
*This article was written by an Ozip contributor. The views and information expressed are those of the author, and Ozip is not responsible for the content of this article.*

RUMAH SAKIT PRINCESS JULIANA SEKARANG RUMAH PERAWATAN LANSIA DI TURRAMURRA DEKAT KOTA SYDNEY NSW- PADA TAHUN 1946 RUMAH SAKIT INI MERAWAT PELAUT INDONESIA YANG MENDERITA PENYAKIT TB TUBERKULOSIS YANG SANGAT BERBAHAYA DAN MENULAR
Tidak banyak orang di Australia dan Indonesia mengetahui bahwa pada Augustus 21, 1946 di wilayah Turramurra, Sydney, 25 pasien Indonesia yang menderita penyakit Tuberculosis (TB) di usir dari Rumah Sakit Princess Juliana. Rumah sakit ini dimiliki oleh perusahaan kapal Belanda KPM (Koninglijke Pakketvaart Maatschappij). Pasien Indonesia ini pelaut KPM dan beberapa serdadu KNIL. Mereka tidak diberi perawatan selama empat bulan. Pakaian pasien tidak dicuci dan makanan tidak cukup.
Pasien yang diusir berlindung di gubuk kayu di pinggir Bobbin Head Road, waktu musim dan angin dingin di Sydney. Mereka dibantu oleh orang Australia yang bersimpati dengan kemerdekaan Indonesia. Ini anggota-anggota Australia Indonesia Association atau AIA. Bapak Gerald Peel, seorang pembela ‘human rights’, nenek ‘Granny’ Byrnes, dan Ibu Elsie Reid, seorang aktivis bersama anak perempuannya, Charlotte Reid/ Maramis yang berumur 17 tahun. Charlotte terkenal sebagai Tante Lottie di kalangan masyarakat Indonesia di Sydney. Dia meninggal dunia pada tahun 2012.
Koran terlampir, Sydney Morning Herald, August 22, 1946, mengumumkan bahwa wakil pemerintah Belanda menyatakan ‘Pasien TB Indonesia harus pindah dari rumah sakit Princess Juliana, karena rumah sakit ini akan ditutup dan semua pasien akan dikirim ke rumah sakit lain Queen Wilhelmina di Randwick’. Pengumuman ini tidak betul, karena rumah sakit Princess Juliana diteruskan sampai tahun 1970.

KABAR DI SURAT KABAR SYDNEY MORNING HERALD DAN SUN PADA 22 AGUSTUS 1946 – 25 PASIEN TB INDONESIA DIRAWAT OLEH MASYARAKAT AUSTRALIA DAN CHINESE YOUTH LEAGUE DI DIXON STREET SYDNEY
Pasien-pasien TB ini dijemput oleh kendaraan truk dan sopirnya Arthur Locke/Chang, Sekretaris Chinese Seamen Union. Mereka dibawa dan dirawat oleh masyarakat Tionghoa di rumah kumpulan Chinese Youth League di Dixon Street di Sydney Chinatown. Banyak pedagang dan pemilik restoran di Dixon St, khawatir penyakit infeksi TB bisa meluas karena pada saat itu penyakit ini sangat berbahaya dan sulit diobati.
Dua puluh lima pasien ini diberi bantuan dan obat dari Oranje Clinic di Kent St. dekat Dixon Street. Pemerintah Belanda yang memiliki klinik ini, marah dan tidak mau membantu pasien Indonesia. Tetapi. Belanda tidak berani mengusir pasien Indonesia, karena mereka dijaga dan dibela oleh buruh dermaga dan pelaut Australia. Juga sejumlah wartawan koran Australia menghadiri perawatan pasien TB ini di Oranje Clinic. Perawatan pasien TB ini di lanjutkan di rumah sakit Queen Wilhelmina, di Randwick, Sydney.
Pada bulan November 1946, pasien TB yang sudah sembuh B. Asmadi dan F. Soedjadi memberi surat terlampir kepada ketua Australia Indonesia Association/AIA dan mereka mengucapkan terima kasih atas bantuan ini. Pada bulan November 1946, mereka kembali ke Indonesia dengan kapal ‘HMAS Manoora Dan memberi janji bahwa kabar tentang bantuan dari masyarakat Australia dan Tionghoa akan diceritakan kepada wakil – wakil Pemerintah Indonesia. Mereka mengharap bahwa teman-teman di Australia akan melanjutkan hubungan baik dan pekerjaan sama antara Australia dan Indonesia.
ANTHONY LIEM- RETIRED ARCHITECT
REFERENCES: SYDNEY MORNING HERALD, AUGUST 22, 1946, DIGITISED BY THE NATIONAL LIBRARY OF AUSTRALIA.
CHARLOTTE MARAMIS – ANTON AND ME & ECHOES BOOK THREE: AUSTRALIA, CHINA AND INDONESIA
JAN LINGARD – REFUGEES AND REBELS, INDONESIAN EXILES IN WARTIME AUSTRALIA

SURAT YANG DITERIMA OLEH AIA SYDNEY – SURAT INI DITULIS OLEH PAK ASMADI DAN PAK SOEDJADI WAKTU MEREKA KEMBALI KE INDONESIA DENGAN KAPAL HMAS MANOORA PADA 24 NOVEMBER 1946

SYDNEY MORNING HERALD AGUSTUS 22, 1946 – HALAMAN 3 – BERITA TENTANG 25 PASIEN TB INDONESIA YANG DI USIR DARI RUMAH SAKIT DI TURRAMURRA, SYDNEY












