
Dari dialog terbatas bersama awardee LPDP hingga forum sekitar 300 peserta, Ibu Sri Mulyani mengajak generasi muda menjadikan pendidikan global sebagai bekal untuk berkarya dan menjawab tantangan Indonesia.
Oleh Tien Cathy Patricia Hutahaean
“Jangan lelah mencintai Indonesia.” Pesan singkat itu tertulis pada salah satu kartu yang diberikan para penerima beasiswa LPDP kepada Ibu Sri Mulyani Indrawati di Melbourne. Sederhana, tetapi terasa kuat. Di tengah kesibukan studi, jarak dari rumah, dan pertanyaan tentang langkah setelah lulus, kalimat tersebut merangkum semangat dua pertemuan pada Kamis, 13 Agustus 2026: tetap peduli dan tetap mencari cara untuk berkontribusi bagi Indonesia.
Hari itu, ekonom senior dan mantan Menteri Keuangan RI tersebut bertemu dengan pelajar serta diaspora Indonesia dalam dua forum di The University of Melbourne. Pertemuan pertama berlangsung dalam ruang yang lebih terbatas bersama awardee LPDP. Pada malam harinya, percakapan meluas melalui Bincang Bakti yang menghadirkan sekitar 300 mahasiswa dan anggota diaspora Indonesia di Melbourne.
Dari Ruang Kecil, Muncul Pertanyaan Besar
Rangkaian kegiatan dimulai melalui “Dialogue with Sri Mulyani Indrawati: Empowering LPDP Awardees to Create Greater Impact for Indonesia”. Mata Garuda Australia–New Zealand (MGANZ) menyelenggarakan sesi tersebut bersama Asialink dan Asia Institute, The University of Melbourne, di Sydney Myer Asia Centre pada pukul 16.00–17.00 AEST. Dialog terbatas ini melibatkan 30 penerima beasiswa LPDP yang sedang menempuh studi di The University of Melbourne.
Associate Professor Ken M. P. Setiawan, akademisi Indonesian Studies sekaligus Deputy Director (Diversity and Inclusion) di Asia Institute, memandu dialog. Suasananya hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya mendengar pengalaman Ibu Sri Mulyani, tetapi juga membawa pertanyaan yang dekat dengan perjalanan mereka sendiri: bagaimana ilmu dan pengalaman internasional dapat diterjemahkan menjadi perubahan nyata ketika kembali ke Indonesia?

Associate Professor Ken M. P. Setiawan memandu dialog antara Ibu Sri Mulyani dan para penerima beasiswa LPDP. Dokumentasi: Instagram Sri Mulyani Indrawati.
Pendidikan Bukan Sekadar Gelar
Di hadapan para awardee, Ibu Sri Mulyani mengajak peserta melihat pendidikan lebih jauh daripada pencapaian akademik. Kuliah di luar negeri, menurut pesan yang mengemuka dalam pertemuan itu, merupakan kesempatan untuk memperkuat kapasitas, memperluas cara pandang, dan mempersiapkan kontribusi yang lebih relevan bagi kebutuhan Indonesia.
Bagi mereka yang mendekati akhir studi, refleksinya menjadi semakin personal. Akan menjadi apa setelah lulus? Ke mana langkah berikutnya diarahkan? Persoalan apa yang ingin ikut diselesaikan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dijawab dengan satu rumus, sebab kontribusi dapat hadir melalui berbagai bidang dan dalam skala yang berbeda.
Para penerima beasiswa juga diingatkan untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan melalui LPDP serta membawa nama baik Indonesia dan LPDP dalam perjalanan akademik maupun profesional mereka. Percakapan juga menyinggung pengalaman Ibu Sri Mulyani memimpin di tingkat nasional dan global, termasuk di Bank Dunia (World Bank). Menjelang akhir sesi, para awardee menyerahkan kumpulan kartu berisi pesan dan ucapan. Melalui media sosial setelah pertemuan, Ibu Sri Mulyani menyampaikan apresiasinya kepada generasi muda Indonesia dan berbagai pesan yang diterimanya.
“Saya mendengar, belajar dan menaruh harapan besar pada para generasi muda Indonesia yang terus peduli terhadap kemajuan bangsanya dan ingin terus berjuang membangun Indonesia, apapun ilmu yang ditekuninya.”
Ibu Sri Mulyani Indrawati
Ia juga mengapresiasi kartu dan pesan yang diberikan para awardee, termasuk sebuah pengingat sederhana namun bermakna: “Jangan Lelah Mencintai Indonesia.”
Ketika Dialog Meluas
Pada malam hari, energi yang sama dibawa ke ruang yang jauh lebih besar. Forum “Bincang Bakti: Diaspora Muda untuk Transformasi Ekonomi Indonesia” berlangsung pukul 18.00-20.00 AEST di The David P. Derham Theatre, Law Building, The University of Melbourne. Acara ini diselenggarakan oleh PPI Australia, MGANZ, dan LPDP University of Melbourne Student Association (LUnA), serta dimoderatori oleh Alanda Kariza, kandidat doktor di University of Tasmania.
