BADHI: Ketika Teknologi Menjadi Jembatan Pelestarian Warisan Budaya Bali

I Gede Mahendra Darmawiguna mendemonstrasikan simulasi menggunakan Oculus.

Perkembangan teknologi sering kali dikaitkan dengan masa depan. Namun, bagaimana jika teknologi justru dimanfaatkan untuk menjaga jejak masa lalu? Itulah yang menjadi semangat di balik Bali Digital Heritage Initiative (BADHI), sebuah proyek kolaborasi yang memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan melestarikan warisan budaya Bali.

Kami berkesempatan berbincang dengan salah satu peneliti BADHI, I Gede Mahendra Darmawiguna, yang saat ini sedang menempuh studi doktor di Monash University. Dalam wawancara ini, beliau bercerita tentang perjalanan akademiknya, lahirnya BADHI, hingga harapannya agar teknologi dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk tetap terhubung dengan budaya Indonesia.

Boleh memperkenalkan diri terlebih dahulu?

“Saya menempuh pendidikan dari TK hingga SMP di Singaraja, kemudian melanjutkan ke SMA Taruna Nusantara di Magelang. Setelah itu saya mengambil S1 Teknologi Informasi di President University dan melanjutkan S2 Computer Science di University of Mysore, India.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menjadi dosen di Program Studi Sistem Informasi Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, dan sudah mengajar sekitar 16 tahun.

Sejak tahun 2025 saya melanjutkan studi S3 di Faculty of Information Technology, Monash University, tepatnya di Embodied Visualisation Research Group, Department of Human-Centred Computing. Fokus riset saya berkaitan erat dengan proyek BADHI atau Bali Digital Heritage Initiative.”

badhi.id

Proses perekaman pura untuk pelestarian warisan budaya.


Sebenarnya apa itu BADHI?

“BADHI atau Bali Digital Heritage Initiative adalah proyek yang diprakarsai oleh Dr. Kadek Ananta Satriadi dari Monash University. Tujuan utamanya adalah melihat bagaimana teknologi dapat memberikan kontribusi positif bagi pelestarian warisan budaya Bali.

Proyek ini merupakan kolaborasi antara Monash University melalui Embodied Visualisation Research Group dan Universitas Pendidikan Ganesha melalui VVIP (Virtual, Vision, Image, and Pattern) Research Group. Proyek ini didukung melalui pendanaan Whyte Fund dari Faculty of Information Technology, Monash University.

Secara sederhana, BADHI melestarikan warisan budaya Bali, terutama pura, melalui dokumentasi video yang direkonstruksi menjadi model digital tiga dimensi dan dapat diakses melalui platform yang kami kembangkan.”

Apa yang melatarbelakangi lahirnya proyek ini?

“Motivasi utamanya adalah karena Bali memiliki begitu banyak warisan budaya yang bernilai, tetapi juga rentan terhadap perubahan akibat bencana, renovasi, maupun pemugaran. Ketika sebuah pura berubah atau bahkan hilang, bentuk aslinya sering kali tidak lagi terdokumentasikan.

Kami ingin membangun dokumentasi digital yang dapat menjadi memori budaya bagi generasi mendatang, sehingga mereka tetap dapat melihat bentuk pura puluhan bahkan ratusan tahun kemudian. Jadi, BADHI bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.”

Bagaimana kolaborasi dalam pengembangan BADHI?

“Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, proyek ini diinisiasi oleh Monash University dan kemudian berkolaborasi dengan Universitas Pendidikan Ganesha sebagai mitra lokal di Bali.

Namun, pelestarian budaya tidak bisa hanya dilakukan dari sisi teknologi. Dibutuhkan pemahaman lokal, keterlibatan masyarakat, serta penghormatan terhadap nilai budaya dan spiritual yang melekat pada setiap objek yang didokumentasikan.”

Apa tantangan terbesar dalam proyek ini?

“Tantangannya datang dari sisi teknologi maupun sosial. Dari sisi teknologi, kami berusaha menghasilkan model tiga dimensi yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya karena pura memiliki detail arsitektur yang sangat kompleks.

Namun tantangan terbesar justru ada pada aspek sosial. Kami harus membangun kepercayaan masyarakat. Karena itu, kami selalu menempatkan etika sebagai bagian penting dari teknologi. Bukan hanya bertanya apakah sesuatu bisa dibuat, tetapi juga apakah hal tersebut pantas, aman, dan sesuai dengan nilai budaya masyarakat.”

Bagaimana teknologi dapat membantu generasi muda lebih dekat dengan budaya?

“Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks budaya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk pelestarian, edukasi, mitigasi, hingga promosi budaya.

Melalui digitalisasi, generasi muda dapat mempelajari warisan budaya dengan cara yang lebih interaktif. Bahkan masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri tetap dapat merasa terhubung dengan akar budayanya. Namun, semua itu tetap harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan memperhatikan etika penggunaan aset digital.”

badhi.id

Rekonstruksi digital pura melalui teknologi tiga dimensi.


Apakah ada pengalaman yang paling berkesan selama menjalankan BADHI?

“Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami menjalankan pilot project dan membagikan informasi tentang BADHI melalui media sosial. Setelah itu, beberapa komunitas pemuda dari desa-desa di Bali menghubungi kami dan menyampaikan ketertarikan mereka untuk terlibat, termasuk menjadi target workshop.

Bagi kami, itu adalah respons yang sangat positif. Artinya, masyarakat, terutama generasi muda, melihat nilai dari proyek ini dan ingin ikut berkontribusi.

Hal ini penting karena di Bali ada ribuan pura. Apabila proyek ini hanya dikerjakan oleh tim kecil, mungkin tidak akan selesai bahkan dalam puluhan tahun. Karena itu, partisipasi masyarakat sangat penting, khususnya dalam proses perekaman video untuk tahap rekonstruksi digital.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa BADHI bukan hanya proyek teknologi, tetapi juga gerakan kolaboratif yang keberhasilannya sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.”

Apa langkah selanjutnya untuk BADHI?

“Saat ini kami sedang membangun kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Harapannya, BADHI dapat berkembang menjadi inisiatif jangka panjang yang berkelanjutan dalam mendukung pelestarian warisan budaya Bali.”

I Gede Mahendra Darmawiguna 

Ibu Yulia foto bersama dengan Konsulat Jenderal Indonesia untuk Melbourne dan Tasmania, dan Indonesia Diaspora Network (IDN) Vic


Apa pesan untuk generasi muda Indonesia, khususnya diaspora?

“Walaupun saat ini saya sedang menempuh studi di Australia, Indonesia tetap menjadi rumah bagi saya, dan Bali adalah tempat akar budaya saya berada.

Untuk teman-teman diaspora Indonesia, khususnya generasi muda, saya berharap kita tetap menjaga rasa cinta dan keterhubungan dengan Indonesia. Tinggal di luar negeri bukan berarti harus jauh dari budaya sendiri. Justru dari kejauhan, kita sering kali semakin menyadari betapa berharganya warisan budaya yang kita miliki.

Teknologi memang bisa menjadi jembatan, tetapi yang paling penting adalah niat untuk terus mengenal, menghormati, dan melestarikan budaya. Saya juga mengapresiasi KJRI dan KBRI yang selama ini aktif menjadi penghubung masyarakat Indonesia di luar negeri melalui berbagai kegiatan budaya. Peran seperti ini sangat penting untuk menjaga rasa kebersamaan di tengah kehidupan diaspora.”

Website Badhi: https://badhi.id/
IG: https://www.instagram.com/badhi.id/