SORE: Istri dari Masa Depan

Belakangan ini, ramai diperbincangkan di berbagai sosial media, film karya sutradara Yandy Laurens, film fiksi romantis yang merupakan remake dari web series yang berjudul sama, SORE: Istri dari Masa Depan. Menariknya lagi, dua belas hari sejak penayangannya, film ini telah mencatatkan 1,5 juta penonton, menjadikannya film Indonesia kedelapan terlaris di tahun 2025. Meskipun popularitasnya sebagian besar didorong oleh penggemar dan penonton setia web series sebelumnya, penonton baru pun tetap bisa menikmati alur cerita film ini secara utuh.

Film ini menghadirkan premis yang sangat menarik rasa penasaran. Jonathan, seorang fotografer Indonesia yang sedang menjelajahi Kroasia dan Finlandia, mendapati dirinya terbangun dengan seorang gadis asing di sebelah tempat tidurnya. Yang lebih mengejutkannya lagi, perempuan itu, Sore, mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Pertemuan tak terduga ini kemudian menjadi titik balik yang mengubah hidup Jonathan, membawanya melewati serangkaian perjalanan emosional demi kehidupan yang lebih baik.

Sentuhan Yandy Laurens

Yandy Laurens, sutradara yang telah dikenal luas di kalangan penikmat film Indonesia dan para sinefil, sebelumnya juga melahirkan karya menarik seperti Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, kisah seorang pembuat film yang patah hati dan perlahan bangkit kembali setelah bertemu teman lamanya, dan membuat keputusan besar untuk karirnya.

Ciri khas Yandy yang memadukan cerita romansa yang kuat akan konflik emosional yang mendalam, sinematografi yang ciamik, serta bumbu fiksi ilmiah yang menyegarkan ini menciptakan alur cerita kompleks yang berujung pada plot twist dan kesimpulan yang mengejutkan. Resep yang sama pun diracik dengan apik dalam SORE: Istri dari Masa Depan, menghasilkan ledakan emosi yang menyentuh dan membekas di benak penonton.

OST Film SORE: Istri dari Masa Depan

Beberapa lagu yang digunakan dalam film ini turut memperkuat emosi dalam setiap adegannya, menjadikan penonton semakin dalam meresapi pusaran emosi.

1. Forget Jakarta – Adhitia Sofyan

Lagu yang dirilis tahun 2010 ini menjadi pengantar pembuka cerita, menggambarkan upaya melupakan kenangan buruk di Jakarta dan memulai hidup baru. Menggambarkan situasi Jonathan yang sedang di tengah usahanya untuk dapat mewujudkan pameran fotografi personalnya di Kroasia, seakan menjauh dari “rumah” dan luka lama.

2. Gaze – Adhitia Sofyan

Masih dari album yang sama, Forget Your Plans, lagu ini membawa nuansa ingin mempertahankan kenangan, keinginan untuk bersama lebih lama meski di tengah badai ketidakpastian. Lagu ini merepresentasikan upaya Sore, sang istri dari masa depan, untuk memperbaiki masa depan Jonathan.

3. Pancarona – Barasuara

Lagu dari band Barasuara ini menggambarkan perasaan campur aduk di tengah perubahan hubungan. Rasa rindu yang bertabrakan dengan kesepian menjadi latar alur cerita saat konflik semakin rumit dan harapan mulai memudar.

4. Terbuang dalam Waktu – Barasuara

Masih lagu dari band Barasuara. Lagu ini hadir saat fase penerimaan setelah badai keputusasaan sedikit demi sedikit telah terlewati. Ia menggambarkan tumbuhnya sebuah harapan meski tetap diselimuti keraguan, perjuangan tanpa hasil yang pasti.

5. Hingga Ujung Waktu – Sheila on 7

Lagu yang dirilis pada 2002 silam ini oleh Sheila on 7 menjadi salah satu lagu ikonik  yang mengiringi cerita menuju momen klimaks perjalanan Jonathan dan Sore. Layaknya lima fase kesedihan (5 stages of grief), lagu ini melambangkan perjuangan cinta yang berulang, menyakitkan, namun akhirnya membuahkan harapan dari ketulusan.

SORE: Istri dari Masa Depan adalah film yang layak ditonton, bukan hanya karena merupakan karya anak bangsa dengan iringan lagu-lagu musisi Indonesia yang sungguh emosional, tetapi juga menyuguhkan penonton sebuah perjalanan mendalam, memahami rasa yang tulus, tanpa menyerah demi cinta.

Film ini bukan sekadar romansa manis penuh kisah kasih, melainkan pengalaman yang realistis. Menyuguhkan keputusasaan, keraguan, dan ketidakpastian dalam hubungan. Sebuah kisah tentang harapan yang dibangun dari luka, dan keyakinan bahwa setiap usaha tulus, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya.

Oleh Muhammad Iqbal