Lebih dari 700 pengunjung menikmati kuliner, pertunjukan seni, workshop, dan perjumpaan lintas budaya dalam edisi kedua Icip-Icip.
Teks: Tien Cathy Patricia Hutahaean | Foto: Ning Chan dan Reniel Tores
Clayton Hall berubah menjadi ruang perjumpaan yang penuh warna pada Minggu, 9 Agustus 2026. Aroma jajanan, alunan musik, gerak tari, dan ramainya percakapan mengajak setiap pengunjung untuk melakukan satu hal sederhana yaitu mencicipi sesuatu yang baru.
Diselenggarakan oleh Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria (PERWIRA), Icip-Icip Multicultural Networking Fun Day kembali hadir untuk kedua kalinya setelah pertama kali digelar pada 2025. Acara dipandu oleh Zaky Tifano dan berlangsung sejak pukul 10 pagi hingga 4 sore. Sepanjang hari, lebih dari 700 pengunjung datang silih berganti menikmati suasana multikultural di tengah kota Clayton.

Sampel jajanan gratis menyambut para tamu dan menjadi awal pengalaman mencicipi Icip-Icip.
Lebih dari sekadar mencicipi makanan
Nama “Icip-Icip” berasal dari kebiasaan mencicipi atau mencoba. Namun, maknanya dalam acara ini dibuat jauh lebih luas. Pengunjung tidak hanya diajak mencoba makanan baru, tetapi juga memperoleh informasi baru, mengenal kebudayaan lain, dan membuka percakapan dengan teman-teman baru. Singkatnya, Icip-Icip menjadi sebuah taste of culture yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga.
“Kami mengajak para tamu mencoba hal-hal baru, mulai dari makanan, informasi, hingga teman baru.”
Pengalaman itu dimulai bahkan sebelum pengunjung memasuki ruang utama. Di dekat pintu masuk, sebuah meja berisi sampel minuman dan jajanan gratis menyambut para tamu. Di dalam hall, deretan pelaku usaha kecil dan menengah memamerkan kuliner, busana, kerajinan, serta beragam layanan. Bagi pelaku usaha Indonesia di Victoria, acara ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun hubungan langsung dengan masyarakat yang lebih luas.

Penampilan tari Nusantara memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada pengunjung di Clayton Hall.
Panggung budaya yang terus berganti
Dari panggung utama, acara menghadirkan perjalanan budaya yang bergerak dari satu penampilan ke penampilan lain. MR X2 Band membuka rangkaian hiburan, disusul Melindo Dance dan Sichuan Face Changing Dance. Anak-anak tampil membawakan Tari Saman, sementara workshop Bollywood dari Abhivyakti Fine Arts Academy mengubah penonton menjadi peserta aktif yang ikut bergerak mengikuti irama.

Workshop Bollywood mengajak pengunjung tidak hanya menonton, tetapi juga ikut bergerak dan berpartisipasi.
Nuansa Indonesia kembali mengisi panggung melalui OJWM Band, Nusantara Medley Dance, Minang Saiyo Dance, dan tarian Bali dari Mahindra Bali. Perpaduan unsur Indonesia, Tiongkok, dan India membuat acara ini terasa seperti perjalanan singkat melintasi berbagai tradisi, tanpa perlu meninggalkan Clayton.

Sichuan Face Changing Dance menambah warna budaya Tiongkok dalam rangkaian pertunjukan.
Keunikan Icip-Icip terletak pada keterlibatan pengunjung. Mereka tidak ditempatkan hanya sebagai penonton, tetapi didorong untuk bertanya, mencoba, menari, dan berkenalan. Antusiasme terlihat sepanjang acara, khususnya saat workshop dimulai dan para pengunjung dari berbagai usia ikut berpartisipasi.
Budaya bertemu peluang usaha dan jejaring
Di luar panggung, Icip-Icip juga menjadi ruang promosi bagi usaha komunitas. Produk makanan, pakaian, dan kerajinan tampil berdampingan dengan sesi informasi serta kesempatan membangun jejaring. Format ini membuat pengenalan budaya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti budaya dapat dicicipi lewat makanan, dikenakan melalui kain, dipelajari dalam workshop, dan dirawat melalui percakapan.

Kain dan busana Nusantara turut memperkenalkan keragaman karya Indonesia kepada pengunjung.
Penyelenggaraan acara mendapat dukungan penuh dari City of Monash serta apresiasi dan dukungan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne. Le Pine Funerals hadir sebagai event partner, bersama dukungan Australian Sovereign College, MasterRemit, dan 11th Space. OZIP dan Bohemian Rhapsody turut mendukung sebagai media partner. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan komunitas dapat berkembang ketika organisasi, pemerintah lokal, pelaku usaha, dan media bergerak bersama.
Membawa Indonesia lebih dekat
Bagi PERWIRA, dampak yang ingin dibangun melalui Icip-Icip adalah pengenalan budaya Indonesia secara lebih dekat kepada masyarakat multikultural di Victoria. Kehadiran komunitas Indonesia, Tiongkok, dan India menciptakan ruang yang tidak hanya merayakan perbedaan, tetapi juga menemukan kesamaan melalui makanan, seni, musik, rasa ingin tahu, dan keramahan.
Icip-Icip membuktikan bahwa perjumpaan lintas budaya dapat dimulai dari langkah yang ringan seperti mencicipi makanan yang belum dikenal, mengikuti gerakan tari, lalu pulang dengan cerita dan pertemanan baru.
Antusiasme lebih dari 700 pengunjung menjadi tanda bahwa ruang seperti ini dibutuhkan. PERWIRA pun berencana melanjutkan Icip-Icip sebagai agenda rutin tahunan dengan tema yang berbeda. Jika semangatnya tetap sama, edisi berikutnya akan kembali menjadi undangan terbuka untuk mencicipi keberagaman. Satu rasa, satu cerita, dan satu pertemuan pada satu waktu.
















