
Jika sahabat Ozip pernah menonton telenovela yang terus menerus menyiksa karakter utamanya, atau serial India yang menghadapkan protagonis terhadap berbagai masalah tanpa henti, film animasi drama komedi “Memoir of A Snail” mampu mengeksplorasi konsep ini sembari mengekspresikan generational trauma sekaligus menghibur penonton dengan pengemasannya yang apik.
Film yang mewakili Australia dalam Academy Awards ke-97 (Oscar 2025) pada kategori ‘Best Animated Feature’ ini bercerita tentang Grace Pudel (Sarah Snook) seorang anak yatim piatu yang terus menerus dihadapkan dengan tragedi, mulai dari dipisahkan dari saudara kembarnya, Gilbert. Keduanya diadopsi oleh keluarga baru, Grace yang lebih beruntung diadopsi oleh keluarga yang menjalani hidup hedonistic. Ia harus beradaptasi sebagai remaja yang mengalami kesendirian, menikah dengan pasangan yang memiliki kelainan seksual, hingga akhirnya ditinggalkan oleh sahabat terdekatnya- Nenek, Pinky. Sementara Gilbert, yang diangkat oleh pemilik kebun yang religius harus menjalankan hidup pahit karena ia dipekerjakan selayaknya factory worker yang dieksploitasi dan ekstorsi.
Saat menghadapi berbagai tantangan yang membentuk siapa dirinya, Grace yang senang mengamati ‘siput’ saat masih anak-anak seiring waktu mulai mengoleksi siput dan juga terjebak dalam hoarding sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah-masalah dalam hidupnya. Siput-siput tersebut menjadi simbol perjalanan emosional dan perasaan Grace dan melalui kecintaannya pada siput, Grace belajar mengatasi perasaannya dan menemukan cara baru untuk menjalani hidup.
Life isn’t about looking backwards it’s about living forwards
– Pinky, Memoir of a Snail
Generation Trauma Masyarakat Australia
Karakterisasi Grace, yang merupakan seorang yatim piatu secara cermat digunakan untuk merangkai isu Generational Trauma yang dirasakan oleh masyarakat Australia. Ada yang unik saat kita membicarakan isu ini, walaupun luka tersebut berbeda, apapun bentuknya perih tersebut “sama”. Sebagai pendatang di Australia, cultural gap terhadap sejarah dan perayaan-perayaan yang diselebrasikan oleh teman-teman Saya di Australia acap sekali Saya rasakan. Pada awalnya Saya tidak menyadari seberapa besar trauma yang diakibatkan oleh perang ANZAC, bagi Saya perayaan tersebut hanyalah sebatas showcase kemampuan angkatan udara.
Namun bagi para penduduk Australia, diceritakan melalui karakter sang ayah, Percy yang sepulangnya dari medan perang memiliki ketergantungan terhadap alkohol, menderita dengan PTSD dan dihadapkan dengan disabilitas tentulah memiliki signifikansi yang luar biasa. Percy menghadapi hidupnya di Fitzroy, Melbourne dalam kemiskinan sebagai seorang street artist dan duda beranak dua, walau begitu karakter Percy tidak digambarkan sebagai sosok antagonis yang abusive. Secara jeli terdapat beberapa scene yang disisipkan untuk menggambarkan kehangatannya sebagai sosok “Ayah” saat Ia tidak menyentuh alkohol, hal ini jugalah yang membuat Gilbert kemudian memiliki mimpi untuk menjadi seorang pesulap. Setelah kematian Percy dikarenakan overdosis alkohol, Grace dan saudara kembarnya, Gilbert kemudian secara sistematis ‘direbut’ oleh Child Protective Service yang digambarkan dengan jenaka sekaligus memberikan selentingan kritis terhadap sistem ini.
Medium Film Animasi, Identitas Politik, dan Oscar
Jangan tertipu dengan desain poster dan claymation-nya yang menggemaskan. Jika sebelum menonton anda tidak memperhatikan klasifikasi film ini, mari Saya perjelas film ini rated R selain dikarenakan isu-isu sensitif yang Ia bawakan, visualisasi akan pemantik plotnya juga digambarkan secara eksplisit.

Berdasarkan data yang dikutip dari “Mission Australia 2022”, lebih dari sepertiga generasi muda Australia menganggap isu “Kesetaraan dan Diskriminasi” sebagai salah satu masalah yang paling penting di negara ini. Mereka merasa diperlakukan secara tidak adil atau didiskriminasi, dengan penyebab utama yang sering kali berkaitan dengan Gender, Ras/latar belakang budaya, dan Kesehatan mental. Menurut Saya, sutradara “Memoir of A Snail”, Adam Elliot, berhasil menyampaikan isu-isu tersebut melalui film ini.
Film animasi merupakan media yang efektif untuk mengungkapkan politik identitas karena keleluasan form film tersebut memungkinkan penggambaran yang kompleks yang mungkin sulit dilakukan oleh film live-action. Gilbert, yang digambarkan sebagai Gender Queer mengalami perundungan oleh keluarga dan saudara angkatnya serta disaat yang sama diperlakukan secara tidak manusiawi namun tetap berpegang dengan harapannya untuk kembali bertemu dengan Grace. Dengan metode animasi penggambaran interseksionalitas serta isu-isu identitas generasi muda Australia yang kompleks, mampu diekspresikan secara kohesif.
Meski tahun ini “Memoir of A Snail” gagal merebut Academy Awards -97 dalam kategori ‘Best Animated Feature’ menurut Saya film ini sangat layak untuk dinantikan dan ditonton bersama teman-teman anda. Terutama bagi teman-teman diaspora Indonesia yang berdomisili di Melbourne, terdapat banyak latar lokasi yang dapat dinikmati sebagai easter egg dan tentu saja kejelian film ini dalam menjabarkan keresahan penduduk Australia menurut Saya mampu mengecilkan proximity gap akan perbedaan kultur kita.
Kesimpulan
Memoir of A Snail adalah film animasi drama komedi yang menggali isu trauma generasi melalui kisah Grace Pudel, seorang yatim piatu yang menghadapi berbagai tragedi dalam hidupnya. Film ini mengangkat tema kesendirian, ketidakadilan sosial, serta pengalaman generasi muda Australia yang merasakan diskriminasi, terutama terkait gender, ras, dan kesehatan mental. Dengan menggunakan media animasi, film ini berhasil mengungkapkan politik identitas generasi muda Australia secara mendalam. Karakterisasi dan penokohan yang kompleks pada setiap karakter menggambarkan bahwa mereka pada akhirnya tetap akan kembali berpegang kepada harapan dan mimpi walau mereka terus menerus diserang oleh kehidupan yang penuh dengan tragedi. Meskipun film ini gagal memenangkan Oscar 2025, “Memoir of A Snail” menyajikan eksplorasi yang apik dengan latar belakang yang relevan bagi penonton, termasuk mereka yang tinggal di Melbourne. Film ini juga menjadi cerminan isu sosial yang dihadapi masyarakat Australia, yang dapat mengurangi jarak budaya antara penonton dari latar belakang berbeda.
Penulis: Ivany Hanifa Rahmi
















