PEMBISIK PAK HARTO

Banyak sekali kejadian di dalam istana kepemimpinan yang sering ternyata kebalikan dari yang sebenarnya.

Bukan sesuatu yang aneh bahwa banyak pemimpin, terutama yang lebih berbentuk “otoriter”, yang suka dikelilingi oleh orang-orang yang bagi masyarakat luar dianggap laksana “dukun” atau “penasihat spiritual” menurut istilah hebatnya.

Ada yang mengatakan memberikan kesan bahwa di dalam istananya terdapat “dukun” atau “dukun-dukun” yang memberi masukan kepada sang pemimpin di kemudian hari dapat dijadikan dalih untuk menuding para dukun tersebut sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas keputusan-keputusan atau kebijakan-kebijakan yang ternyata merugikan rakyat ketika diterapkan. Hingga amarah rakyat lebih dilampiaskan kepada para dukun atau penasihat tersebut, daripada kepada pihak yang melaksanakannya.

Pada hal seharusnya sebagai seorang pemimpin yang telah menjalankan kebijakan yang kemudian ternyata merugikan rakyatnya ia wajib menerima tanggungjawabnya, bukan kemudian mengalihkannya kepada orang lain..

Bukankah kata petuah orang tua-tua kita “tangan menyencang bahu memikul”? (Al Qur’an 2:286 juga menegaskan tentang hal ini).

Jadi jangan mau “enak”-nya saja lalu lepas tangan.

Jadi pemimpin itu tidak mudah. Jarang-jarang ada pemimpin sejati yang kalau bekerja dia duluan, kalau makan dia belakangan.

Ketika (Alm) Jenderal (P) Suharto berkuasa ada 4 orang yang ikut menjadi terkenal karena mereka, paling tidak di kalangan rakyat Indonesia, dianggap, bahkan diakui, sebagai orang-orang dekat Pak Harto yang masukan-masukan mereka begitu didengar, dipertimbangkan dan kemudian dijalankan oleh Pak Harto dalam kedudukan beliau sebagai Pimpinan Orde Baru di Indonesia.

Siapa saja mereka itu?

Semuanya dari kalangan TNI (ABRI) Angkatan Darat. Mereka juga semuanya sudah berpangkat jenderal.


Siapa saja mereka?

“Keanggotan Aspri (alias Asisten Pribadi) lebih ramping karena hanya melibatkan perwira AD saja. Mereka antara lain Mayjen Ali Moertopo (Aspri urusan khusus), Mayjen Soedjono Hoemardani (Aspri urusan perekonomian), Letjen Suryo (Aspri urusan keuangan), dan Mayjen Tjokropranolo (Aspri urusan pengamanan presiden).”

Dari ke-4 Aspri tersebut yang banyak menarik perhatian adalah Aspri Urusan Perekonomian. Namun yang menjadi perhatian banyak orang bukan masukan-masukan perekonomian yang disampaikannya kepada Pak Harto, melainkan karena tampang dan penampilannya yang cukup menyeramkan. Rambut gondrong mirip Michael Jackson, kata sementara orang.

Alhasil kalau banyak yang memang menduga bahwa Mas “Djono” adalah penasihat spiritual Pak Harto memang masuk akal. Karena memang jarang-jarang ada “dukun” yang parlente/necis/rapih, meski di abad ke-21 ini.

Tapi akhirnya untuk meredam anggapan yang keliru itu, Pak Harto buka-bukaan.

“Jadi, yang mengira bahwa Djono itu guru kebatinan saya, kecele. Sangkaan begitu tidak benar. Mengenai ilmu kebatinan, Sudjono lebih banyak bertanya kepada saya daripada sebaliknya. Ia sendiri pernah berkata, “Saya berguru kepada Pak Harto.” 

Begitu pengakuan Pak Harto dalam buku riwayat hidupnya.

CLIVE WILLIAMS DARI GEELONG:

Ternyata yang juga pernah menjadi “pembisik” Pak Harto adalah seorang Australia bernama Clive Williams, asal Geelong, kota kedua terbesar di Negara Bagian Victoria, terletak sekitar 60 km dari ibukota Melbourne.

“Pembisik” di sini berarti “seseorang yang berkedudukan tidak resmi yang menjadi pemberi masukan secara senyap kepada seorang pemimpin atau pejabat alias orang-orang penting.”

Istilah whisperer alias pembisik ini sempat viral ketika beredar film berjudul “The Horse Whisperer” yang berarti:

‘A “horse whisperer” is a term for someone who has a natural ability to understand and communicate with horses, often using non-violent, gentle training methods.”

Artinya “pembisik” kuda adalah ungkapan untuk seseorang yang punya kemampuan alamiah untuk memahami dan berkomunikasi dengan kuda, sering bukan dengan menggunakan kekerasan, melainkan tatacara pelatihan yang lemah lembut.”

Dalam buku tentang riwayat hidupnya “Occidental Preacher, Accidental Teacher: The Enigmatic Clive Williams” (Pendeta dari Barat, Guru Kebetulan, Clive Williams Yang Penuh Misteri) disebutkan bahwa Clive lahir tahun 1921.

Dalam buku itu banyak dituturkan tentang Aliran Gereja Saksi Yehovah; tentang G-30-S dan Budaya Jawa.

Ketika tiba di Indonesia, ia berubah peran menjadi “chiropractor (semacam tukang pijat punggung) dan guru Bahasa Inggeris” dan berdiam di kota Semarang, Jateng.

Di antara murid-muridnya adalah isteri dan anak-anak “seorang kolonel (Suharto) yang bertugas di ibukota Jateng itu.”

Ia sempat dicopot dari jabatannya sebagai misionari Gereja Saksi Yehova karena ternyata “gay”.

Pihak intelijen Barat tidak banyak tahu tentang Clive Williams. Namun ketika akhirnya Suharto berhasil menumpas G-30-S dan menjadi penguasa Orde Baru, berlomba-lombalah kalangan intelijen Barat untuk lebih mengenal Clive Williams yang ternyata begitu dekat dengan keluarga Cendana.

Setelah melepas jabatannya sebgagai misionari, Clive terjun ke dunia bisnis dan ternyata cukup berhasil, namun tidak begitu menyolok hingga kurang mendapat perhatian.

Pernah ada seorang wartawan Australia bernama Frank Palmos yang “mengenal” Clive sebagai “seorang Australia yang pintar dan penuh percaya-diri, yang enggan menjawab pertanyaan tentang masa lalunya.” Kalangan-kalangan dari Australia lainnya mengenalnya sebagai seseorang yang sangat gemuk dengan “gigi plastik”.

Alhasil dianggap sama sekali tidak menarik.

Namun (entah bagaimana?) bisa terjalin persahabatan antara Clive dan Suharto.

Seingat penulis Pak Harto memang kurang fasih berbahasa Belanda namun cukup menguasai Bahasa Inggeris. 

Adakah itu berkat bimbingan seorang Clive Williams? Wallahu a’lam.