Oleh Muhammad Iqbal
Kembali lagi di tahun ini, Satay & Reog Festival 2026 hadir meramaikan pusat kota Melbourne dengan membawa suasana khas Indonesia yang hangat dan penuh warna. Festival yang diselenggarakan pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Fed Square ini menjadi salah satu acara budaya Indonesia yang paling dinantikan oleh diaspora Indonesia maupun masyarakat multikultural Melbourne.
Acara yang berlangsung dari pukul 1 siang hingga 7 malam ini diselenggarakan oleh IDN Australia bersama Perwira (Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria), serta didukung oleh City of Melbourne dan KJRI Melbourne. Mengusung konsep festival budaya dan kuliner yang santai dan terbuka untuk semua kalangan, Satay & Reog Festival menjadi ruang berkumpul yang mempertemukan makanan, musik, seni, dan budaya Indonesia dalam satu tempat.
Sejak siang hari, area Fed Square sudah dipenuhi pengunjung yang datang bersama keluarga dan teman-teman. Aroma sate yang dibakar langsung di area festival langsung terasa begitu memasuki area acara. Tidak sedikit warga lokal Australia yang terlihat penasaran mencoba sate Indonesia sambil menikmati berbagai penampilan budaya di panggung utama.
Sate memang menjadi salah satu simbol utama festival ini. Bukan sekadar makanan, sate membawa cerita tentang bagaimana makanan bisa menjadi jembatan antarbudaya. Dari kaki lima hingga restoran, sate selalu punya tempat spesial bagi banyak orang Indonesia. Di festival ini, makanan menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.

OZIP/Muhammad Iqbal
Penampilan Tari Saman dari SAV Dance
Tidak hanya soal kuliner, festival ini juga membawa berbagai penampilan budaya yang membuat suasana Fed Square terasa seperti sedang berada di Indonesia. Salah satu penampilan utama tentu saja pertunjukan Reog yang dibawakan oleh Nita Rahayu bersama Dadak Merak. Dengan topeng besar khas Reog Ponorogo, musik tradisional, dan gerakan yang penuh tenaga, penampilan ini sukses menarik perhatian pengunjung yang memadati area depan panggung.Juga terdapat penampilan menarik dari Reog Jangkar Bumi yang diselingi dengan breakdance dari salah satu penari.
Penampilan tari tradisional lainnya juga ikut memeriahkan festival. Mulai dari Saman Dance for Kids, SAV Dance, Sang Budi Dance, hingga Melindo Dance tampil bergantian membawakan tarian dari berbagai daerah Indonesia. Penonton terlihat antusias, terutama saat anak-anak diaspora Indonesia tampil membawakan Tari Saman di atas panggung.
Di sela-sela penampilan budaya, berbagai band komunitas diaspora Indonesia juga hadir membawakan lagu-lagu yang akrab di telinga masyarakat Indonesia. Parahyangan Express menjadi salah satu yang menarik perhatian lewat lagu-lagu nostalgia seperti Anak Sekolah dari Chrisye dan Cerita Cinta dari Kahitna. Mereka juga membawakan lagu Pancarona dari Barasuara yang belakangan dikenal sebagai soundtrack film Sore. Selain itu terdapat pula penampilan dari Dromana Band, Jawa Pitu Band, Ivan Tandyo Band, SJV Band, hingga Yarra Irama Band yang membuat suasana semakin meriah.
Salah satu momen yang paling seru terjadi ketika pengunjung diajak ikut flashmob bersama JW Dance Production. Diiringi lagu dangdut Gantengnya Pacarku, banyak pengunjung ikut menari bersama di area depan panggung. Tidak hanya diaspora Indonesia, warga lokal Australia juga terlihat ikut menikmati suasana dan mencoba mengikuti gerakan tari bersama.

OZIP/Muhammad Iqbal
Model mengenakan kostum karya Ganda Marpaung meramaikan di tengah kerumunan pengunjung
Selain musik dan tarian, festival ini juga menghadirkan fashion runway dari beberapa desainer Indonesia yang sebelumnya tampil di Indonesia Modest Fashion Week Melbourne 2026. Karya dari Maharani Persada by Essy Masita, Dewi deeJE, Btari Btara, Elok, Alia Siregar, hingga Ulfa Mumtaza x She Great Atelier turut dipamerkan di area festival. Salah satu model bahkan sempat berjalan di tengah kerumunan pengunjung dan menarik perhatian banyak orang untuk berfoto bersama.
Tidak lengkap rasanya festival tanpa stand makanan. Berbagai tenant kuliner Indonesia ikut hadir memeriahkan acara, mulai dari Pempek Wei, Pandan Leaf, Dapur Ratna, hingga berbagai makanan ringan khas Indonesia lainnya. Banyak pengunjung terlihat duduk santai di area Fed Square sambil menikmati makanan dan menyaksikan pertunjukan budaya sepanjang sore.
Satay & Reog Festival 2026 kembali membuktikan bahwa budaya Indonesia selalu punya cara untuk menghadirkan rasa dekat dan kebersamaan, bahkan jauh dari rumah. Di tengah kota Melbourne yang multikultural, festival ini menjadi ruang untuk berbagi cerita, rasa, dan tradisi Indonesia kepada semua orang.
















