Share This Article

Events
May 13, 2015 posted by Ozip Team

IFF: Festival Film Indonesia Terlama dan Terbesar di Australia

IFF: Festival Film Indonesia Terlama dan Terbesar di Australia

Usia 10 tahun bagi Indonesian Film Festival (IFF), sungguh merupakan kejutan. Apalagi jika melihat pelaksana acara ini yang didmoninasi oleh pelajar. Menarik untuk dilihat bagaimana pewarisan semangat di antara mereka sehingga event tahunan ini tetap bertahan.

Tentu masih banyak kekurangan dari panitia IFF kali ini. Hal yang paling banyak disoroti adalah “kegagalan” mengajak media lokal Australia untuk ikut mempromosikan IFF. Padahal menurut kritikus film Peter Krausz, IFF punya kelebihan dari festival film negara lain, yakni kemampuan menghadirkan sutradara/produser/pemain dari semua film yang ditayangkan. Sayang kelebihan ini belum menjadi “nilai jual” yang dimanfaatkan secara optimal. Panitia IFF 2016 nanti, harus menjadikan sorotan ini sebagai salah satu agenda penting.

Apapun, IFF Melbourne adalah festifal film Indonesia yang terlama dan terbesar di Australia. Semoga di tahun-tahun mendatang, dukungan kepada pelaksanaan IFF semakin luas dan besar.

 

Pembukaan IFF 2015#OZIP

Lukman Sardi, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Rako Prijanto & Robby Ertanto saat pembukaan IFF, dipandu oleh Adicahya Raharja.

Berikut review pilihan OZIP dari ajang IFF 2015.

Angker

Perpaduan antara alur cerita yang kental dengan nuansa Indonesia, musik latar, serta kualitas akting Lia Waode sebagai tokoh utama menjadi kekuatan film ini. Meskipun memiliki formula cerita horor klasik yang mengingatkan kita pada Insidious, the Conjuring atau Poltergeist, film Angker sukses meramu kisah mistis yang sangat kental dengan nuansa Indonesia dan hal ini menjadi satu keunikan tersendiri. Adegan-adegan dalam film ini sukses membuat bulu kuduk penonton merinding. Jeritan penonton pun beberapa kali terdengar sepanjang pemutaran film ini. Dari rating 1-10, nilai film ini nilainya 8,5. Angker sangat cocok untuk penonton internasional.

7/24

Dewi Savitri Wahab#OZIP

Konjen RI untuk Victoria dan tasmania Dewi Savitri Wahab saat membuka IFF 2015.

Satu hal lain yang membuat khalayak penasaran tentang film ini adalah kembalinya Dian Sastro ke layar lebar setelah 6 tahun rehat dari dunia perfilman. Dian yang sulit lepas dari image Cinta, tokoh dalam film “Ada Apa Dengan Cinta?” kali ini memerankan sosok yang begitu dewasa, keibuan, dan bertanggung jawab. Film ini adalah film bergenre komedi romantis pertama yang yang Dian geluti. Adanya film ini diharapkan dapat mengobati rasa rindu penggemar Dian akan aktingnya.

 

Tabula Rasa

OZIP at IFF-2015#OZIP

Majalah OZIP menyukseskan ikut IFF 2015.

Mak, si  pemilik resep andalan itu akhirnya menyetujui untuk mengajari Hans, pemuda asal Serui, Papua, memasak Kepala Gulai Ikan yang membuat Rumah Makan Takana Juo akhirnya selamat dari kebangkrutan. Kompetitornya di rumah makan itu, Parmanto, pun mau berdamai. Tapi persis di tengah keberhasilan itu, Hans pergi setelah menelepon ibu angkatnya di Papua. Sutradara seolah ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki proses kehidupannya masing-masing. Begitu juga dengan Hans, ia tidak akan hidup di Takana Juo itu selamanya.

 

Jalanan

Boni, Titi & Bambang Ho#OZIP

Tiga pemain utama film Jalanan: Boni, Titi & Bambang Ho.

Film Jalanan adalah “surat cinta” Daniel Ziff kepada Jakarta. Kerasnya kehidupan Jakarta bagi Ho, Titi, dan Boni adalah gambaran kepedihan tetapi juga harapan. Bagi mereka, hidup yang pedih dan keras bukan untuk diratapi, melainkan bagaimana mengisi hidup tersebut dengan karya. Mereka percaya bahwa setiap upaya pasti membuahkan hasil. Jalanan berhasil menampilkan seorang Titi yang tamatan SD, akhirnya mampu meneruskan jenjang pendidikannya melalui Pusat Kelompok Belajar Masyarakat hingga mendapatkan ijazah SMA. Ho yang menjadi lebih bergairah dan termotivasi untuk menjadi lebih baik dengan keluarga barunya. Boni yang sekalipun tinggal selama hampir 10 tahun di kolong jembatan, tetap berani mengajak sang istri untuk terus bermimpi membangun masa depan yang lebih baik.

Sampai jumpa di IFF 2016!

Laporan: Laras Larasati, Harizza Pertiwi, Steven Tandijaya, Katrini Narasitha

Foto: Windu Kuntoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *