Oleh: Muhammad Iqbal
Pada OZIP edisi Juli 2025, kami sempat membahas ulasan film SORE: Istri dari Masa Depan. Tak disangka, beberapa waktu setelah penayangannya di Indonesia, dua komunitas sinefil film Asia di Australia, Cinefiles Asia dan Asian Cinema Collective (ACC), berencana membawa film SORE ke Melbourne, Sydney, dan Brisbane pada November 2025. Menariknya lagi, founder Cinefiles Asia merupakan sutradara film peraih Best Fiction / Best Film di ReelOzInd! 2025, “Kau, Aku, dan Kursi Itu”, Trivita Tiffany Winataputri, yang juga kami ulas di OZIP edisi November 2025.
Kami berkesempatan menonton penayangan film SORE di Melbourne yang berlangsung di ACMI Theater pada Sabtu, 22 November 2025. Pada kesempatan ini, tidak hanya penonton yang mayoritas merupakan diaspora Indonesia di Melbourne dapat menyaksikan film yang sempat ramai dibicarakan di Tanah Air, tetapi kami juga berkesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan sutradara Yandy Laurens, produser Suryana Paramita, serta tentu saja pemeran utama SORE, Sheila Dara.

Q: Karakter SORE sebagai tokoh utama ini sangat kompleks. Bagaimana Sheila mendalami karakter tersebut?
Sheila: Sejujurnya, saya sendiri merasa cukup kesulitan untuk benar-benar memahami karakter dengan kapasitas cinta sebesar SORE. Yang pasti, saya banyak berdiskusi dengan Yandy. Seperti layaknya manusia pada umumnya, SORE memiliki banyak lapisan dalam dirinya: rasa sedih, ketakutan akan ditinggalkan, hingga obsesi. Semua itu menjadi lapisan-lapisan yang kami terus gali satu per satu sampai akhirnya terasa utuh dan menjadi potongan puzzle yang hilang.
Q: Mengapa memilih Kroasia sebagai lokasi produksi film SORE?
Mita: Kami ingin mempertahankan tekstur visual dari seri sebelumnya yang diambil Yandy di Italia, tetapi juga mencari alternatif yang lebih affordable. Menariknya, rekan kami dari Korea menyarankan untuk mengambil gambar dan produksi di Kroasia, karena ia memiliki kenalan produser lokal di sana. Awalnya, kami cukup khawatir karena pasti terdapat perbedaan budaya dan bahasa yang beresiko. Namun, kami terhubung melalui naskah film ini dan kecintaan yang sama terhadap dunia film. Mereka sangat menyukai naskahnya, dan di titik itulah kami merasa proses produksi akan berjalan dengan baik.
Q: Cinta sering dipahami sebagai sebuah usaha selfless, dan hal itu tergambarkan jelas dalam karakter SORE. Bagaimana proses mengembangkan karakter ini dari karakter delapan tahun lalu, terutama usahanya yang terus-menerus dan repetitif demi Jonathan, yang terasa seperti the next level dari selfless itu sendiri?
Yandy: Saya adalah produk dari cinta tanpa syarat yang diberikan istri saya dalam komitmen pernikahan kami. Saat saya banyak melakukan kesalahan, alih-alih menghukum atau menghakimi, ia justru berusaha memahami dan menerima saya. Perspektif inilah yang sangat berbeda dibandingkan ketika saya menulis seri SORE delapan tahun lalu. Saat itu, saya hanya seorang laki-laki lajang yang naif dan berusaha semampunya, dalam kapasitasnya saat itu, mengekspresikan makna “penerimaan”. Perubahan cara pandang itulah yang akhirnya memengaruhi film ini, termasuk pilihan penutup dengan montase yang emosional dan penuh gejolak. Di sanalah saya menuangkan perasaan tentang cinta tanpa syarat yang kini saya pahami.

















