Share This Article

Profile
May 12, 2018 posted by Ozip Team

Luc si “Ajo Bule”: Living in Harmony

Luc si “Ajo Bule”: Living in Harmony

Lucas Hainsworth atau yang punya nama beken “Ajo Bule” ini adalah sosok fenomenal yang dikenal karena kecintaannya pada Indonesia, khususnya budaya Minangkabau. Ajo merupakan panggilan untuk lelaki di Pariaman, Sumatera Barat. Meskipun lahir dan dibesarkan di Melbourne, Luc merasakan nasibnya berubah sejak mulai belajar Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Tidak pernah disangka oleh Luc saat masih kecil hidup sebagai seorang Melburnian, tidak punya bayangan apapun tentang Indonesia, akhirnya bisa mengubah Luc menjadi Ajo! Mari kita simak kisah Ajo Bule di kolom My Melbourne kali ini!

Saat kelas 3 di sekolah menengah, Luc mendapatkan kesempatan ke Indonesia untuk mengikuti program pertukaran pelajar di sekolah Al-Azhar, Jakarta. Di usia 13 tahun ini lah pertama kalinya ia ke luar negeri dan tinggal jauh dari orangtua. Gaya hidup di Jakarta memang sangat berbeda dengan Melbourne. Untuk kedua kalinya, Luc kembali ke Indonesia pada tahun 2006. Tidak lagi mengunjungi ibukota Jakarta, tapi Luc pergi ke kota Padang. Tentu saja ia merasakan pengalaman yang sangat berbeda dengan kunjungannya ke  Jakarta dulu.

Padang adalah tempat yang istimewa karena kota ini tidak biasa dengan kedatangan orang asing atau turis seperti di Jakarta. Uniknya, orang Padang sangat kuat dengan tradisi dan agamanya tetapi masih terbuka dan sangat ramah dengan orang asing, terutama bule seperti saya. Tak hanya terpesona dengan budayanya, Luc juga sangat menyukai kota Padang dari segi lingkungannya, ombak dan pantai yang indah, pemandangan saat matahari terbenam, danau, gunung api, tempat-tempat wisata, dan yang paling utama adalah kuliner masakan khasnya yang membuat Padang begitu spesial di hati Luc.

Luc mengikuti kursus Bahasa Indonesia selama 6 minggu di Universitas Negeri Padang (UNP). Disitu juga pertama kalinya Luc mengenal bahasa daerah yaitu bahasa Minang yang digunakan oleh hampir seluruh warga kota Padang. Tak hanya di Padang, ia juga sempat “pai raun” atau pergi jalan-jalan ke Bandung, Jawa Barat. Ternyata takdir mempertemukan ia dengan jodohnya. Pada akhir tahun 2007, Luc menikah dengan Monalisa, yang saat itu menjadi pengajar Bahasa Indonesia di UNP.

Usahanya untuk mempelajari Bahasa Indonesia dan memahami budaya Minang memang patut diacungi jempol. Bahkan, Luc sudah bisa berkomunikasi layaknya orang Padang asli. “Mertua juga sangat menerima saya karena tidak ada kesulitan bahasa dan bisa berkomunikasi dengan baik,” ungkap Luc. “Saya memang tipe orang yang suka berkomunikasi dan bertukar pendapat dengan orang lain,” tambahnya. Hal itulah yang memudahkan Luc untuk blend in to the community.

Meskipun sudah sering bolak-balik ke Indonesia dan Australia, Luc selalu menemukan banyak inspirasi dari kehidupan di dua tempat yang sama-sama ia cintai ini, Padang dan Melboune. Misalnya dari cara menghadapi isu waktu, di Padang 1 minggu terasa sangat lama namun di Melbourne semua berlalu dengan sangat cepat. “Kehidupan berkarir di Melboune memang sangat mendukung tetapi untuk masa pensiun mungkin lebih senang untuk dihabiskan di Padang,” ujar Luc yang saat ini tengah menantikan kelahiran anak keduanya. “Walaupun secara fisik saya di Melbourne, tapi secara emosi dan jiwa, saya lebih menikmati suasana di Padang. Terkadang saya juga merindukan Melbourne ketika saya di Padang.”

Setelah hampir 20 tahun mendalami budaya Indonesia, khususnya budaya Minangkabau, Luc bergaung mengikuti kegiatan-kegiatan bersama komunitas Minang Saiyo di Melbourne. Monalisa, sang istri juga mengelola kelompok tarian tradisional Indonesia dan aktif mengajarkan tarian Minang di Melbourne. Luc yang sejak kecil menyukai musik dan hobi bernyanyi ini juga sering menyanyikan lagu-lagu Minang. Tak disangka, berawal dari video nyanyiannya yang di-share di Instagram oleh istrinya saat pergi ke kantor dengan mobil setiap pagi, Luc @ajo_bule saat ini memiliki lebih dari sepuluh ribu followers. Keunikan seorang bule yang fasih berbahasa Minang menjadi daya tarik tersendiri bagi para netizen.

Ajo Bule bukanlah suatu karakter yang Luc mainkan, tidak ada perbedaan antara Luc dan Ajo dalam kesehariannya. Justru ini adalah cara Luc untuk berbagi inspirasi dan meng-highlight perbedaan budaya. Instagram jadi platform yang digunakan Luc untuk saling berkenalan dengan para follower-nya yang ingin tahu bagaimana kehidupan di luar negeri, terutama di Melbourne. Dengan melihat keseharian Luc, para followers menjadi terbuka wawasannya dan termotivasi untuk menguasai bahasa Inggris. Di sisi lain, melalui instagram Luc juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada orang-orang di Australia. Tentu saja semuanya berdampak positif untuk mengatasi cultural gap antara orang Padang dan Melburnian.

Menjadi seorang Melburnian sekaligus Ajo Bule membuat Luc sadar bahwa Melbourne dan Padang juga memiliki kesamaan. “We both have similar values; we want a good life, to enjoy the environment we live in and to live in harmony with each other.” Keselarasan hidup orang-orang dengan budaya yang beragam menjadi inspirasi bagi Luc untuk membantu orang dengan cara berbagi pengalaman hidup. Inilah peran yang diambil Luc untuk menjembatani cultural gap antara Melbourne dan Padang agar terciptanya kehidupan multikultural yang harmonis antara negara bertetangga Indonesia dan Australia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *