Perilaku Pejabat di Bencana Sumatera – Episode 1

“If you feel pain, You are alive. If you feel other people’s pain, you are a human being.” Leo Tolstoy

Tajuk berita di media social: 

  • Gajah dan anjing K-9 Dikerahkan bantu Penanganan Pasca Bencana di Aceh
  • Gajah di Aceh Bersihkan Kayu Pasca Banjir
  • Greenpeace Sedang Siapkan Materi Gugat Pemerintah terkait Bencana di Sumatera
  • Aceh Tsunami ke dua
  • Sebenarnya apa yg salah?

Bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bukan bencana alam tapi bencana yang disebabkan oleh keserakahan manusia. Ratusan penduduk yang tewas dan hampir mencapai 2, 664 terluka dan ribuan terpaksa diungsikan.

Kelihatannya pemerintah telah gagal melindungi dan membantu rakyatnya sendiri. Juga banyak diberitakan hal ini disebabkan oleh para menteri yang tidak kompeten dan bermental feudal dan tidak punya empati terhadap penderitaan rakyat yang sedang ditimpa musibah.

Sampai tanggal 24/12/25 korban yg tewas 1,135 (Kompas), 174 orang hilang dan 489.864 diungsikan! Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) ada 157.838 rumah rusak akibat banjir Sumatera. Bencana yang diakibatkan oleh keserakahan manusia.

Tapi anehnya banjir mulai tanggal 24 November 25 tapi baru ada beritanya 27 November 30, terlambat 3 hari baru ramai di sosmed dan ini katanya kesalahan ini kesalahan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)?

Zulkifli Hasan (menteri dari pemerintahan sebelumnya), Menteri Urusan Makanan, pernah menjadi anggota DPR dan MPR. datang ke Aceh, ‘memikul satu karung beras kecil! Kalau seandainya dia memikul dua(2) karung beras, mungkin reaksi sosmed tidak begitu mengejek seperti sekarang, di mana masyarakat menilai Zulkifli Hasan hanya pura-pura dan semua ini hanya pencitraan dan sosok yang hipokrit!

Bahlil Lahadalia,  (juga dari pemerintahan sebelumnya) menteri Energi & Sumber Daya Mineral, waktu ditanya Presiden Prabowo di tempat bencana mengatakan  listrik akan menyala 100%  di Aceh Tamiang sepenuhnya (7/12/25)! Ucapan Bahlil tidak betul karena ternyata masih gelap! Menurut pengakuan penduduk (8/12/25) sudah 10 hari setelah kejadian mereka masih menggunakan senter dan masih di tenda tanpa listrik dan air bersih yg terbatas! Laporan dari menteri seperti Bahlil (tentu banyak yg lainnya) inilah yang didengar presiden Prabowo Subianto! Laporan Asal Bapak Senang! 

Yang lebih memalukan adalah komentar Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian:  “Bantuan dari Malaysia tidaklah seberapa dibandingkan pemerintah Indonesia!’’Ini komentar macam apa? Komentar dari seorang anak-anak balita atau seorang pejabat Negara yang portfolionya bernama Menteri Dalam Negeri??

Tidak heran kemudian mantan Menteri Luar Negeri Malaysia mengeluarkan pernyataan bahwa Mendagri Indonesia yang bernama Tito Karnavian perlu sekolah lagi agar tahu adab berbicara!

Mungkin bisa dikatakan untuk sementara ini pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah gagal menanggulangi masalah banjir bandang yang menimpa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat karena tidak tanggap dan tidak adanya koordinasi yang cepat dan tepat menanggulangi bencana yang menimpa ketiga provinsi tersebut. Ditambah dengan tingkah laku para menteri yang tidak bertanggung jawab dalam hal mengatasi banjir yang begitu hebat dan mereka memperlihatkan ketidakmampuan mereka dan tidak memperlihatkan empati terhadap rakyat yang menderita.

Dengan alasan apa pemerintah belum mengumumkan sebagai Bencana Nasional?  Kalau sampai gajah-gajah yang habitatnya dihancurkan kemudian minta bantuan mereka membersihkan kotoran-kotoran banjir, berarti sudah saatnya pemerintah mengumumkan Bencana Nasional karena ketidakmampuan pemerintah menangani bencana kali ini.

Gubernur Aceh baru saja mengumumkan perpanjangan Status Tanggap Darurat Bencana hingga 8 Januari 2026. Kesempatan emas untuk pemerintah pusat untuk menunjukkan kesungguhan pemerintah pusat menangani bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera. Bahkan  kalau melewati tanggal perpanjangan tersebut dengan membangun rumah kediaman penduduk yang kehilangan tempat tinggal.

Yang ada sekarang adalah, lebih banyak pertanyaan yang muncul dan hanya ada beberapa jawaban yang tersedia. Jelas bencana banjir di Sumatera kali ini disebabkan karena keserakahan manusia (penguasa) karena dengan jelas kelihatan sebagai bahan bukti, begitu banyaknya pohon dipotong/tebang tanpa adanya control dari penguasa pemerintah setempat/pusat. Pohon-pohon bukan hanya dipotong tapi juga berikut-akar-akarnya!

Mengutip kembali renungan Buya Ahmad Syafii Maarif : ‘’Kerusakan lingkungan alam negeri yang indah ini umumnya dilakukan oleh ‘pengusaha-pengusaha hitam’ yang bersekongkol dengan para pejabat di tingkat pusat dan setempat”. Kerusakan itu merugikan masyarakat dan Negara. Ekosistem hancur berantakan’’ (Kompas,  17/10/2011, ‘Indonesia 2050 seperti Apa?’)

Pesan untuk Presiden Prabowo: “Ada kesan di masyarakat Pak, Bapak sebagai presiden RI ke 8 dan seorang jendral Angkatan , apalagi dari korps pasukan khusus/elit Kopassus kurang tegas menangani bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ada apa Pak? Menteri LB, HZ dan KT adalah menteri-menteri yang bisa merusak nama bapak dan pemerintahan yng bapak  pimpin. Ada baiknya bapak membuka/melihat sosmed, banyak yang hoax memang tapi juga banyak yang menyuarakan hati nurani rakyat! Pintar-pintar bapak memilah mana yang benar dan mana yg hoax. Peristiwa 25 Agustus lalu di mana rakyat marah dengan menjarah dan membakar rumah pejabat Negara. Bukan tidak mungkin itu bisa terjadi lagi. Sebenarnya bapak punya tongkat Nabi Musa yaitu kekuasaan!”

Bapak bisa mengamati kembali kinerja semua menteri termasuk 17 menteri dari pemerintahan sebelumnya yang mungkin saja kesetiaannya masih kepada presiden sebelumnya dan kemudian bapak melakukan ’reshuffle/pergantian’ anggota kabinet yang jelas merongrong kebijakan pemerintah pusat dalam menangani bencana banjir di Sumatera kali ini.

Seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke berdoa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bisa berhasil menyelesaikan masa jabatan pertama sampai 2029 dan Bencana Banjir Sumatera 2025 merupakan tantangan terberat! Kelihatan sekali seluruh rakyat Indonesia kompak bekerja di lapangan membantu korban dan bantuan dari pemerintah sangat diperlukan.

Kepada lebih dari seribu korban yang tewas dan puluhan ribu yang kehilangan tempat serta hampir 500,000 yang diungsikan, puisi dari penyair Australia Nat Witcomb, menggambarkan kepedihan yang diderita korban banjir di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

When we lose

Those we love

You must understand that it takes time

To learn to feel again

For nothing can touch

The heart which is frozen

With grief…..

Anton Alimin

ghazellapublisher@gmail.com