Indonesian Language Holiday Program (ILHOP): Upaya Melestarikan Budaya dan Bahasa Indonesia di Australia

Oleh: Muhamad Argi Afriandi | Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre

10 Juli 2025, pagi itu matahari bersinar terang disertai gerimis rintik hujan. Hujan badai semalam meninggalkan genangan-genangan air di jalan pedestrian menuju gedung Woodside di Monash University, Clayton. Hari yang sangat dinanti oleh 17 siswa SMP dan SMA di salah satu negara bagian Australia, Victoria, untuk mengikuti rangkaian kegiatan dua hari Indonesian Language Holiday Program (ILHOP). Sebuah inisiatif dari program studi Indonesian Studies dan Monash Herb Feith Indonesian Engagement Center untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya dan bahasa Indonesia kepada siswa-siswi Australia. Program ini sudah berjalan selama beberapa tahun. Tahun ini merupakan tahun kedua saya terlibat dalam ILHOP. Pengalaman yang sangat berkesan dan menyenangkan.

Ditengah rintik gerimis hujan dan dinginnya pagi musim dingin Australia, siswa-siswi mulai terlihat dari parkiran mobil. Beberapa siswa diantar ke gedung oleh orangtuanya dan beberapa memegang payung sendiri seusai berpamitan di parkiran dengan orangtua. Dingin dan hujan tak meredakan senyum hangat mereka saat bersapa, “Selamat pagi, pak.” Beberapa dari mereka malu-malu saat disapa dan ditanya nama. Seorang siswa laki-laki dengan antusias menyapa, “Selamat pagi pak, nama saya Luke (nama samaran).” Saya kemudian bertanya, darimana asal dan sekolah Luke. Saya tertegun ketika Luke menjelaskan bahwa dirinya berasal dan sekolah di Ballarat, sebuah wilayah di Victoria yang jauh dari Monash, Clayton. Saya kemudian kembali bertanya, “Wah jauh sekali, jam berapa Luke berangkat dari Ballarat ke Clayton?.” Dengan semangat Luke menjawab, “Saya berangkat dari jam 7, diantar oleh ayah saya.” Sungguh dedikasi yang luar biasa berangkat sangat pagi menempuh waktu 1 hingga 2 jam ke Monash ditengah hujan gerimis dan dinginnya pagi musim dingin. 

Saya pun bertanya ke siswa-siswa yang saya temui di pintu masuk dari mana mereka dan jam berapa mereka berangkat ke Monash. Beberapa dari mereka bahkan menjawab berasal dari daerah yang tak kalah jauh lagi dari Monash yaitu Marysville, sebuah kota kecil di daerah perbukitan lembah Yarra. Ada juga beberapa siswa yang berangkat dari Geelong, sebuah kota dekat Great Ocean Road. Beberapa dari mereka berangkat dari jam 6 pagi, bahkan ada yang harus menginap di rumah saudara sejak sehari sebelum ILHOP. Para peserta juga berasal dari berbagai macam latar belakang termasuk siswa keturunan Indonesia yang lahir dan besar di Australia. Saya juga bertemu dengan beberapa siswa yang merupakan peserta tahun lalu. 

Selain para siswa, beberapa guru juga datang untuk melihat rangkaian kegiatan ILHOP. Salah satunya adalah pak Finian Augustin yang tinggal dan mengajar di Ballarat. Beliau harus berangkat dari jam 6 pagi menggunakan transportasi umum kereta api, sungguh sebuah dedikasi luar biasa. Perkenalan-perkenalan ini menunjukan semangat dan antusias luar biasa siswa dan guru untuk berperan aktif dalam melestarikan bahasa dan budaya Indonesia di Australia.

Hari pertama: Silat, klepon dan congklak

Setelah semua siswa dipastikan hadir, sekitar pukul 9.30 acara ILHOP hari pertama resmi dimulai dengan sambutan dari seorang profesor Indonesian Studies di Monash, Profesor Julian Millie. Acara lalu dibuka dengan pengajaran seni dan olahraga bela diri tradisional Indonesia, Pencak Silat. Dua “bule” Australia dari The Academy of Pencak Silat Domas AOSA (Art of Self Defence Australia), Michel dan David tampak sangat antusias memperkenalkan olahraga bela diri ini dengan menunjukan beberapa gerakan silat serta musik pengiringnya, Gendang dan Gong. Semua peserta terlihat bersemangat melakukan gerakan-gerakan silat dan memainkan musik pengiring.

