Merayakan Harmoni Budaya Dunia di Gold Coast Harmony Festival 2026

Keberagaman budaya kembali hadir di pesisir pantai Australia bagian Queensland pada Gold Coast Harmony Festival (GCHF) 2026. Festival dengan tema “Everyone Belongs” ini adalah perayaan kebersamaan lintas negara dari Asia, Pasifik, Amerika Latin, hingga Eropa Timur, yang berlangsung meriah di Broadwater Parklands, Southport, pada 18 April 2026 lalu. Agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kusuma Indonesia Community Australia (KICA) ini mengajak publik untuk “berkeliling dunia” melalui musik, tarian, kuliner, dan interaksi komunitas multikultural yang inklusif. 

Diawali dengan Welcome to Country ritual khas Aborigin Australia dan lagu Advance Australia Fair dinyanyikan oleh Angeline Villanueva dari Filipina, dilanjutkan dengan alunan Rindik Bambu khas Bali, menandai dimulainya perayaan harmoni lintas budaya. GCHF 2026 menjadi ajang diplomasi komunitas yang didukung penuh oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Republik Vanuatu, Siswo Pramono dan Konsul Jenderal RI di Sydney, Pendekar Muda Leonard Sondakh. Mayor Gold Coast, Tom Tate, secara simbolis membuka festival dengan tabuhan gong. Sejumlah pemimpin lokal juga hadir, termasuk Hon Sam O’Connor dan perwakilan dari Thriving Multicultural Communities (TMC) Gold Coast, Jake Coate dan Anna Z. Zubac. 

Penghargaan diberikan kepada beberapa orang diaspora Indonesia yang selama ini aktif mendorong kolaborasi dan keberlanjutan komunitas multikultural di kawasan Queensland diantaranya Thia Taylor, Bambang Kuncoro dan Tati Hendo, yang juga merupakan anggota kebanggaan bagi KICA. GCHF dimeriahkan oleh pertunjukkan seniman dan komunitas Tanah Air seperti Tari Nandak Ganjen oleh tim KICA, Viva Indonesia Lestari yang menampilkan Indonesian Medley Dance dan Tari Dayak dari Kalimantan, Indo Angklung Brisbane membawa harmoni musik tradisional Jawa Barat, serta Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB) Voice—grup a cappella dari membawakan lagu-lagu bertema perdamaian dan persatuan dalam keberagaman. 

Australian Ikin Dance Group menunjukkan bakat penari kontemporer dari berbagai usia. Instrumen musik klasik Thailand dimainkan oleh Peranya Visitchantaragoon dan Gold Coast Filipino Australian Cultural Ensemble (GCFACE) menyajikan tarian yang ekspresif. Kizuna Taiko Gold Coast menggetarkan panggung dengan dentuman drum Jepang, disusul Gold Coast Yosakoi Maito dengan tarian yang semarak. Australian National Chinese Women’s Federation (ANCWF) melalui parade busana dan tari hingga Huawu Tai Chi Association dengan gerakan yang menenangkan. Pasifik dan Amerika Latin pun tak kalah semarak. Heilani Polynesian menghadirkan “Rhythms of the South Pacific”, tarian ceria serta kostum penuh warna oleh Mexican Dance Group Queensland dan Bolivia Marka. Querencia Venezuelan Dance Group dan Romanian Folk Ensemble Doina Queensland mengajak audiens menari bersama. Natalja Solntseva tampil solo dengan dua tarian Uzbekistan dan festival diakhiri tarian khas Rumania penuh energi oleh Gypsy Chave.

Lebih dari Festival Tahunan

Agustinus Yogiono, selaku ketua KICA mengatakan pada sambutannya, “Sesuai dengan temanya, siapa saja terlibat pada festival ini, karena harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari saling mengenal, memahami budaya, dan saling merayakan keberagaman.” GCHF bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang temu bagi diaspora—tempat identitas dirayakan, cerita dibagikan, dan taste of home dibangun bersama di negeri perantauan. Bagi komunitas Indonesia di Australia, festival ini menegaskan bahwa budaya Nusantara terus hidup, tumbuh, dan berkontribusi dalam mozaik multikultural Australia. Festival ini bukan sekadar agenda akhir pekan keluarga, tetapi juga ruang sosial untuk merayakan identitas global sebagai diaspora yang hidup berdampingan dengan berbagai budaya sambil tetap melestarikan akar budaya sendiri. (Eve)