Nusantara in Melbourne: Merayakan Warisan Indonesia di Negeri Rantau

Oleh: Muhammad Iqbal

Pada 24 Mei 2025, AIYA Victoria (Australia Indonesia Youth Association) menyelenggarakan acara Nusantara in Melbourne di KJRI Melbourne. Acara ini merupakan bagian dari Asian Heritage Week, sebuah program tahunan yang bertujuan merayakan kekayaan budaya Asia di Australia. Nusantara in Melbourne hadir sebagai ruang bagi diaspora Indonesia untuk merayakan budaya tanah air melalui cerita, musik, seni, dan busana.

Beragam kegiatan disajikan, mulai dari diskusi panel, workshop kain perca batik dan angklung, hingga pertunjukan musik tradisional. Tak hanya itu, aneka hidangan khas dari berbagai daerah di Indonesia juga disediakan, mengundang rasa nostalgia sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner nusantara kepada mereka yang baru pertama kali mencicipinya.

Acara dibuka dengan monolog “Suara Dua Tangan” oleh Viera Chas, yang menyoroti identitas sebagai diaspora Indonesia. Dilanjutkan dengan diskusi panel bertema “Warisan Budaya Indonesia”, menghadirkan empat pembicara dari latar belakang berbeda:

  • Billy Adison Aditijanto, pendiri dan host The Perantau Podcast
  • Kevin Luk, produser game dan editor
  • Sabrina Suwandi, ahli patologi wicara
  • Alfin Nurul Firdaus, mahasiswa Master of Environment di University of Melbourne

Berbicara tentang identitas kita sebagai orang Indonesia kerap kali menjadi sebuah hal yang tidak disadari, tapi disini, di Melbourne, menjadi seorang Indonesia adalah sebuah tindakan sadar, ucap Billy. Kevin, yang berasal dari keluarga berdarah Indonesia dan Hong Kong, menyadari bahwa memilih identitas Indonesia, layaknya menunjukan diri sebagai seorang vegan, memberikan kesan dan stereotype yang berbeda dari orang lain. Di sisi lain, Sabrina, sebagai Ahli Patologi Wicara di Melbourne, ia membantu anak-anak untuk bisa berbahasa inggris secara fasih, yang umumnya adalah anak-anak keturunan dari Asia. Kesempatan unik dimana Sabrina bukanlah pengguna bahasa inggris sebagai bahasa utama, tapi harus membantu orang lain bisa berbahasa inggris dengan baik, membuat dirinya pun mendalami proses menemukan dirinya sebagai orang Indonesia. Alfin juga  berbagi tentang inisiatifnya seperti @pasuruanyouthforum dan @humanofplastic, serta bagaimana semangat untuk membangun daerah asalnya di Pasuruan menjadi sumber motivasi saat studi di luar negeri.

Diskusi ditutup dengan kalimat reflektif:
“This event is part of Asian Heritage Week, but appreciating heritage is not only a weekly act. Underneath different skin colours, there is red blood and white bone. We have the power to shape and change the narratives of Indonesia.”

Setelah diskusi, peserta menikmati sesi networking, bermain congklak, serta menulis surat dalam sesi “Letters from Home”. Di sini, mereka menuliskan kenangan, kerinduan, dan harapan untuk Indonesia.

Selanjutnya, workshop kain perca batik dipandu oleh Bu Siska Prabonowati Dart dengan teknik Kawandi. Peserta dari berbagai latar belakang, termasuk warga mancanegara, antusias menyelesaikan jahitan batik mereka.

Workshop angklung dipandu oleh Razan dari KJRI. Peserta belajar dasar-dasar memainkan angklung, baik secara individu maupun berkelompok. Lagu “Tanah Airku” dimainkan bersama sebagai simbol rasa cinta tanah air.

Pada sesi penutup, grup musik Contempo membawakan lagu-lagu tradisional dari berbagai daerah:

  • Ayam Den Lapeh (Sumatra Barat)
  • Alusiam (Sumatera Utara)
  • Kicir-Kicir (DKI Jakarta)
  • Suwe Ora Jamu (Jawa)
  • Ampar-Ampar Pisang (Kalimantan)
  • Yangko Rambe Yangko (Papua)
  • Hingga Stecu-Stecu sebagai lagu permintaan khusus peserta

Peserta pun ikut menari dan bernyanyi bersama, menciptakan suasana hangat dan meriah, bahkan menarik minat teman-teman mancanegara untuk bergabung.

Sepanjang acara, juga ditampilkan musik Kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara—alat musik tradisional yang telah diakui sebagai UNESCO Intangible Cultural Heritage.

Selain kegiatan langsung, acara ini juga menyuguhkan zine digital (dapat diakses pada laman https://bit.ly/4jjaZjC) berisi karya kreatif diaspora Indonesia di Melbourne. Beberapa karya yang tercantum didalamnya yaitu puisi tentang anak tercinta, ilustrasi makanan manis tradisional oleh @anch0viesoupp, serta karya Sherin Isabel yang menggambarkan kenikmatan sederhana menyantap nasi telur ceplok dengan sambal dan kerupuk.

Salah satu karya menarik perhatian adalah esai foto dari Sony Simanjuntak tentang Indo-Fesyen. Saat pandemi, ia mulai membeli kain dan busana etnik Indonesia secara daring. Salah satu desainer dari Jakarta bahkan menawarkan produk-produk dari outletnya yang terdampak pandemi, sehingga harus dikembalikan ke gudang. Sony juga merasa terharu bahwa satu pembelian yang ia lakukan, dapat membantu dua keluarga. Ia juga sangat mendukung desainer yang bekerja sama dengan perajin lokal, seperti pembuat ulos dari Sumatera Utara. Ia menyampaikan, “If not us diaspora living abroad to purchase it… then who will?” Sebuah kalimat yang mengingatkan kita bahwa, sejauh apapun kita melangkah, kita tetap memiliki identitas sebagai orang Indonesia dan tanggung jawab untuk saling mendukung.

Acara Nusantara in Melbourne bukan sekadar ajang hiburan atau temu kangen sesama diaspora, tetapi juga menjadi ruang reflektif untuk memahami ulang arti menjadi “orang Indonesia” di tanah rantau—dengan cara yang sederhana namun bermakna, melalui cerita, musik, seni, dan kebersamaan.