Share This Article

Kolom Opini Nuim
October 30, 2017 posted by Ozip Team

Merpati Dua Sejoli

Merpati Dua Sejoli

Merpati dua sejoli
Terbang dua sekawan
Di mana matahari
Di situ pula bulan

(Uji Rashid, Hail Amir)

Bait pertama dalam lagu “Merpati Dua Sejoli” melambangkan keeratan dua orang yang saling berkasih-kasihan, mirip “laksana lepat dengan daun” alias “pinang dibelah dua”. Orang Inggris menyebutnya “love birds”.

Burung memang merupakan makhluk yang luar biasa: mampu berjalan, bahkan mengapung di air, dan, ini yang paling mengagumkan, terbang.

Namun kini, begitu menurut laporan media di Indonesia, burung, khusus di Purbalingga, malahan menjadi penyebab petaka dalam rumah tangga.

Di Kabupaten itu, burung dara alias merpati putih yang dianggap oleh umumnya manusia sebagai lambang cinta dan perdamaian ternyata menjadi penyebab putusnya kasih. Banyak perempuan di Purbalingga menuding burung dara atau merpati putih sebagai penyebab berantakannya rumah tangga.

Rupanya tidak sedikit para suami di Purbalingga yang menelantarkan rumah tangga mereka gara-gara kecintaan atau keasyikan mereka dengan burung dara.

Bulan Juli lalu, begitu dilaporkan, tercatat 90 gugatan talak, suatu kenaikan besar dibandingkan dengan 13 gugatan cerai dalam bulan sebelumnya.

Gara-garanya? Itu tadi, keasyikan sang suami untuk menjadi “pilot” – harap maklum pilot dalam kaitan ini bukan seseorang yang menerbangkan pesawat udara, melainkan lelaki yang hampir sepanjang hari bermain dengan burung dara. Banyak di antara para suami itu yang menganggur, dan yang mencari nafkah adalah para isteri. Ibarat sudah jatuh dihimpit tangga pula, para suami dimaksud “menelantarkan” sang isteri yang sudah rela banting tulang untuk menjaga agar dapur bisa terus berasap, karena keterpukauan mereka terhadap burung dara.

Menurut seorang penduduk mereka yang keranjingan burung dara ini biasanya dari jam 10:00 pagi sampai mejelang malam, berkumpul di sawah untuk melatih burung-burung mereka. Dan bukan itu saja, melainkan juga tidak jarang para pemilik burung saling bertaruh dalam perlombaan manuk dara mereka. Dan nampaknya hobi ini sudah mulai menulari kawasan-kawasan lain di Jawa. Ada kalanya sang suami memberi uang belanja kepada isterinya dari hasil kemenangan dalam taruhan itu, namun lebih sering sang suami meminta uang rokok dari isterinya.

Kalau begitu benar apa yang dikatakan wartawan Amerika John Hughes dalam bukunya “The End of Sukarno” (hal. 169): “Bagi orang (lelaki?) Jawa kebahagiaan adalah rumah (tangga), isteri dan burung”. Tidak dijelaskannya apakah itu burung perkutut atau burung lain (dara atau merpati putih).

Dalam bukunya “Saladin” (hal. 78-9) sejarawan Inggris John Man mengatakan, “Tidak jarang pemilik merpati (di Timur Tengah) memperlombakan burung merpati mereka menempuh jarak sampai 1.600 kilometer. Merpati mampu terbang dengan kecepatan 100 kilometer per jam, untuk selama tiga hari, dan hanya istirahat ketika malam tiba.”

Sejarawan Mesir Taqi al-Din Abu al-Abbas Ahmad ibn ‘Ali ibn ‘Abd al-Qadir ibn Muhammad al-Maqrizi (1364–1442), mencatat tentang pemanfaatan burung merpati terlatih. Dikatakan, menjelang akhir abad ke-10, seorang Khalifah di Mesir sangat menyukai buah cherry dari Baalbek. Sang Wazir (Perdana Menteri) pernah mengerahkan 600 merpati dari Baalbek ke Cairo, masing-masing membawa sebuah cherry yang dimasukkan ke dalam sebuah kantung sutera yang diikatkan di salah satu kaki burung. Jarak Baalbek-Cairo adalah 600 kilometer. Kalau burung-burung merpati itu dikerahkan pada pagi hari dari Baalbek maka Khalifah niscaya akan dapat menikmati buah-buah cherry itu setelah santap malam. Jadi pemanfaatan burung (dara atau merpati) sebagai “alat angkutan” memang bukanlah hal baru.

