Sebagai seorang yang sudah cukup lama tinggal di Kyoto, aku merasa sangat beruntung bisa menikmati sisi-sisi Jepang yang jarang dijamah oleh wisatawan, seperti yang aku rasakan bersama Winda, teman baikku dari Yogyakarta, dalam perjalanan musim dingin yang tak terlupakan. Kami berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan darat yang panjang dari Kyoto menuju Shirakawa-go, desa yang terkenal dengan rumah-rumah tradisional bergaya gassho-zukuri. Untuk tiba di destinsi tujuan kami, kami harus melalui Tokyo dan Kanazawa. Dengan memilih bus malam sebagai transportasi, kami tahu perjalanan ini akan cukup melelahkan, tetapi kami lebih memilih untuk menghemat biaya perjalanan dan mengalokasikannya untuk menikmati kuliner lezat sepanjang perjalanan.
Perjalanan dimulai pada malam hari di Kyoto. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan di kota ini, yang kaya akan sejarah dan budaya, tetapi kali ini aku sangat menantikan pengalaman baru bersama Winda. Winda baru pertama kali ke Jepang, dan aku senang bisa berbagi pengalaman ini dengannya. Kami memilih bus malam karena selain lebih murah, kami juga tidak perlu menyewa akomodasi untuk menginap. Bus dari Kyoto menuju Tokyo dibandrol sekitar 8,300 yen, lebih mahal dari biasanya mungkin karena sedang musim liburan.
Ada tiga website utama yang sangat memudahkan siapa saja untuk mendapatkan tiket bus yakni willer-travel.com, kosokubus.com, dan japanbusonline. Sangat direkomendasikan untuk membeli tiket bus jauh-jauh hari karena kami membeli beberapa tiket H-1, sehingga untuk beberapa destinasi harus dicapai dengan cara memutar terlebih dahulu, tidak seefisien seharusnya.
Harga tiket bus yang kami naiki dari Kanazawa menuju Shirakawa-go sekitar 2,500 yen, dan begitu juga sebaliknya. Setibanya di Shirakawa-go pada pagi hari, kami langsung disambut oleh pemandangan yang benar-benar berbeda. Tidak tanggung, salju yang turun pun menyambut kami dengan meriahnya sehingga kami harus membeli payung di Tourist Center-nya.


Shirakawa-go terletak di pegunungan Gifu, dan suasananya begitu damai dan dingin. Keindahan rumah-rumah bergaya gassho-zukuri, yang atapnya runcing untuk menahan berat salju, membuat kami terpesona. Katanya, atap rumah disini sengaja dibentuk seperti segitiga sehingga memudahkan salju untuk turun ke bawah dan meminimalisir salju yang menumpuk. Keunikan ini sangat memukau!
Pada tahun 1995, Shirakawa-go, bersama dengan desa sekitarnya, Ogimachi, diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Pengakuan ini diberikan karena keunikan arsitektur rumah tradisional bergaya gassho-zukuri dan cara hidup masyarakat setempat yang sangat erat dengan alam dan keberlanjutan. Rumah-rumah gassho-zukuri memiliki atap runcing yang dirancang untuk menahan berat salju tebal yang turun selama musim dingin, menunjukkan pengetahuan dan keterampilan tradisional yang luar biasa.

Salju yang turun dengan lebat menutupi atap rumah dan jalanan desa, memberikan nuansa yang sangat magis. Kami yang pertama kali menginjakkan kaki di sini, langsung terkesima. Dinginnya cuaca tidak menghentikan kami untuk berfoto, mencoba menangkap setiap sudut keindahan alam dan arsitektur desa ini. “Ini seperti di dunia lain,” kata Winda, matanya berbinar-binar.
Kami berjalan kaki menyusuri desa, menghirup udara segar yang sangat dingin, dengan setiap langkah kami meninggalkan jejak di salju yang masih baru. Semua bus yang datang dan pergi akan berhenti di Tourist Center-nya, kemudian semua pengunjung bisa memilih untuk berjalan kaki atau menaiki bus menuju area lookout. Bus lokal yang akan membawa ke lokasi lookout berjarak sekitar 100 meter dari Tourist Center dan akan menjemput pengunjung setiap 20 menit.
Tak hanya keindahan alam yang membuat kami merasa bahagia di Shirakawa-go, kuliner khas daerah ini juga menjadi daya tarik utama. Sebelum berjalan-jalan, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah restoran tradisional yang terkenal dengan hidangannya yang lezat. Salah satu hidangan yang kami coba adalah Hida beef dan hoba miso, yang disajikan dengan daun shiso besar. Perpaduan daging khas lokal yang terkenal lembut dan miso yang kaya rasa dibakar di atas daun shiso, menghasilkan aroma yang sangat menggugah selera. Rasanya yang gurih sangat cocok dengan suasana musim dingin yang menusuk tulang.


Hida Beef adalah salah satu jenis daging sapi Wagyu terbaik di Jepang, dikenal dengan tekstur daging yang sangat lembut dan marbling (lemak yang tersebar merata di dalam daging) yang kaya. Marbling ini memberikan rasa gurih dan kelembutan yang sangat khas, serta rasa yang meleleh di mulut. Daging sapi Hida ini sangat terkenal karena kualitasnya yang terjaga dengan ketat, dan hanya sapi yang dibesarkan dengan cara tertentu di daerah Hida yang dapat disebut sebagai “Hida Beef.”
Selain itu, terdapat banyak toilet umum yang tersedia di area Shirakawa-go, sehingga pengunjung yang merasa dingin dan butuh ruang tidak perlu khawatir. Pastikan untuk mengambil peta yang tersedia saat ketibaan dan mengikuti petunjuk yang ada.

Shirakawa-go memberi kami lebih dari sekadar pemandangan yang indah. Ini adalah pengalaman yang mengajarkan kami tentang pentingnya menghargai momen-momen sederhana dalam hidup. Perjalanan ini bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kami menikmati perjalanan bersama, berbagi cerita, dan merasakan kebahagiaan dalam setiap langkah. Shirakawa-go, dengan semua keindahannya, akan selalu menjadi bagian dari kenangan indah yang tak terlupakan bagi kami berdua.
Menjelang sore, kami menaiki bus kembali menuju Kanazawa. Sebelum kembali ke Tokyo, kami menyempatkan diri untuk mampir di pemandian air panas atau Onsen di daerah Kanazawa. Winter yang dingin dan onsen yang hangat adalah perpaduan yang pas pengantar tidur sepanjang perjalanan sekitar tujuh jam menuju Tokyo.
Oleh Siti Mahdaria












