Knife – Ketika Seorang Penulis Ditikam

Knife, atau yang dikenal dengan judul lengkap Knife: Meditations After an Attempted Murder, adalah sebuah memoar karangan Salman Rushdie. Memoar ini bukan sekadar memoar yang bercerita mengenai kisah hidupnya atau masa kecilnya atau bahkan hubungannya dengan orang-orang terdekatnya: memoar ini berkisah tentang pengalaman Rushdie ditikam! 

Terjadi pada tanggal 12 Agustus 2022, penikaman tersebut sempat membuat seluruh dunia gempar. Kala itu, Rushdie yang sedang bersiap menyampaikan sebuah seminar ditikam sebanyak lima belas kali di panggung Chautauqua Institute New York. Rushdie pun langsung dilarikan ke rumah sakit, sementara pelaku penikaman yang bernama Hadi Matar langsung ditangkap oleh kepolisian setempat. Kebanyakan pemimpin dunia, seperti Joe Biden, Boris Johnson, Anthony Albanese, dan Justin Trudeau menyampaikan dukungan terhadap Rushdie sembari mengharapkan pemulihannya dari luka yang dideritanya. Setelah proses pemulihan yang memakan waktu kurang lebih enam bulan, Rushdie pun sudah kembali beraktivitas seperti semula, meskipun ia kehilangan mata kanannya. 

Terlepas dari subjek peristiwa mencekam tersebut, Knife ditulis dengan bahasa yang santai, terkadang jenaka, namun sepenuhnya jujur dan lugas. Rushdie menceritakan dengan sangat detil peristiwa penikamannya: bagaimana ia mendapatkan firasat buruk yang hampir membuatnya membatalkan seminarnya di Chautauqua, bagaimana ia pasrah ketika dirinya diterjang di atas panggung, dan bagaimana ia ketika digotong ke helikopter ambulans sempat meratapi setelan Ralph Lauren-nya yang sobek. Meskipun bukan dalam bentuk fantasi yang menjadi genre andalan Rushdie, penceritaan dalam buku tetap menarik untuk diikuti. Rushdie sangat lugas dan bercerita mengenai kisahnya dengan apa adanya, namun masih dalam bahasa yang halus dan mengalir. Selain itu, bumbu kata jenaka khas Rushdie tidak mengalihkan perhatian pembaca dari pesan dalam buku, namun malah menajamkannya.  

Kisah yang tertulis dalam Knife pun bukan hanya mengenai peristiwa penikaman Rushdie dan proses penyembuhannya, tapi juga mengenai hubungannya dengan istrinya Rachel Eliza Griffiths, serta sedikit mengenai hubungannya dengan keluarganya. Dalam memoarnya, Rushdie menganggap Griffiths sangat berjasa dalam proses pemulihannya, dimana ia mengatur tempat Rushdie dirawat sampai keamanannya setelah ia dilepas dari rumah sakit. Hampir sebagai deuteragonis buku, Rushdie juga menceritakan kecemasan luar biasa Griffiths ketika mengetahui Rushdie ditikam, termasuk tangisnya ketika melihat kondisi mengenaskan Rushdie di rumah sakit. Tidak lupa juga, Griffiths tetap tinggal di samping Rushdie dari awal masa perawatannya sampai ia diperbolehkan pulang. 

Berangkat dari pengalaman tersebut, Rushdie menganggap bahwa sebuah pisau (alat yang digunakan untuk menikamnya) memiliki banyak kegunaan. Pisau bisa digunakan sebagai alat untuk merayakan cinta dalam memotong kue pernikahan. Pisau bisa digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup, ketika digunakan untuk memotong buah-buahan di dapur. Tentu saja, pisau juga bisa digunakan untuk melukai seseorang. Namun, terlepas dari kumpulan deskripsi tersebut, pisau tetaplah sebuah alat, tergantung bagaimana menggunakan alat tersebut. 

Begitupun halnya dengan bahasa, yang menjadi subjek perbandingan Rushdie dengan sebilah pisau. Bahasa bisa menyampaikan keindahan. Bahasa bisa mengangkat dan menolong orang lain. Bahasa, tentu saja, bisa digunakan untuk menjatuhkan dan melukai orang lain. Semua tergantung bagaimana bahasa digunakan. Dalam kasus Knife, bahasa bahasa digunakan Rushdie untuk mengubah dirinya dari seorang korban menjadi seorang penyintas. 

Knife adalah sebuah buku yang menginspirasi. Bukan hanya dari perjalanan Rushdie menuju kesembuhan total, namun dari bagaimana ia dengan bahasanya yang lugas namun jenaka menceritakan peristiwa nahas tersebut. Bagaimanapun, sebuah peristiwa buruk akan terus menjadi peristiwa buruk bila kita membiarkannya. Namun dengan menggunakan bahasa dan keinginan kita untuk terus berekspresi, sebuah peristiwa traumatis bisa menjadi titik balik kita menuju kehidupan baru yang lebih baik dan diri yang lebih kuat. Melalui bahasa itulah, kita bisa mengambil kembali hidup kita. 

Teks: Jason Ngagianto

Foto: Berbagai sumber