
Doa bersama, potong tumpeng, dan lomba keluarga menyatukan penerima Australia Awards di Monash University serta komunitas Indonesia di Melbourne.
Oleh Tien Cathy Patricia Hutahaean
Merah putih, tawa anak-anak, dan aroma nasi kuning memenuhi Monash University, Clayton Campus, pada Minggu, 16 Agustus 2026. Keluarga besar Australia Awards Scholarship – Monash Indonesian Community (AAS-MIC) berkumpul merayakan HUT ke-81 RI dalam suasana akrab dan penuh makna.
Family Gathering AAS-MIC mempertemukan para penerima beasiswa Australia Awards di Monash University, keluarga, serta tamu dari berbagai komunitas Indonesia di Melbourne. Lebih dari sekadar seremoni, acara ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan studi, mempererat silaturahmi, dan menghidupkan kembali suasana 17 Agustus.
Perayaan yang dimulai dengan kepedulian
Rangkaian acara dibuka dengan doa bersama bagi para korban bencana gempa bumi di Indonesia. Momen hening itu memberi nada reflektif sebelum seluruh peserta berdiri menyanyikan Indonesia Raya. Di tengah ruangan yang dihiasi warna merah putih, lagu kebangsaan terdengar bukan hanya sebagai bagian dari acara, tetapi juga sebagai pengingat akan rumah dan tanggung jawab.
Dalam sambutannya, Koordinator AAS-MIC Ibu Nina Septi Wardani mengajak peserta memaknai kemerdekaan lebih dalam. Menurutnya, perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi pribadi dan memikirkan kembali kontribusi yang dapat diberikan setelah menyelesaikan studi di Australia.
“Mengisi kemerdekaan dengan membawa hal-hal positif yang telah didapatkan di sini kembali ke Indonesia.”

Koordinator AAS-MIC Ibu Nina Septi Wardani menyampaikan sambutan tentang makna kemerdekaan dan kontribusi bagi Indonesia.
Tumpeng dan cita rasa tanah air
Setelah foto bersama, pemotongan tumpeng nasi kuning menjadi salah satu momen yang paling ditunggu. Tumpeng hadir sebagai simbol syukur, kebersamaan, dan harapan agar perjalanan para awardee selama menempuh pendidikan dapat membawa manfaat yang lebih luas.
Suasana semakin hangat saat peserta menikmati makan siang dengan beragam hidangan khas Indonesia. Kerupuk dan sambal yang tersaji di meja terasa sederhana, tetapi cukup untuk menghadirkan kembali cita rasa rumah di tengah musim dingin Melbourne. Percakapan pun mengalir di antara mahasiswa, keluarga, dan tamu yang mungkin baru pertama kali bertemu.
Lomba yang menyatukan generasi
Selepas makan siang, suasana berubah semakin riuh. Peserta dewasa beradu cepat dalam lomba Jawab Gercep, estafet sarung, dan sambung huruf. Anak-anak tidak kalah antusias mengikuti lomba memasukkan bendera ke dalam botol. Untuk kategori keluarga, panitia menghadirkan lomba bendera dalam botol sambil berswafoto bagi ibu dan anak, serta lomba makan kerupuk yang selalu berhasil mengundang tawa.

Keseruan lomba keluarga saat peserta memasukkan bendera ke dalam botol sambil berswafoto.
Permainan khas kemerdekaan itu menghapus jarak usia dan latar belakang. Mahasiswa jenjang master dan PhD, para orang tua, serta anak-anak dapat berbaur dalam satu ruang. Kompetisi tetap terasa seru, tetapi yang paling menonjol justru semangat saling menyemangati dan kegembiraan ketika setiap peserta menyelesaikan tantangan.
Para pemenang lomba sambung huruf berfoto bersama setelah rangkaian permainan kemerdekaan.
Babak baru bagi AAS-MIC
Acara ditutup dengan pembagian hadiah dan door prize. Namun, pertemuan ini juga membawa makna lain karena menandai peluncuran identitas Australia Awards Scholars – Monash Indonesian Community. Berawal dari semangat kebersamaan para awardee Indonesia di Monash University, AAS-MIC hadir sebagai ruang untuk saling mendukung, memperluas jejaring, dan membuka peluang kolaborasi.
Sebagai penerima beasiswa dari pemerintah Australia, para awardee berada dalam posisi yang unik. Mereka belajar dan bertumbuh di Australia, sekaligus membawa pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang kelak dapat dikembangkan untuk Indonesia. Dalam konteks itu, kegiatan komunitas seperti Family Gathering ikut merawat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Australia melalui pendidikan dan perjumpaan sehari-hari.

Para pemenang lomba Jawab Gercep berfoto bersama setelah menerima hadiah.
Indonesia tetap dekat di tanah rantau
Jarak tidak mengurangi rasa memiliki terhadap Indonesia.
Bagi keluarga besar AAS-MIC, perayaan kemerdekaan di Melbourne menjadi pengingat bahwa rasa cinta kepada tanah air dapat dirawat melalui hal-hal yang dekat. Doa, lagu kebangsaan, tumpeng, perlombaan, dan percakapan antarkeluarga menjadi cara sederhana untuk menjaga identitas serta mewariskan semangat kebangsaan kepada anak-anak.
Di Clayton sore itu, kemerdekaan hadir dalam banyak bentuk. Ia terasa dalam tawa saat lomba, dalam rasa pedas sambal, dalam tangan yang saling membantu, dan dalam tekad untuk membawa pulang berbagai kebaikan bagi Indonesia. Family Gathering AAS-MIC pun berakhir, tetapi semangat persatuan yang dibangunnya tetap tinggal bersama setiap peserta.















