibat dan saling mengenal satu sama lain.  

OZIP/Muhammad Iqbal

Sasando, alat musik tradisional dari Pulau Rote, NTT, dibawakan oleh Kakak Yona


Setelah sambutan pembuka, acara diawali dengan Penampilan Sasando yang berkesan dari Kakak Yona. Alat musik khas Pulau Rote ini tidak hanya membawakan lagu nasional Tanah Air Indonesia, tetapi juga Waltzing Matilda, lagu yang bagi banyak warga Australia memiliki tempat istimewa layaknya lagu nasional tidak resmi. Perpaduan ini seolah menggambarkan tema besar acara: dua budaya yang berbeda, namun dapat berpadu harmonis ketika dimainkan bersama.

Diskusi Panel dengan Narasumber

OZIP/Muhammad Iqbal

Dengan semangat yang ia sebut sebagai “provokator bahasa”, Ibu Yacinta mendorong setiap orang untuk ikut berperan dalam menjaga dan mempromosikan Bahasa Indonesia


Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah diskusi panel yang menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang. Menariknya, sebagian besar pembicara bukan hanya memiliki hubungan profesional dengan Indonesia, tetapi juga hubungan personal yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Ketika diminta menggambarkan Indonesia dalam satu kata, jawaban yang muncul menunjukkan betapa beragamnya pengalaman mereka akan Indonesia. Helen Brown dari Australia-Indonesia Centre memilih kata “bingung”, menggambarkan kompleksitas Indonesia yang tidak pernah habis untuk dipelajari. Kris Redden, salah satu editor buku Merantau, memilih kata “rasa” karena menurutnya Indonesia mampu menghadirkan banyak makna dalam satu kata, mulai dari rasa makanan, rasa nyaman, hingga rasa diterima.

Sementara itu, John Cheong Holdaway dari Gamelan DanAnda memilih kata “kurang”. Bukan dalam arti negatif, melainkan karena selalu ada ruang untuk menemukan hubungan baru antara Indonesia dan Australia dari berbagai sisi kehidupan. Baginya, musik menjadi salah satu jembatan yang kuat untuk mempertemukan kedua budaya.

Yacinta, di sisi lain, memilih ungkapan “stick together no matter what” untuk menggambarkan hubungan Indonesia dan Australia. Menurutnya, kedua negara memiliki ikatan yang tetap terjaga dan terus berjalan bersama, apa pun tantangan yang dihadapi.

OZIP/Muhammad Iqbali

Diaspora Indonesia dan warga mancanegara di Melbourne bergandengan tangan mengikuti line dance bersama dengan iringan lagu dari Indonesia Timur


Topik hubungan antarmasyarakat diangkat Helen Brown dengan membahas peran media. Menurutnya, berita tidak hanya berfungsi untuk memberitakan apa yang terjadi, tetapi juga membantu orang memahami konteks dan sudut pandang yang berbeda. Semakin banyak cerita yang menghadirkan perspektif dari kedua sisi, semakin besar pula kesempatan bagi masyarakat Indonesia dan Australia untuk saling mengenal. Dari sana, rasa saling percaya dapat tumbuh secara perlahan melalui pemahaman yang lebih baik satu sama lain.

Hubungan antar masyarakat juga menjadi tema utama dalam pembahasan buku Merantau: Stories of Indonesian Food and Migration. Kris Redden dan Ruby Healey berbagi cerita mengenai proses mengumpulkan resep dan kisah keluarga diaspora Indonesia di Victoria. Salah satu cerita yang menarik adalah mengenai Palumara, sup ikan khas Makassar yang mencerminkan hubungan panjang antara pelaut Makassar dan masyarakat Australia Utara jauh sebelum hubungan diplomatik modern terbentuk.

Melalui makanan, mereka menemukan bahwa cerita migrasi menjadi lebih mudah dipahami. Bukan sekadar resep, tetapi juga cerita tentang rumah, perjalanan, dan identitas.

Di bidang pendidikan, Yacinta Kurniasih dari Monash University mengajak peserta untuk melihat pembelajaran bahasa Indonesia dari sudut pandang yang lebih sederhana. Menurutnya, promosi bahasa Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau sekolah, tetapi juga pada upaya sehari-hari masyarakat Indonesia sendiri. Setiap orang dapat menjadi duta budaya melalui interaksi kecil yang mereka lakukan.

Aktivitas Lainnya

OZIP/Muhammad Iqbal

Warga Australia antusias mengikuti Workshop Patchwork Batik


Selain diskusi panel, terdapat berbagai aktivitas budaya yang turut memeriahkan acara. Pengunjung dapat mengikuti workshop angklung yang dipandu oleh tim Sosial Budaya KJRI Melbourne, workshop batik patchwork bersama Bu Siska Prabowowati Dart, hingga akhirnya ditutup dengan menari bersama, Line Dancing, diiringi dengan lagu dari Timur Indonesia.

Pesan serupa juga disampaikan ketika menjelaskan filosofi angklung. Setiap angklung hanya memiliki satu nada. Namun ketika dimainkan bersamaan, semuanya menghasilkan harmoni yang indah. Analogi sederhana ini terasa sangat relevan dengan hubungan Indonesia dan Australia yang dibangun oleh banyak individu dengan latar belakang berbeda.

Menjelang sore, acara ditutup dengan sesi line dance yang meriah. Peserta dari berbagai usia dan latar belakang ikut menari bersama, tertawa, dan berbincang tanpa sekat.

Pada akhirnya, Nusantara in Melbourne bukan hanya tentang budaya Indonesia di Australia. Acara ini menjadi pengingat bahwa hubungan kedua negara pada dasarnya dibangun oleh manusia yang saling mengenal, saling belajar, dan saling menghargai. Dari makanan, musik, bahasa, hingga percakapan sederhana, setiap pertemuan memiliki potensi untuk membangun jembatan yang lebih kuat antara Indonesia dan Australia