DWI SASETYANINGTYAS – EPISODE 1

‘’’Nasionalisme tidak bisa diukur dengan sehelai kertas’’ – Arif Budiman

‘’Anak aku yang kedua udah diterima jadi warganegara Inggris aaaahhh!’’

Sebelas kata bikin heboh dan viral di sosmed sampai Menteri Keuangan yang istimewa dan terpopuler dan punya bahasa yg juga unik dengan tidak menggunakan Bahasa Baku dalam forum resmi naik pitam dan rasa nasionalisme bangkit dan mengancam Dwi Sasetyaningtyas untuk membayar kembali uang LPDP – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan – Pernyataan diatas menyentuh ‘syaraf rasa kebangsaan bangsa Indonesia’. Nah lho!

Juga sang Menteri juga mengeluarkan ancaman kepada pasangan Dwi Sasetyaningtyas yang menerima beasiswa LPDP membayar berikut bunganya!

      Memang kalau berbahasa kita sebaiknya hati-hati dan tidak heran orang tua kita yang bijak dan selalu berkata kepada anak-anaknya ‘Mulutmu harimaumu!’.

      Sebelas kata (11) diatas tidak mungkin diucapkan kalau seandainya yang bersangkutan berada di Indonesia! Persoalannya hanya satu (1) yaitu ‘kenapa harus bicara di sosial media?’ Pasti 11 kata tadi sudah diucapkannya ratusan kali kalau tidak ribuan kali di kalangan keluarga dan diaspora Indonesia Inggris. 

Tidak puas dengan sebelas (11) kata, ternyata yang bersangkutan menambah dengan sebelas (10) lagi ‘‘’Cukup aku aja jadi WNI, anak-anakku jangan!’ 

Nah, mari kita sama-sama merenung kenapa Dwi mengucapkan kata-kata yang membuat Menteri Keuangan Purbaya sewot dan geram? Bukan hanya Menteri Keuangan Purbaya Sadewa yang kecewa tapi mayoritas orang Indonesia kecewa dan marah, karena telah menghina bangsa Indonesia dan silahkan simak komentar yang bermunculan di media sosial:

  • Masa iya, ga tahu diri dan berterima kasih
  • Ga tahu sejarah Indonesia
  • Norak
  • Sudah kuduga 
  • Ngapain dia minta maaf, ini fakta indo ga seindah Negara luar, apalagi hukumnya, tumpul ke atas

tajam ke bawah

  • Bangga jadi WNI tapi ga bangga sama pemerintahnya
  • Dia kuliah di Inggris pake duit rakyat loh dibiayai oleh Negara 
  • Beasiswa dari negara, bangga anak WNA?
  • Ga tahu diri dan ga tahu berterima kasih!

Titik persoalannya sebenarnya tidak sesederhana itu. 

Setelah heboh se Indonesia kemudian ‘ yang bersangkutan mengeluarkan pernyataan maaf’ tapi ‘nasi sudah jadi bubur!’ Penyesalan selalu datang terlambat! 

Mari kita lihat dan simak bersama ‘Pernyataan Maaf’ Dwi Sasetyaningtyas di bawah ini:

‘Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat ‘cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah dan frustasi pribadi saya sebagai Warga Negara terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.

Namun saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.’

Dilihat dari ‘Pernyataan Maaf’, tersebut di atas terlihat diungkapkan secara jujur. Dan kalimat di paragraf kedua ‘Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah dan frustasi pribadi saya sebagai Warga Negara terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan’. Dan kita semua tahu bahwa yang diungkapkan oleh Dwi Sasetyaningsih adalah suatu kenyataan yang banyak dialami oleh banyak orang Indonesia yang keluar Indonesia. Sistem yang masih jauh dari memuaskan, sesuatu yang mudah saja dipersulit apalagi yang sulit? 

Sosok jujur yang masih tersisa yaitu Mahfud MD pun mengatakan bahwa pernyataan dari yang bersangkutan jujur tapi menyesalkan ucapan yang bersangkutan dan sekaligus memperingatkan pemerintah untuk tidak menutup mata terhadap persoalan yang memang ada dan berbenah diri: ‘’Saya marah kepada Mbak Tias. Tapi kalau kita lihat kebelakang, kita juga harus sadar diri. Kenapa dia melakukan itu? Karena perkembangan akhir-akhir ini membuat putus asa’’.

Dan Negara dalam hal ini pemerintah Indonesia juga harus mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh yang bersangkutan adalah suatu kebenaran. Walaupun apa yang dikatakan oleh Wamen Stella Christie bahwa beasiswa LPDP adalah amanah bukan fasilitas! Tapi pemerintah juga harus bertanya apakah setelah mengirim mereka ke luar negeri berarti kompetensi/kualifikasi mereka meningkat, meminta mereka pulang kembali ke tanah air, apakah pemerintah sudah menyediakan pekerjaan dengan gaji yang memadai serta menjamin masa depan anak-anak mereka?

Youtube berikut ini, mungkin bisa membantu melihat permasalahan yang sedang berkembang di masyarakat yang terbelah akibat ucapan istri satu keluarga muda yang dua-duanya penerima LPDP.

Permasalahan sebenarnya jauh lebih rumit, lebih struktural seperti yang diutarakan oleh diaspora Indonesia di Universitas Nottingham, Inggris, Assistant Professor Bagus Mulyadi:

Menyedihkan masyarakat terbelah karena ucapan dan tindakan Dwi Sasetyaningtyas. Setiap kejadian tentu ada hikmahnya yaitu ternyata masih kuatnya rasa nasionalisme orang Indonesia, salah satu unsur paling penting langgengnya Negara Kesatuan Republik Indonesia – NKRI! Syukurlah! Ini bukan sebuah hipotesa lagi yang perlu diuji keabsahannya; Dwi Sasetyaningtyas bukan tidak senang dengan Indonesia sebagai sebuah negeri tapi kecewa dengan sistim/birokrasi yang ada di Indonesia, yang tidak berpihak kepada rakyat yang kemudian berakibat bersangkutan menjadi bulan-bulanan sosial media!

Anton Alimin

Youtube: Good morning Indonesia with Poetry