Di hadapan sekitar 300 peserta, Ibu Sri Mulyani mengajak audiens membaca ekonomi global bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia membahas perubahan lanskap perekonomian dunia, peran institusi seperti Bank Dunia, dan dampak dinamika internasional terhadap negara berkembang seperti Indonesia.

Ibu Sri Mulyani bersama moderator dan perwakilan organisasi penyelenggara seusai forum Bincang Bakti. Dokumentasi: Instagram Sri Mulyani Indrawati.
Diaspora sebagai Jembatan Gagasan
Pesan yang terasa dekat bagi pelajar dan diaspora adalah pentingnya memanfaatkan pengalaman tinggal di luar negeri secara kritis. Kesempatan belajar di Australia bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga mengamati praktik baik, sistem, inovasi, dan cara berpikir yang dapat disesuaikan dengan konteks Indonesia. Yang dibawa pulang bukan salinan dari negara lain, melainkan perspektif baru untuk membaca persoalan di rumah dengan lebih tajam.
Kehadiran Ibu Sri Mulyani di Melbourne merupakan bagian dari rangkaian kunjungannya atas undangan Asialink, dengan dukungan ASEAN-Australia Centre, termasuk untuk menghadiri 2026 Southeast Asia Oration. Forum publik tahunan yang diselenggarakan oleh Asialink dan Asia Institute, The University of Melbourne, tersebut membahas dinamika politik, sosial, dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Dalam orasinya, Ibu Sri Mulyani menyoroti perlunya produktivitas, investasi pada kualitas manusia, institusi yang kuat, dan kerja sama regional agar Asia Tenggara mampu menghadapi perubahan ekonomi serta geopolitik. Gagasan besar itu menemukan bentuk yang lebih personal dalam percakapan bersama mahasiswa Indonesia: transformasi selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia belajar, pulang dengan gagasan, dan bekerja secara konsisten.
Karena itu, dua forum tersebut terasa lebih dari sekadar kesempatan bertemu seorang tokoh nasional. Keduanya menjadi ruang untuk menghubungkan pengalaman pendidikan global dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. Organisasi pelajar dan komunitas diaspora berperan penting dalam menjaga jembatan itu tetap hidup melalui dialog, jejaring, dan kolaborasi lintas bidang.
Kontribusi Bisa Dimulai dari Hal Terdekat
Tidak semua orang harus memulai dengan proyek besar atau jabatan tinggi. Kontribusi dapat tumbuh dari keahlian yang sedang dipelajari, komunitas yang sedang didampingi, penelitian yang menjawab masalah nyata, atau keputusan sederhana untuk terus mengikuti perkembangan Indonesia. Bahkan dari luar negeri, kepedulian dapat diwujudkan melalui gagasan, kerja profesional, kolaborasi, dan keberanian menyuarakan solusi.
Pada akhirnya, dua pertemuan di Melbourne itu meninggalkan tiga pertanyaan yang layak dibawa pulang oleh setiap peserta: ilmu apa yang dapat dibagikan, persoalan apa yang ingin diselesaikan, dan kontribusi seperti apa yang ingin diberikan? Jawabannya mungkin berbeda bagi setiap orang. Namun satu pesannya tetap sama: di mana pun berada, jangan lelah mencintai Indonesia.
Tentang Organisasi Penyelenggara
Mata Garuda Australia–New Zealand (MGANZ)
Mata Garuda Australia–New Zealand (MGANZ) adalah komunitas yang mewadahi lebih dari 6.000 awardee dan alumni beasiswa LPDP yang sedang atau telah menempuh pendidikan di Australia dan Selandia Baru. MGANZ berfokus pada penguatan jejaring, kolaborasi, pengembangan kapasitas, serta kontribusi awardee dan alumni bagi Indonesia melalui berbagai kegiatan akademik, profesional, sosial, dan pengabdian masyarakat.
Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPI Australia)
PPI Australia merupakan organisasi yang menaungi dan menghubungkan pelajar Indonesia di berbagai negara bagian dan wilayah Australia. PPI Australia menjadi wadah komunikasi, kolaborasi, pengembangan kapasitas, advokasi, serta kontribusi pelajar Indonesia dalam memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia–Australia dan mendukung pembangunan Indonesia.
LPDP University of Melbourne Student Association
LPDP University of Melbourne Student Association merupakan komunitas penerima beasiswa LPDP di The University of Melbourne yang menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, jejaring, pengembangan diri, dan kolaborasi antarpenerima beasiswa. Komunitas ini juga mendorong anggotanya untuk mengembangkan kegiatan yang mendukung keberhasilan studi serta kontribusi bagi Indonesia.
Dokumentasi SMI: Instagram