Burung punya makna tersendiri bukan saja dalam tiap-tiap budaya, melainkan juga dalam sejumlah agama, termasuk agama Kristen dan Islam. Dalam agama Kristen, Santo Benedict dikatakan pernah dicoba untuk digoda oleh setan yang menyamar sebagai seekor burung hitam, namun Santo Benedict tidak berhasil diperdaya oleh burung hitam itu, yang kemudian menghindar setelah diusir dengan salib.

Sekarang ini kita sering melihat burung dara dijadikan lambang perdamaian. Dalam Kitab Suci Umat Islam – Al Qur’an – pada Bab/Surah (105) berjudul Al-Fiil (Gajah) diriwayatkan tentang Raja Yaman Abrahah, yang dengan menunggang seekor gajah (bernama Mahmud) bermaksud mengerahkan bala tentaranya untuk menghancurkan Ka’bah (Batu Hitam yang kini berada di Masjid Agung Makkah.

Ekspedisi Raja Abrahah itu terjadi ketika Islam belum diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Memang bahkan sebelum datangnya Islam, Ka’bah sudah disucikan oleh banyak penduduk di Jazirah Arab, dan dijadikan tempat suci untuk diziarahi.

Raja Abrahah ingin memindahkan tempat suci itu ke negerinya sendiri di Yaman, di mana ia telah membangun sebuah gereja yang sangat megah dan menjulang tinggi, dan ia menganggap Ka’bah sebagai saingan, karenanya perlu dimusnahkan, khusus oleh gajah tunggangannya itu.

Tetapi sebelum sempat Raja Abrahah melaksanakan niatnya itu, bala tentaranya diserang oleh “burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang dibakar” (QS 105:3&4). Akhirnya bala tentara Raja Abrahah lumat “seperti daun-daun yang dimakan ulat”.

Ada pakar teknologi Muslim yang menafsirkan “batu dari tanah yang dibakar” itu sebagai nuklir – kecil namun punya daya menghancurkan yang sangat luar biasa. Wallahu a’lam. Yang jelas, keberadaan Raja Abrahah memang merupakan fakta sejarah.

Sewaktu masih kecil penulis pernah memelihara seekor burung cerocok. Ketika orang tua penulis mengetahui tentang burung dalam sangkar ini ia marah dan memerintahkan agar burung tersebut segera dilepaskan dari sangkarnya.

Penulis minta waktu dengan alasan bahwa konon burung itu masih sakit. Permintaan ini dikabulkan. Sejak itu, selama seminggu lebih burung itu penulis beri air minum yang sudah dicampuri perasan daun ganja (waktu itu di kampung kami banyak orang tanam ganja yang daunnya dipakai untuk penyedap masakan).

Setelah itu burung cerocok tadi penulis lepaskan, namun setiap kali dia haus niscaya akan kembali ke rumah penulis untuk mengisyaratkan dengan kicauannya bahwa dia ingin minum. Pada suatu hari sang burung tidak muncul dan seterusnya absen. Apa pun, anekdot ini merupakan bukti kuat bahwa ganja memang mencandukan. Dan para pakar kesehatan di Australia menganggapnya berbahaya.

Penduduk Afrika Utara, yang pernah berkuasa di Andalus, Spanyol selama sekitar tiga abad, terutuma warga Maroko, sangat doyan makan burung merpati, sebagaimana halnya dengan banyak penduduk Timur Tengah.

Di kampung halaman penulis di Medan, dikenal burung punai, yang juga dagingnya sangat digemari warga. Hanya biasanya nama burung punai diganti dengan ”burung salah nama” karena dalam dialek Melayu Deli punai berarti alat vital lelaki.

Banyak negara menggunakan burung sebagai lambang kenegaraan mereka. Australia menggunakan burung unta yang tidak bisa terbang. Bangsa Selandia Baru bangga kalau dijuluki kiwi, juga burung yang tidak bisa terbang. Amerika membanggakan burung elang botak, sementara Indonesia dikenal sangat mengagumi burung Garuda.

Tapi Garuda mana? Apakah yang disebut “Elang Jawa”? Ataukah burung yang disebut dalam mitologi Hindu dan Buddha – burung yang dikatakan sebagian unggas dan sebagian manusia (suci)? Yang menjadi tunggangan Dewa Wishnu? Seharusnya ditanyakan kepada perancang lambang Garuda Pancasila, (Alm.) Sultan Hamid II #Wallahu a’lam.

Teks: Nuim Khaiyath

Foto Ilustrasi: Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *