Lewat drama musikal “Riuh di Bawah Langit Merah”, Temulawak 2026 membawa peristiwa Bandung Lautan Api ke panggung Melbourne, bukan semata sebagai kisah pertempuran, melainkan pergulatan antara panggilan bangsa, keluarga, dan kehilangan.
Teks: Jefrianus Putra Zebua | Foto: [ARSIP TEMULAWAK]
National Theatre di St Kilda berubah menjadi Bandung tahun 1946: hangat oleh musik dan keseharian, lalu menegang ketika kabar kedatangan Belanda memecah ketenteraman sebuah keluarga.
Sabtu sore, 15 Agustus 2026, merah-putih hadir bukan hanya sebagai warna perayaan di The National Theatre, St Kilda. Di atas panggung, warna itu menjelma langit yang gaduh, ruang tempat sejarah, ketakutan, keberanian, dan kasih keluarga saling beradu. PPIA Victoria kembali menghadirkan Temulawak, produksi teater musikal tahunannya, dengan lakon bertajuk “Riuh di Bawah Langit Merah”.
Pementasan yang menandai peringatan ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini dibuka dengan lagu “Indonesia Raya”. Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, kemudian menyampaikan sambutan dan membuka acara. Momen tersebut memberi bingkai resmi pada pertunjukan, tetapi kekuatan malam itu justru tumbuh dari sesuatu yang sangat dekat: kehidupan orang biasa yang tiba-tiba harus berhadapan dengan gelombang sejarah.
Dari keseharian menuju kegentingan
Cerita tidak langsung melompat ke medan pertempuran. Pembukaannya terlebih dahulu memperlihatkan keseharian masyarakat Indonesia: kebaya, musik Indonesia, percakapan di rumah, dan perjumpaan di warung. Bagi tim produksi, kedekatan itu penting agar penonton mengenal para tokoh sebagai manusia biasa sebelum dunia mereka diguncang oleh sejarah.

Suasana kemudian berubah. Di Bandung, seseorang membaca surat kabar, kabar mengenai kedatangan Belanda menyebar dan memunculkan beragam reaksi, marah, takut, ragu, sekaligus terdorong untuk bertindak. Rumah Sekar yang semula dipenuhi keseharian Galih dan Sekar tampak kosong pada babak berikutnya. Warung Euis pun berubah dari tempat warga berkumpul dan bercengkerama menjadi posko darurat. Tanpa harus selalu dijelaskan melalui dialog, perubahan ruang itu menunjukkan bahwa waktu telah berlalu, keadaan tidak lagi sama, dan ada sesuatu yang telah hilang.
Pilihan Bandung Lautan Api sekaligus membawa Temulawak kembali ke akar namanya. Menurut Yara, Project Manager Temulawak 2026, masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa Temulawak merupakan singkatan dari “Teater Muda Langkah Awal Kemerdekaan”, bukan semata tempat orang bertemu untuk menyaksikan lawakan. Setelah beberapa tahun mengangkat cerita kontemporer, tim ingin kembali menghadirkan kisah yang lebih historis dan dekat dengan perjalanan kemerdekaan Indonesia. Bandung Lautan Api dipilih karena peristiwa tersebut tidak hanya berbicara tentang perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga pilihan dan pengorbanan orang biasa. Dalam adaptasi longgar ini, Galih dan Sekar, dari sebuah keluarga biasa, harus menghadapi ketegangan Indonesia–Belanda yang mendesak masuk ke ruang keluarga mereka.
Ketika negeri memanggil, apakah keluarga harus ditinggalkan, dan ketika keluarga harus dilindungi, apakah perjuangan menjadi kurang berarti?
Merdeka dilihat dari ruang keluarga
Galih berada di tengah dua tuntutan: ikut berjuang atau melindungi Sekar. Dilema itu membuat tema kemerdekaan terasa lebih manusiawi. Perjuangan tidak digambarkan sebagai pilihan yang bersih dan heroik tanpa konsekuensi, melainkan keputusan yang dapat meminta seseorang membayar dengan rasa bersalah, kehilangan, atau hubungan keluarga.
Di sinilah lakon ini menemukan relevansinya bagi penonton masa kini. Bagi Yara, pertanyaan “Merdeka untuk siapa?” lahir dari kenyataan bahwa hampir setiap orang sedang memperjuangkan sesuatu. Ada yang menyuarakan aspirasi di ruang publik, membangun kesadaran melalui media sosial, atau, bagi mahasiswa yang hidup jauh dari rumah, berusaha mencapai kemandirian dan keberhasilan untuk negara, keluarga, maupun diri sendiri. “Kemerdekaan mungkin sudah kita miliki sebagai sebuah bangsa, tetapi setiap generasi tetap memiliki bentuk perjuangannya masing-masing,” ujarnya.

Pilihan untuk menyampaikan sejarah melalui sebuah keluarga juga memperluas arti “pahlawan”. Keberanian tidak hanya hadir ketika seseorang mengangkat senjata. Ia dapat muncul melalui upaya menjaga anggota keluarga, merawat komunitas, menyampaikan kabar, menyediakan tempat aman, atau tetap bertahan ketika keadaan memaksa orang memilih di antara dua hal yang sama-sama berharga.
Sejarah yang bernyanyi di perantauan
Unsur musikal membuat narasi sejarah tidak terasa seperti pelajaran di ruang kelas. Sutradara Ingmar Riza menjelaskan bahwa tim menerapkan nuansa musik Sunda melalui genre modern, menggunakan nada pentatonis khas Indonesia dan instrumen tradisional untuk memperkaya aransemen. Salah satu contohnya adalah nomor musikal kedua, “Warung Euis”, yang memadukan lagu pop dengan aransemen keroncong.
Dari segi kostum, tim menampilkan kebaya, sanggul tradisional, dan siluet pakaian yang merujuk pada periode cerita. Beberapa warga menggunakan busana yang relatif lebih modern untuk memperlihatkan variasi kelas sosial dan gaya hidup. Geraknya mengambil pendekatan kontemporer sambil tetap memasukkan unsur tari tradisional Indonesia. Latar belakang koreografer Rahma dalam tari tradisional membantu kedua pendekatan tersebut bertemu secara lebih organik.
Produksi ini disutradarai Ingmar Riza dengan naskah karya Vincentta Valentino. Pemeran utamanya meliputi Denzel Tan sebagai Galih, Clara Clairine sebagai Sekar, Xadricta Marzuki sebagai Euis, dan Sandhya Dhaneswara sebagai Sugeng. Di balik panggung, Project Manager yang akrab disapa sebagai Yara, mengoordinasikan kerja besar yang mempertemukan pemain, pemusik, kru artistik, panitia, dan relawan.
Di balik panggung, tantangan terbesar justru datang dari upaya menyeimbangkan produksi dengan kehidupan sebagai mahasiswa di Australia. Selain kuliah, setiap anggota tetap menjalani tanggung jawab domestik, memasak, mencuci, dan mengurus tempat tinggal, yang dahulu mungkin banyak dibantu keluarga di Indonesia. Yara mengakui ada masa ketika semuanya terasa sangat melelahkan. Namun, pengalaman sebagai sesama perantau juga melahirkan rasa saling memahami: ketika seseorang kewalahan, anggota lain bersedia membantu. Semangat itu terlihat dalam kolaborasi lintas divisi. Tim Media dan Komunikasi bekerja bersama Desain Visual, Dokumentasi, dan para pemain; sementara Logistik berkoordinasi dengan Program, Dana Usaha, dan tim lainnya. Menjelang pementasan, batas tugas menjadi lebih cair karena semua orang turun tangan menyelesaikan apa pun yang perlu dikerjakan.
Bukan buku sejarah dan justru di situlah kekuatannya
Pada awal proses kreatif, tim ingin menyampaikan cerita seakurat mungkin dengan peristiwa sejarah. Namun, penyempurnaan naskah serta keterbatasan waktu dan sumber daya membuat mereka memilih jalan tengah: konflik personal para karakter ditempatkan di depan, sedangkan Bandung Lautan Api menjadi konteks yang memperkuat ketegangan. Tim juga sengaja tidak memberikan penanda waktu yang terlalu spesifik agar cerita tidak mengklaim ketepatan dokumenter. Yara memberikan apresiasi khusus kepada penulis naskah, Vincentta Valentino, yang dinilainya berhasil menjaga kebutuhan sejarah dan drama tetap berjalan berdampingan.
Pendekatan itu membuka pintu bagi penonton untuk bertanya lebih jauh. Siapa yang menanggung beban perang? Bagaimana keputusan politik masuk ke dapur, warung, dan ruang tidur? Lalu, setelah kemerdekaan diproklamasikan, apakah kebebasan otomatis dirasakan oleh setiap orang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sejarah tidak berhenti sebagai masa lalu; ia menjadi percakapan tentang tanggung jawab pada masa kini.
Riuh yang tertinggal setelah tirai menutup
Ketika para pemain memberi hormat pada akhir pertunjukan, tepuk tangan penonton merangkum dua bentuk kebanggaan sekaligus: terhadap kisah Indonesia dan terhadap generasi muda Indonesia yang mampu menghidupkannya di Australia. Bagi tim, respons paling berkesan datang dari penonton yang memperoleh perspektif baru tentang perang dan perjuangan, bahwa di balik peristiwa besar selalu ada masyarakat biasa dengan kehidupan serta pengorbanannya sendiri. Tim juga tersentuh ketika penonton menangkap detail-detail kecil, mulai dari pencahayaan hingga kecepatan kru panggung mengubah latar. Banyak keputusan artistik dibuat dengan sengaja; ketika maksud itu terbaca, kerja panjang di balik layar terasa dihargai.
Tim berharap penonton tidak pulang membawa jawaban tunggal, melainkan sebuah pertanyaan: apakah semua itu sepadan? Apakah keputusan Galih memperjuangkan keyakinannya setara dengan apa yang harus ia korbankan? Haruskah ia memilih jalan lain? Dan jika berada di posisinya, apakah kita akan mengambil keputusan yang sama? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat “Riuh di Bawah Langit Merah” tetap hidup sebagai bahan percakapan setelah tirai menutup.

Pada akhirnya, lakon ini tidak menentukan siapa yang benar atau salah. Ia menunjukkan bahwa di balik peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah selalu ada manusia biasa yang harus memilih, dan setiap pilihan membawa konsekuensinya sendiri. Di tengah kehidupan diaspora, “Riuh di Bawah Langit Merah” menjadi ruang pulang sementara sekaligus cermin. Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi, pertanyaannya tetap menggema: merdeka untuk siapa, apa yang bersedia kita korbankan, dan apakah hasil akhirnya benar-benar sepadan?
