Klepok hasil buatan para siswa saat sesi memasak di hari pertama program ILHOP 2025. (Monash University, Clayton, Kamis, 10 Juli 2025). FOTO/Muhamad Argi Afriandi.

Sehabis kegiatan silat, para siswa dibagi kedalam dua kelompok, kelas 7-9 mengikuti tur kampus yang dipandu oleh Professor Julian dan kelas 10-12 melakukan kegiatan memasak yang dipandu oleh salah satu dosen Indonesian Studies, Ibu Yacinta Kurniasih. Saya memandu para siswa kelompok memasak untuk pindah dari gedung Woodside ke gedung Green Chemical Futures, gedung yang dilengkapi peralatan memasak. Di lantai 4, kami disambut oleh Ibu Yacinta dan dua ibu-ibu dari salah satu restoran Indonesia di Melbourne, Dapur Indo. Hari itu para siswa ditantang untuk memasak beberapa makanan tradisional Indonesia seperti nasi kuning, sate ayam, sambal, tempe orek, martabak telur, bakwan dan klepon. Sat-set, para siswa dengan serunya memasak semua makanan dengan kompak dan semangat. Saya sangat kagum dengan bagaimana para siswa memiliki antusias yang tinggi serta kemampuan memasak yang mumpuni. Mereka terlihat seperti chef profesional. Para siswa lalu makan masakan mereka sambil menikmati waktu istirahat. “Enak dan sedap!”, kata mereka.

Para siswa kelas 10-12 sedang bermain Congklak pada sesi Language Games bersama Ibu Sugiarti (Monash University, Clayton, Kamis, 10 Juli 2025). FOTO/Muhamad Argi Afriandi.

Kegiatan para siswa di hari pertama ditutup dengan kelas Language Games oleh Ibu Astrid dan Ibu Sugiarti, dua guru bahasa Indonesia yang sangat berpengalaman mengajarkan bahasa Indonesia di Australia. Saya mengintip dan membantu kelas Ibu Sugiarti yang dikhususkan untuk kelompok kelas 10-12. Ibu Sugiarti adalah sosok guru yang sangat inspiratif dimana beliau membawa beberapa alat permainan tradisional seperti alat permainan lompat karet dan congklak. Semua siswa sangat senang. Beberapa dari mereka mencoba kedua permainan tradisional ini untuk pertama kali. “Sangat keren!”, ungkap Luke. Sekitar jam 3.30 siang, sesi Language Games berakhir sekaligus menandakan telah usainya rangkaian kegiatan ILHOP hari pertama.

Hari kedua: Angklung, tarian viral Pacu Jalur dan mie instan goreng

Matahari bersinar lebih hangat di hari kedua. Pukul 9.30, para siswa sudah berada di kelas untuk mengikuti kegiatan pertama yaitu pembelajaran bahasa Indonesia. Para siswa masuk ke kelas berdasarkan kelompok tingkatan kelas seperti hari pertama. Kali ini, saya menyelinap masuk ke dalam kelas bahasa Indonesia Ibu Astrid untuk kelas 7-9. Dengan gaya santai, Ibu Astrid mengajarkan kata-kata dasar seperti “Selamat pagi, apa kabar?” dengan memainkan gitar sebagai musik pengiring. Menarik sekali, mengajarkan bahasa Indonesia dengan musik. Para siswa pun menyanyikan lirik-lirik perkenalan dalam bahasa Indonesia sambil diiringi oleh alunan gitar Ibu Astrid. Beberapa siswa tampak baru pertama kali belajar bahasa Indonesia dan sebagian lainnya terlihat sedikit fasih dalam berbicara bahasa Indonesia. Melihat para siswa SMP ini dengan antusiasnya belajar bahasa Indonesia sangat menginspirasi saya untuk aktif memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia terutama di Australia.

Mas Razan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne sedang memperkenalkan nada angklung ke siswa-siswi Australia ditemani oleh Ibu Astrid, guru bahasa Indonesia dan Mutia, staf KJRI Melbourne (Monash University, Clayton, Jumat, 11 Juli 2025). FOTO/Muhamad Argi Afriandi.

