Sakura di Kyoto: Tradisi, Teh, dan Persahabatan

Oleh Siti Mahdaria


Musim semi di Jepang selalu membawa pesona yang tak terbantahkan, terutama saat
sakura—bunga khas negeri ini—mulai mekar. Tahun 2025, berdasarkan prediksi Japan
Meteorological Corporation
, bunga sakura diperkirakan mulai bermekaran di Kyoto pada
akhir Maret, dengan puncaknya terjadi di minggu pertama April. Bagi banyak orang, ini
adalah waktu yang dinanti-nantikan untuk merayakan Hanami, tradisi kuno menikmati
keindahan bunga, misalnya piknik di bawah pohon Sakura.


Salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan keajaiban ini adalah Kyoto, kota yang kaya
akan sejarah, budaya, dan lanskap yang memanjakan mata. Di antara banyak spot sakura di
Kyoto, Pontocho dan sepanjang Takase River menjadi lokasi favorit karena suasana
tradisional yang masih kental dan bunga-bunga yang bermekaran dengan girangnya berbaris
rapi di sepanjang sungai.


Kali ini aku memutuskan untuk merayakan musim sakura dengan cara yang berbeda.
Alih-alih sekadar memotret atau berjalan-jalan santai, aku memilih mengenakan Hakama,
pakaian tradisional Jepang yang biasa dipakai untuk upacara formal atau kegiatan budaya
seperti teh Jepang (sado).


Hakama yang aku kenakan berwarna ungu dengan corak bunga plum di bagian bawah,
dipadukan dengan kimono hitam bermotif bunga. Pengalaman menarik mengenakan
Hakama keliling kota Kyoto adalah bagaimana pakaian ini mencuri perhatian, tak hanya dari
wisatawan lain, tapi juga dari penduduk lokal yang menghargai bagaimana aku
mengapresiasi dan menghormati budaya Jepang.


Bersama tiga teman baruku—Emma dari Amerika, Maya dari Kolombia, dan Zoey dari
Taiwan—Kami menyusuri tepian Takase River. Di tepi sungai, pohon-pohon sakura tampak
seperti awan merah muda yang menggantung rendah, seolah ingin disentuh. Kelopak bunga
yang tertiup angin beterbangan, melukis udara dengan lembutnya warna pastel.


Kami berjalan kami dari area Sanenzaka ke Pontocho untuk melakukan Hanami di Rissei
Hiroba Square. Hanami bukan sekadar piknik di bawah pohon sakura. Ini adalah tradisi yang
sudah berlangsung selama berabad-abad, dimulai sejak era Heian (794–1185), saat para
bangsawan Jepang berkumpul untuk menulis puisi sambil mengagumi bunga. Kini, Hanami
menjadi perayaan yang lebih merakyat, di mana keluarga, teman, dan rekan kerja berkumpul
di taman-taman, membawa makanan dan minuman, serta menikmati momen transien yang
hanya datang sekali setahun.


Namun, aku membawa sentuhan personal ke dalam Hanami kami. Di bawah rindang sakura,
kami duduk lesehan dan memulai sesi menyeduh matcha, teh hijau bubuk khas Jepang. Aku
belajar menyeduh matcha secara tradisional dari beberapa Japanese Tea Instructor, dan hari
itu aku ingin membagikan pengalaman itu kepada teman-teman baruku.


Menggunakan chasen (pengocok bambu) dan chawan (mangkuk teh), aku menunjukkan
bagaimana matcha dicampur dengan air, lalu dikocok perlahan hingga muncul busa halus di
permukaan. Aroma matcha yang creamy namun menyegarkan bercampur dengan wangi
bunga sakura yang memenuhi udara.
Ini bukan hanya teh,” kata Emma sambil menyeruput. “Ini seperti meditasi yang bisa
diminum.


Hakama: Warisan Budaya yang Hidup
Banyak pengunjung Kyoto lebih akrab dengan kimono, tetapi hakama memiliki tempat
tersendiri dalam sejarah pakaian Jepang. Awalnya digunakan oleh para samurai, Hakama
kemudian dipakai dalam berbagai kegiatan upacara seperti wisuda, pernikahan, hingga
latihan seni bela diri dan upacara minum teh.


Aku memilih mengenakan Hakama sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal. Aku
sering melihat rekan kerjaku seorang lulusan Urasenke Tea Ceremony School sering
mengenakan Hakama ketika melakukan Tea Ceremony, jadi aku pun terinspirasi mengenakan
pakaian tradisional ini untuk membuatku merasa lebih terhubung dengan semangat musim
semi di Jepang.


Tak hanya menjadi pengalaman pribadi, kehadiranku dengan pakaian tradisional menarik
perhatian sekelompok turis turis lokal yang akhirnya turut menikmati matcha yang aku buat.
Kamu terlihat sangat imut!” celetuk seorang nenek asal Yamaguchi, Jepang. Suasana
menjadi akrab dan penuh tawa, memperlihatkan bagaimana budaya bisa menjadi jembatan
lintas bangsa.


Sepanjang Takase River: Sungai Berbunga
Takase River bukan sungai besar, tapi keindahannya di musim sakura sangat luar biasa. Aliran
air yang tenang memantulkan bayangan bunga di permukaan, menciptakan efek visual bak
lukisan hidup. Aku dan kawan-kawan menghabiskan waktu beberapa jam di sana—berfoto,
bercakap, mencicipi kue mochi, dan tentu saja menyeduh matcha.


Tak jauh dari situ, lentera-lentera merah mulai dinyalakan saat senja tiba, menambah nuansa
magis di sepanjang jalan sempit Pontocho yang dipenuhi restoran dan kedai. Pontocho
sendiri adalah distrik bersejarah yang mempertahankan nuansa Kyoto zaman Edo, lengkap
dengan bangunan kayu dan suasana yang tenang namun elegan.