Pasar Senja, Ruang Bernostalgia di Tengah Kota

Setiap tahun, Nongkrong Fest selalu jadi momen yang ditunggu komunitas Indonesia di Melbourne. Tahun ini, bertepatan dengan Valentine Day 14 Februari 2026, acara puncaknya kembali hadir lewat Pasar Senja di Fed Square. Seperti namanya, Pasar Senja mengajak kita berkumpul saat matahari mulai turun, waktu yang pas untuk bersantai, makan enak, dengar musik, dan berkumpul dengan teman dan keluarga. Konsep “nongkrong” memang sederhana, duduk bareng, ngobrol, dan menikmati suasana tanpa harus buru-buru pulang.

Di balik Nongkrong Fest ada Moira dan Darryl Tirtha, dua saudara yang tumbuh di diaspora dan ingin kembali dekat dengan budaya Indonesia. Melansir dari wawancaranya dengan Fed Sq, mereka memulai Nongkrong dari rasa rindu pada musik dan makanan Indonesia, lalu mengubahnya jadi ruang kumpul yang terbuka untuk semua. Tahun-tahun sebelumnya mereka sempat membuat acara dengan tema Sarapan, yang fokus ke suasana pagi di Indonesia. Kali ini, Pasar Senja lebih menekankan momen sore sampai malam, saat orang selesai kerja dan ingin melepas penat.

Di Pasar Senja, pengunjung bisa datang kapan saja antara sore sampai malam. Ada panggung musik, ada pasar kreatif, ada workshop, dan tentu saja banyak makanan. Bukan cuma orang Indonesia, tapi juga warga Australia dan komunitas lain ikut datang. Inilah yang bikin Pasar Senja terasa spesial, bukan sekadar festival, tapi ruang temu budaya yang hangat dan santai. Nongkrong Fest ingin menunjukkan bahwa budaya Indonesia itu hidup, seru, dan bisa dinikmati bareng siapa saja.

Chandra Darusman, Jembatan Antar Generasi

Salah satu penampil utama di Nongkrong, Pasar Senja tahun ini adalah Chandra Darusman. Musisi jazz dan pop kreatif yang sudah lama jadi bagian penting dari musik Indonesia ini tampil sebagai headliner di Fed Square, Melbourne, pada Hari Valentine, 14 Februari 2026.  Ia berbagi panggung dengan Ali, Komang, dan Suara Dance dalam acara yang menggabungkan musik, tari, dan kuliner Indonesia dalam satu perayaan sore hingga malam.

Bagi Chandra, undangan ini terasa sangat spesial. Ia mengaku senang sekali bisa tampil di hadapan masyarakat Indonesia di Australia, sekaligus bertemu dengan publik yang lebih luas. “Ini kesempatan yang bagus buat ketemu dari generasi saya sampai generasi sekarang. Bisa kenalan sama generasi muda di sini, dan juga tampil di depan publik Australia. Enjoy aja,” ujarnya.

Ini juga menjadi konser pertamanya di Melbourne. Sebenarnya, rencana tampil sudah sempat ada sejak tahun lalu, setelah pihak penyelenggara melakukan survei soal artis yang ingin diundang. Namun, baru tahun ini akhirnya bisa terwujud. Kalau suatu hari nanti ada undangan ke Sydney atau Brisbane, beliau merespon dengan santai bahwa ia tentu mau datang.

Meski sering tampil di luar negeri, Chandra masih aktif konser di Indonesia. Ia juga dikenal konsisten menyuarakan isu hak cipta, copyright, dan hak artis, bukan hanya di musik, tapi juga di dunia kreatif secara umum. Baru-baru ini, ia juga menulis buku tentang “invisible cycle” yang bisa diunduh di Gramedia Digital. Lewat buku itu, ia ingin mengajak anak muda lebih sadar tentang siklus yang sering tidak terlihat dalam dunia kreatif dan kehidupan sehari-hari.

Selain bermusik dan menulis, Chandra juga sering mengisi kuliah tamu di SMA dan kampus. Menurutnya, berbagi pengalaman dengan generasi muda itu penting, supaya mereka bisa membangun masa depan dengan lebih sadar dan siap. Di Pasar Senja, Chandra dijadwalkan tampil sekitar jam setengah delapan malam, di waktu yang pas saat suasana mulai masuk ke puncak keramaian.

Lemes Band dan Cerita di Balik Panggung

Selain Chandra Darusman, Pasar Senja juga jadi momen penting buat Lemes Band. Band ini mulai terbentuk sejak awal tahun 2024. Awalnya, mereka hanya main bareng di sebuah acara, lalu merasa cocok dan akhirnya memutuskan untuk lebih serius. Dari situ, mereka mulai mencari beberapa anggota tambahan, meski tidak semuanya bisa selalu aktif karena kesibukan masing-masing. Saat ini, total vokalis mereka ada sekitar empat sampai lima orang, sesuai konsep kolaboratif yang mereka bawa.

Tampil satu panggung dengan Chandra Darusman tentu jadi pengalaman yang bikin deg-degan. Tapi mereka merasa sangat terbantu karena Chandra dan musisi serta seniman senior lainnya bersikap mengayomi. Persiapan juga berjalan cukup rapi. Latihan pertama mereka bahkan baru dimulai tanggal 12, dan itu langsung jadi latihan yang cukup intens.

Single pertama Lemes rilis pada 17 April, dan di Pasar Senja mereka dijadwalkan tampil sekitar 15 menit. Waktu yang singkat, tapi cukup buat memperkenalkan warna musik mereka ke penonton yang datang. Buat Lemes, tampil di acara sebesar ini bukan cuma soal manggung, tapi juga soal belajar, bertemu banyak orang, dan jadi bagian dari ruang temu budaya yang sedang tumbuh di Melbourne.

Dengan hadirnya nama besar seperti Chandra Darusman dan energi baru dari Lemes Band, Pasar Senja bukan cuma jadi tempat nonton musik, tapi juga jadi ruang bertemu antar generasi, antar cerita, dan antar budaya. Di tengah kota Melbourne, Nongkrong Fest kembali mengajak kita untuk duduk bareng, menikmati sore, dan merasa lebih dekat satu sama lain.