Setelah sesi pertama, para siswa kemudian digabungkan kembali ke dalam satu kelas untuk belajar angklung bersama. Pelatihan angklung ini dipandu oleh mas Razan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne yang sudah biasa dalam memperkenalkan dan melatih angklung ke siswa-siswi Australia di Victoria. Mas Razan memulai dengan memperkenalkan nada angklung dengan membagi-bagi angklung ke masing-masing siswa sesuai dengan urutan tangga nada. Beliau mengajarkan siswa untuk “menggoyangkan” angklung sesuai dengan tangga nada yang diarahkan dengan simbol tangan. Setelah para siswa terbiasa dengan arahan nada, mas Razan kemudian mengajarkan lagu pertama yaitu lagu Bagimu Negeri. Suasana berlangsung khidmat dengan para siswa juga belajar menyanyikan lirik lagu nasional ciptaan R. Kusbini itu. Antusias para siswa kemudian meningkat ketika mas Razan memandu lagu kebangaan banyak orang Australia, Waltzing Matilda. Para siswa terlihat sangat senang dan dengan lantang menyanyikan lirik lagu sambil menggoyangkan angklung mereka. Kelas angklung lalu diakhiri dengan pembawaan lagu Love Story, Taylor Swift. Tentu saja, kebanyakan dari para siswa yang merupakan Swifty sangat senang dengan lagu ini. Mereka asik menggoyangkan angklung sambil bernyanyi bersama. 

Setelah sesi angklung, para siswa melakukan istirahat makan siang. Pada waktu ini, saya sempat mengobrol dengan beberapa siswa. Salah satunya adalah Luke yang berbagi cerita bahwa dia belajar bahasa Indonesia di kelas 7 bersama dengan 200 siswa di sekolahnya. Namun, Luke juga menyampaikan keprihatinannya karena saat ini di kelas 12, hanya ada dirinya dan dua siswa lainnya yang mengambil mata pelajaran bahasa Indonesia. “Wah drastis sekali turunnya ya”, guman saya. Permasalahan di sekolah Luke seakan membenarkan diskusi-diskusi di media yang menyatakan bahwa terjadi penurunan masif dalam pendaftaran program bahasa Indonesia di Australia, terutama pada kelas 10 hingga 12. Sebagai contoh, Scotch College, salah satu sekolah elite di Victoria akan menutup program bahasa Indonesia dalam beberapa tahun kedepan. Rendahnya angka pendaftaran di sekolah menengah juga berimbas pada rendahnya pendaftaran program studi bahasa Indonesia di tingkat universitas. University of Tasmania bahkan hampir menutup program studi bahasa Indonesia di tahun 2025. Menurut Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (Acicis), saat ini, hanya ada 13 universitas di Australia yang menawarkan program tersebut, menurun dari sebelumnya 22 universitas sejak tahun 1990an. Apa yang dibagikan oleh Luke memunculkan pertanyaan dibenak saya, “mengapa?”. Pertanyaan ini menyirasaratkan untuk dilakukannya penelitian yang lebih mendalam dan mungkin kompleks terhadap faktor-faktor penurunan pendaftaran kelas bahasa Indonesia di Australia. 

Setelah istirahat makan siang, para siswa kembali ke kelompok kelas masing-masing. Kali ini, saya menyelinap masuk ke kelas Ibu Sugiarti, kelas 10-12. Di kelas ini, siswa belajar percakapan dalam bahasa Indonesia. Para siswa dibagi secara berpasangan berbicara dalam bahasa Indonesia selama beberapa menit mengenai satu topik. Lalu mereka berganti pasangan setiap pergantian topik pembicaraan. Beberapa siswa tampak sangat aktif dalam berbicara namun beberapa malu-malu untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Saya sangat kagum ketika melihat para siswa saling memahami dan membantu teman-temannya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. 

Setelah kegiatan berbicara, para siswa kemudian dibagi kedalam beberapa kelompok. Ibu Sugiarti meminta mereka untuk melakukan brainstorming kata-kata bahasa Indonesia mengenai topik-topik yang ditampilkan di gambar slide presentasi PowerPoint. Para siswa harus mengelompokkan jenis kata dari kata benda, kata kerja dan kata sifat. Salah satu contohnya adalah topik pasar. Para siswa dengan semangat menulis kata-ka yang berhubungan dengan pasar seperti menjual, membeli, berjalan, berdiri dan duduk. Saya terkesima bagaimana mereka sudah banyak menguasai kosakata walaupun terkadang harus dibantu dengan memberikan clue seperti “They are walking, apa bahasa Indonesianya walking?”. Sesi yang mengasyikan sekaligus bermanfaat untuk mengasah kosakata siswa. Saya terinspirasi dengan metode pengajaran Ibu Sugiarti yang sangat seru untuk diterapkan dalam pengajaran bahasa Indonesia. 

Saat sedang asik membantu siswa di kelas Ibu Sugiarti, saya menoleh melihat ke kelas sebelah. Kelas Ibu Astraid, kelas 7-9 sedang asyiknya belajar tarian viral lagu-lagu TikTok Indonesia. Saya kemudian menghampiri kelas Ibu Astrid. Walaupun para siswa laki-laki tampak malu-malu, para siswi tampak sangat antusias dalam melakukan gerakan-gerakan tarian TikTok. Kelas ini bertambah seru ketika Ibu Astrid memutarkan cuplikan video viral aura farming dance dari acara Pacu Jalur di Riau. Cuplikan tarian dan musik pengiring yang populer di kalangan anak muda ini tentu saja menarik perhatian para siswa. Bersama dengan ibu Astrid dan ibu Yacinta, mereka membentuk barisan dan melakukan gerakan tarian tersebut. Mereka terlihat sangat menikmati tarian tersebut. Beberapa bahkan mengambil video untuk kepentingan pribadi mereka sendiri saat menari tarian tersebut. “Seru banget!”, teriak para siswa. 

Setelah sesi language study and conversation practice, sesi terakhir adalah berburu harta karun. Sesi ini dipandu oleh Monash Indonesia Club. Para siswa diminta untuk melakukan beberapa hal di beberapa tempat di Monash seperti berfoto di depan perpustakaan. Mereka harus berkeliling dari lapangan Monash Sport, Student Centre hingga gedung Learning and Teaching Building (LTB). Meskipun gerimis hujan, para siswa sangat antusias dalam melakukan kegiatan ini. Kami sampai harus berteriak “Hati-hati, licin hujan!” saat mereka mulai berjalan bersama kelompoknya menuju tempat-tempat “harta karun”. Kelompok pertama yang berhasil menyelesaikan misi ini mendapatkan mie goreng instan khas Indonesia. Mereka terlihat senang dan bersorak gembira. Kelompok siswa lain pun tetap mendapatkan hadiah berupa coklat dari Profesor Julian dan Ibu Yacinta di akhir sesi yang sekaligus menandakan berakhirnya program ILHOP 2025. Tepat pukul 3.30 siang, para siswa kemudian berpamitan dengan senyum gembira. 

Dua hari terlibat dalam ILHOP 2025 mengingatkan saya, meskipun program bahasa Indonesia di Australia mengalami penurunan, semangat para siswa sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan dedikasi para siswa, orang tua dan guru dalam mengikuti program ini. Sebuah dedikasi luar biasa ketika mereka berangkat pagi hari di musim dingin menempuh waktu perjalanan hingga tiga jam untuk datang ke lokasi acara. Program Inisiatif seperti ini merupakan upaya luar biasa yang juga harus mendapat apresiasi tinggi, terutama kepada Indonesian Studies di Monash University dan Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre meliputi peran Professor Julian, Ibu Yacinta Kurniasih dan Associate Professor Sharyn Davies. Program semacam ini bukan hanya bermanfaat untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Indonesia kepada siswa Australia, namun juga menjadi jembatan untuk keberlangsungan program bahasa Indonesia baik di tingkat sekolah maupun universitas.  

Namun, ada satu pertanyaan yang menggelitik pikiran saya, jika semua pihak termasuk siswa, guru dan universitas memiliki semangat dan dedikasi terhadap pembelajaran bahasa Indonesia, faktor apa kira-kira yang menyebabkan penurunan program bahasa Indonesia di Australia? Apakah karena kurangnya dukungan dan fasilitas pembelajaran bahasa Indonesia dari pemangku kepentingan? Atau ada faktor-faktor lain? Mungkin pertanyaan ini membutuhkan penelitian lanjutan yang mendalam dan kompleks.