Refleksi Perjalanan 2015-2025: CATATAN HARIAN WISATA INDONESIA (CHWI) KE-76

OzipMates yang budiman, 

Artikel kali ini secara khusus merayakan 10 tahun (2015-2025) perjalanan “Catatan Harian Wisata Indonesia (CHWI)” ke berbagai destinasi wisata di seluruh wilayah Indonesia. Berawal dari seminar publik bertema “Hidden Treasure” dengan penulis sebagai narasumber utama pada acara Satay Festival di Box Hill Town Hall, Australia bulan Juni 2015, sejak saat itu kerjasama bersama Ozip Magazine terus berkelanjutan hingga saat ini.

User comments

Ozip Mates Australia tentu dapat mencermati bahwa sejak dua tahun belakangan, CHWI secara kontinu berfokus pada pengenalan desa-desa wisata unggulan Indonesia yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua kepada masyarakat Australia.

Pilihan destinasi-destinasi tersebut dikarenakan desa-desa wisata tersebut berkembang secara alami sesuai prinsip-prinsip berkelanjutan melalui inisiatif dan peran aktif masyarakat desa setempat. Pembangunan kepariwisataan berkelanjutan sangat mirip dengan cita-cita Bung Hatta pada model koperasi rakyat. Model kepariwisataan semacam ini dapat menciptakan identitas yang kokoh berakar pada budaya lokal dan keunikan geografis setempat. Tanpa ada upaya pengubahan lingkungan buatan dan alam yang radikal, sustainable tourism telah menjadi model alternatif pembangunan ekonomi berkelanjutan karena banyak atraksi baru bermunculan dan membuka lapangan kerja baru yang bertumpu pada alam lestari dan jangkarnya berkait erat dengan kekhasan mata pencaharian utama warga desa setempat (circular economy). 

Hospitality penduduk lokal tak hanya dalam bentuk keramah-tamahan khas Indonesia, namun persinggungan budaya dengan wisatawan asing mendorong mereka lebih mudah membuka diri belajar hal-hal baru seperti budaya dan bahasa asing tanpa kehilangan jatidiri lokal. Rasa bangga juga terbentuk dengan cara mempopulerkan arsitektur bersejarah setempat dan kuliner lokal agar tidak punah sekaligus menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan desanya. Dalam pengamatan penulis secara tak langsung, sebagai tuan rumah, penduduk desa wisata berupaya turut mengawasi dan mencegah eksploitasi sumber daya alam yang bersifat destruktif demi menyenangkan tamu luar (“wisatawan”) sekaligus mewariskan hal-hal baik bagi anak cucu mereka. Wisatawan yang merasa betah, memilih untuk memperpanjang waktu liburnya (length of stay) di desa wisata tersebut. Dampak ekonominya sangat signifikan bagi pendapatan asli daerah tersebut.

Inilah model pariwisata yang menawarkan alternatif terbaik saat ini dalam mengurangi secara signifikan dampak negatif industri wisata massal (mass tourism) yang telah menjadi isu serius di berbagai negara dan seperti yang terjadi di Bali saat ini. Dalam hal ini peran pemerintah sangat krusial untuk melakukan pengawasan secara benar dan kebijakan yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan. Dalam riset Coherent Market Insight, sustainable tourism market di masa depan diprediksi mampu menciptakan pendapatan yang jauh lebih besar dibanding ekplorasi migas (minyak dan gas bumi) serta membuka kotak pandora pemerataan ekonomi yang lebih fair bagi daerah-daerah tertinggal.

Semoga refleksi ini mendorong pembangunan kepariwisataan di Indonesia memiliki peran aktif dalam membangun SDM Indonesia yang berkualitas sekaligus berkontribusi positif pada model ekonomi keberlanjutan dan dapat diarahkan menjadi backbone (tulang punggung) perekonomian negara sekaligus mencegah eksploitasi isi bumi Indonesia secara berlebihan. Demi kebaikan generasi mendatang.

Travel, enjoy and learn. Ayo, kunjungi Indonesia!

Rio S. Migang *Pendiri EcoPlan Australia. Saat ini berdomisili di Maryland, Amerika Serikat. | Foto Istimewa