Indonesia Street Food Festival 2025

Masih dalam suasana perayaan Kemerdekaan Indonesia yang ke-80, pada tanggal 30–31 Agustus 2025 telah diselenggarakan Indonesia Street Food Festival 2025 di Queen Victoria Market, Melbourne, VIC. Acara yang diinisiasi oleh Indonesian Culinary Association Victoria (ICAV) dan bekerja sama dengan Super Sambal ini sekaligus menjadi perayaan 23 tahun berdirinya Super Sambal. Festival dua hari tersebut tidak hanya menampilkan beragam suguhan makanan otentik khas Indonesia, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan yang kental dengan nuansa budaya. Melalui acara ini, kultur Indonesia diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat Melbourne, mulai dari penampilan musik tradisional yang dikemas modern, hingga atraksi tari-tarian yang menawan.

Acara resmi dibuka dengan sambutan dari perwakilan ICAV dan ketua Indonesia Street Food Festival yang menekankan kembali pentingnya pelestarian kultur Indonesia di negeri rantau. Setelah itu, suasana semakin hidup dengan penampilan alat musik angklung yang membawakan lagu-lagu nasional hingga lagu modern populer, seperti karya ABBA. Penampilan ini mampu menarik perhatian banyak pengunjung Queen Victoria Market. Bahkan, tidak sedikit warga internasional yang berhenti sejenak untuk merekam jalannya pertunjukan. Mereka tampak terkesima dan kagum melihat bagaimana bambu sederhana dapat menghasilkan nada-nada indah yang harmonis. Keunikan semakin terasa karena para pemain angklung tampil dengan mengenakan busana tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Perpaduan musik dan ragam pakaian ini meninggalkan kesan mendalam akan besarnya keberagaman Indonesia, sekaligus menunjukkan bagaimana harmoni tetap dapat terjalin dalam perbedaan.

Tentu saja, primadona festival ini adalah deretan stan makanan Indonesia yang berjejer di sepanjang arena. Pilihan yang ditawarkan begitu beragam, mulai dari santapan nasi dan lauk khas, seperti Nasi Gudeg, Nasi Kuning, hingga Nasi Jinggo Bali dari Ny. Ratna Kitchen. Ada pula The Daily Angkringan yang menghadirkan suasana khas angkringan lengkap dengan menu sederhana namun penuh nostalgia. Tidak ketinggalan, Mie Bangka dari PBK Noodle yang juga menjadi favorit. Salah satu momen menarik datang dari seorang pengunjung asing yang membeli sambal di stan Super Sambal. Stan ini tidak hanya menjual makanan berat, melainkan juga berbagai jenis sambal dalam kemasan jar, sekaligus memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mencicipinya. Pengunjung asing tersebut mengaku kagum dengan banyaknya varian sambal Indonesia, terutama sambal serai (lemongrass), dan tidak sabar untuk menikmatinya kembali di rumah bersama daging dan nasi. Selain hidangan utama, festival ini juga menawarkan jajanan populer khas Indonesia, seperti lumpia Semarang, cendol, hingga martabak yang ramai diburu pengunjung.

Tidak berhenti pada kuliner, sejumlah stan lain juga meramaikan acara, mulai dari penjual camilan ringan hingga produk kerajinan seperti baju batik. Namun, salah satu acara yang paling ditunggu adalah lomba 17-an. Suasana riang tawa pecah ketika pengunjung diajak bernostalgia dengan permainan khas Hari Kemerdekaan, seperti balap karung, makan kerupuk, lomba kelereng, hingga mengeluarkan bola dari dalam kotak. Keseruan lomba ini tak hanya diikuti anak-anak, tetapi juga para orang tua yang antusias berpartisipasi. Menariknya, banyak pula anak-anak non-Indonesia yang penasaran dan ikut mencoba permainan tersebut. Bagi diaspora Indonesia di Melbourne, momen ini menjadi pengingat hangat akan suasana kampung halaman yang penuh keceriaan. Lebih dari itu, festival ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan kekayaan budaya Indonesia mampu melintasi batas negara, serta dapat dirasakan dan diapresiasi oleh masyarakat internasional.