Sampaikanlah Melalui Bunga

*This article was written by an Ozip contributor. The views and information expressed are those of the author, and Ozip is not responsible for the content of this article.*

Dibuat oleh Nuim

Ketika masih berusia 15 atau 16 tahun, di kampung saya Gang Bengkok, Medan, ada sebuah pohon bunga kenanga yang sangat besar, dan seakan hampir saban hari ada saja bunga yang muncul untuk dipetik.

Kenyataan itu saya manfaatkan untuk menambah uang saku, karena pohon bunga kenanga itu tumbuhnya di halaman sebuah rumah milik seorang Tionghoa kenalan saya. Waktu masih muda saya memang mampu berbahasa Hokien, salah satu dialek dalam bahasa Tionghoa, dan cukup banyak sahabat saya memang anak Hokien. Karenanya saya diberi keleluasaan saban pagi oleh pemilik pohon bunga kenanga itu untuk memanjat pohon kenanga tadi dan memetik bunga yang bukan saja indah dipandang melainkan juga harum dicium.

Untuk memetiknya saya juga menggunakan sebatang bambu yang selain saya gunakan sebagai joran untuk memancing ikan di sungai dekat rumah (Sungai Deli), juga untuk menjangkau bunga kenanga yang berada jauh dari jangkauan tangan.

Bunga kenanga yang saya petik, saya jual ke “tukang bunga” di pasar pagi dekat rumah.

Sayang ya, dalam bahasa Indonesia tidak ada kata khusus untuk “penjual bunga” – hanya itu saja “penjual bunga” sedangkan dalam bahasa Inggeris, seseorang yang menjual bunga (flower) disebut “florist.”

Tukang bunga dimaksud banyak pelanggannya yang membeli bunga untuk ditabur di atas makam kerabat, atau dibawa ke Keramat (tempat suci yang dipercaya dapat membantu terwujudnya niat) untuk membayar nazar (sebagai tebusan karena dirasa niat yang diutarakan di Keramat itu telah terwujud). Waktu itu di kampung saya (Gang Bengkok) ada seorang yang dianggap cukup terpelajar karena mampu berbahasa Belanda. Dan dia juga suka berkelakar dan “mengusik” orang-orang sekampung kami. Suatu kali ketika saya akan mengantarkan “panen” bunga kenanga saya ke sang penjual bunga di pasar pagi saya berpapasan dengan beliau. Langsung beliau mengatakan “Wah Nuim makan uang bunga ya!”  Bukan alang kepalang terkejutnya saya mendengar ungkapan “uang bunga” – yang umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa agama Islam sebagai “riba”.

Dalam Islam “riba” dinilai sebagai uang haram. Karena “Riba diharamkan berdasarkan Al-Quran, Sunnah, dan Ijma’ para ulama.” Juga dalam ajaran agama Kristiani riba harus dijauhi (Larangan riba, praktik pengambilan bunga atau keuntungan berlebihan atas pinjaman uang, merupakan isu yang kompleks dan memiliki interpretasi yang beragam di berbagai agama, termasuk agama Kristen).

Pada hal “uang bunga” saya adalah uang harfiah/uang sesungguhnya bukan metafora “uang bunga perbankan”.

Alhasil seakan betapa baik, indah maupun harumnya sesuatu itu (seperti bunga), namun kalau “ditukangi” oleh ahli bahasa dapat mengesankan bercacat.

Ketika saya kuliah di perguruan tinggi tertua di Sumatera Utara, yakni Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) jurusan sastera, saya berkenalan dengan ungkapan dalam bahasa Inggeris, yang menurut saya indah sekali.

Ungkapan tersebut adalah “Say it with flowers” – sampaikanlah (katakanlah) melalui bunga.

Banyak yang menyangka bahwa ungkapan itu berasal dari pujangga Inggeris yang barangkali tidak ada tolok bandingnya, William Shakespeare (23 April 1564-23 April 1616). 

Namun pada hakikatnya, begitu menurut salah seorang dosen kami asal Amerika, ungkapan tersebut murni adalah ciptaan seorang karyawan iklan Amerika. (Masuk akal bahwa perkataan iklan berasal dari bahasa Arab i’lan?).

Bulan Desember 1917, seorang tokoh periklanan di kota Boston, Amerika Serikat, Major Patrick O’Keefe, sedang minum-minum bersama seorang temannya, Henry Penn, mantan Ketua Himpunan Penjual Bunga Amerika. Kedua orang tersebut dikatakan sedang membahas bagaimana sebaiknya menciptakan semboyan untuk himpunan tersebut agar jualan bunga lebih laris. Konon Henry Penn mengemukakan tidak ada salahnya untuk mengatakan “sampaikanlah dengan bunga” ketika “kita mengirim bunga”. Dasar pakar periklanan, Major Patrick O’Keefe langsung menyambut usul itu dengan mengatakan “Tidak ada  yang tidak dapat dikatakan oleh bunga.”

Terciptalah ungkapan “Say it with Flowers”.Namun ratusan tahun sebelum itu, pujangga William Shakespeare dalam karyanya “Romeo and Juliet” memperkenalkan ungkapan:

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

Atau: apalah artinya nama, bukankah BUNGA MAWAR dengan nama yang lain/berbeda pun niscaya akan sama harum semerbaknya!

“Wahai mawar bunga indah” adalah judul sebuah lagu Arab yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan pernah popular di Medan.

Tentu saja ada nama-nama bunga lainnya yang dijadikan ilham oleh para penggubah lagu.

“Teratai”, misalnya, atau “Seroja” (oleh Said Effendi).

Bagaimana dengan “Bunga Uang”?

Di Australia salah satu pengumuman oleh Bank Sentral Australia (RBA) yang ditunggu-tunggu adalah tentang suku bunga (interest rate). Dan suku bunga berikutnya akan disampaikan dalam Musim Bunga Australia 14-15 September mendatang. Tentu saja yang banyak tabungannya menyambut baik kenaikan suku bunga sedangkan yang banyak pinjamannya akan terpukul, laksana sudah jatuh dihimpit tangga. Mungkin sebab itulah dalam karyanya “Saudagar dari Venesia” William Shakespeare mengingatkan: ‘Neither a borrower nor a lender be” – jangan meminjam dan jangan meminjamkan. Oh, sebelum lupa, musim bunga berikutnya di Austraalia akan jatuh pada tanggal 1 September dan berakhir tanggal 1 Desember.  Allahu a’lamu.