Dentuman dangdut bersenandung di area Prahran Square pada Sabtu siang, 2 Mei 2026. Di tengah udara Melbourne yang mulai dingin memasuki musim gugur ini, suasana justru terasa hangat dengan alunan musik, aroma makanan, dan ramainya masyarakat yang berkumpul untuk menikmati Mahasuara 2026: Music & Food Festival. Acara yang berlangsung dari pukul 12 siang hingga 6 sore ini menjadi salah satu perayaan budaya yang penuh warna di kawasan Prahran, Melbourne.
Maha Suara 2026 diselenggarakan oleh Perwira (Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria) bekerja sama dengan City of Stonnington. Festival ini membawa tema keberagaman budaya melalui musik, tarian, dan kuliner dari berbagai komunitas. Tidak hanya dihadiri diaspora Indonesia, banyak juga masyarakat lokal Australia dan komunitas internasional lain yang ikut menikmati suasana festival sepanjang hari.
Sejak awal acara dimulai, area panggung utama sudah dipenuhi penonton yang duduk santai sambil menikmati berbagai penampilan. Salah satu hal yang membuat Mahasuara terasa unik adalah perpaduan musik yang dibawakan. Dari dangdut koplo, Bollywood, musik tradisional, hingga penampilan band komunitas diaspora Indonesia, semuanya terasa menyatu dengan natural.

Dokumentasi Pribadi
OJWM Band membawakn lagu-lagu Indonesia mengenakan pakaian daster
OJWM (Orkes Jawi Waton Muni) Band menjadi salah satu penampil yang sukses membawa suasana nostalgia bagi masyarakat Indonesia. Lagu-lagu seperti Jogja Istimewa hingga Terajana membuat banyak penonton ikut bernyanyi bersama. Tidak sedikit pula yang mulai berjoget kecil di depan panggung, dari balita hingga pengunjung usia lanjut pun ikut menikmati suasana dangdutan khas Indonesia yang jarang ditemui di Melbourne.
Menariknya, festival ini juga menghadirkan penampilan lintas budaya. Ada tarian Saman, Bollywood dance, hingga pertunjukan dari Kala Nritya Dance dan Abhivyakti FAA Dance yang membawa nuansa India yang enerjik dan penuh warna. Penampilan anak-anak diaspora Indonesia dan Australia juga menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian pengunjung. Dengan kostum sederhana hingga daster khas rumahan Indonesia, suasana terasa hangat dan penuh tawa.
Selain pertunjukan musik dan tari, area festival juga dipenuhi berbagai stand makanan yang ramai sejak siang hari. Aroma sate, pempek, makanan Malaysia, hingga jajanan ringan memenuhi area Prahran Square. Beberapa tenant Indonesia yang hadir di antaranya Warong Paling, Diana’s Kitchen, Pandan Leaf, Pempek Wei, hingga De Rara Catering.
Salah satu yang menarik perhatian tentu saja stand Pandan Leaf yang sebelumnya juga cukup dikenal di komunitas diaspora Indonesia di Springvale. Tidak sedikit pengunjung lokal Australia yang terlihat penasaran mencoba makanan Indonesia dan bertanya langsung mengenai bumbu dan rempah yang digunakan. Suasana seperti ini membuat festival terasa lebih dari sekadar acara makan dan hiburan, tetapi juga menjadi ruang perkenalan budaya yang hangat dan santai.
Tidak hanya makanan Indonesia, terdapat pula berbagai stand makanan lainnya seperti Mz Waffle dan beberapa snack vendor yang ikut meramaikan acara. Banyak pengunjung terlihat membawa makanan sambil duduk santai di area rumput dan tempat duduk selingkaran Prahran Square menikmati musik sepanjang sore.
Yang paling terasa dari Mahasuara adalah suasana kebersamaannya. Tidak ada batas antara komunitas satu dengan lainnya. Semua orang datang untuk menikmati musik, makanan, dan budaya bersama-sama. Anak-anak bermain di sekitar area festival, orang tua duduk menikmati pertunjukan, sementara kelompok anak muda sibuk bernyanyi mengikuti lagu-lagu dangdut yang dibawakan di atas panggung.
Di tengah kehidupan diaspora yang jauh dari kampung halaman, acara seperti Mahasuara menjadi pengingat bahwa budaya Indonesia tetap bisa hidup dan dirayakan bersama di negeri orang. Bukan hanya membawa hiburan, tetapi juga menghadirkan rasa dekat, nostalgia, dan kebersamaan bagi masyarakat Indonesia di Melbourne.















