
Oleh: Tien Cathy Patricia Hutahaean
Minggu sore di Rowville terasa lebih dari sekadar pertemuan komunitas. Di Restoran Tosaria, diaspora Indonesia berkumpul untuk membicarakan pertanyaan yang dekat sekaligus besar: bagaimana keadaan Indonesia hari ini, ke mana bangsa ini bergerak, dan apa yang dapat dilakukan warga Indonesia dari kejauhan?

Temu Diaspora Indonesia bersama Pak Bonnie Triyana digelar pada 28 Juni 2026 dengan tema “Dialog Strategis: Aspirasi Diaspora, Sejarah, Kebijakan Publik, dan Arah Indonesia ke Depan.” Acara yang diinisiasi oleh Indonesian Diaspora Network Victoria (IDN Victoria) dan Forum Kekerabatan Tionghoa Australia (FAKTA), yang digagas dan didirikan oleh Pak Suhana Lim, itu menghadirkan suasana akrab, tetapi percakapannya berlangsung serius dan reflektif.
Ibu Diana, Sekretaris IDN Victoria, menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan mendorong diaspora agar tetap peduli dan memahami perkembangan politik serta ekonomi di Indonesia. Kehadiran Pak Bonnie, yang memiliki latar belakang sebagai sejarawan sekaligus anggota parlemen, membuka jalur dialog langsung bagi diaspora untuk menyampaikan keresahan, gagasan, dan cita-cita mereka. Melalui jaringan tersebut, diaspora diharapkan tidak hanya mengkritik dari kejauhan, tetapi juga ikut membangun dan mengawal aspirasi agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
Pak Bonnie dikenal sebagai sejarawan, pendiri majalah Historia, serta salah satu kurator tamu pameran “Revolusi! Indonesia Independent” di Rijksmuseum, Amsterdam. Kini, sebagai Anggota Komisi X DPR RI, ia berkecimpung dalam isu pendidikan, kebudayaan, olahraga, sains, dan teknologi. Kehadirannya di Melbourne, di sela kunjungan keluarga untuk mengantar putrinya melanjutkan studi di Deakin University, menjadi kesempatan bagi diaspora untuk berdialog langsung mengenai berbagai persoalan nasional.
Pendidikan yang belum menjangkau semua
Pendidikan menjadi salah satu pokok pembahasan paling kuat malam itu. Pak Bonnie menyoroti kesejahteraan guru yang masih rendah, mutu pembelajaran yang belum merata, serta keterbatasan fasilitas sekolah. Menurutnya, perbaikan pendidikan tidak cukup berhenti pada kurikulum. Negara juga perlu memastikan para guru dapat hidup layak dan setiap sekolah memiliki sarana dasar, mulai dari air bersih, perpustakaan, buku, ruang bermain, hingga fasilitas olahraga.
Ia membagikan pengalaman ketika menemukan sekolah di Banten, tidak jauh dari Jakarta, dengan toilet tanpa air dan tanpa perpustakaan. Di lokasi lain, ia masih menjumpai bangunan sekolah dari bambu. Gambaran tersebut menegaskan bahwa jarak dari pusat pemerintahan tidak selalu menjamin hadirnya layanan pendidikan yang memadai.
“Kalau ditanya dari sudut pandang pendidikan, kesejahteraan guru, mutu, infrastruktur, dan akses pendidikan kita masih jauh dari layak.”
Pak Bonnie juga mengajak peserta melihat pendidikan secara lebih luas. Masyarakat Baduy, misalnya, mewariskan pengetahuan melalui praktik dan tradisi antargenerasi. Mereka mampu membangun jembatan dengan kecakapan yang lahir di luar ruang kelas formal. Di sisi lain, di sejumlah wilayah Pegunungan Papua, persoalan keamanan dapat membuat anak-anak hanya menempuh pendidikan hingga kelas-kelas awal sekolah dasar. Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan tentang pendidikan Indonesia harus mempertimbangkan pengetahuan lokal sekaligus ketimpangan akses.
Dalam forum tersebut, Pak Bonnie juga mempertanyakan keseimbangan prioritas anggaran negara. Ia berharap program Makan Bergizi Gratis dapat dilaksanakan secara lebih baik tanpa menggeser kebutuhan mendasar lain, terutama peningkatan kesejahteraan guru dan pembenahan fasilitas pendidikan. Baginya, pemenuhan gizi dan perbaikan kualitas sekolah semestinya berjalan bersama, bukan dipertentangkan.
Ketika pola lama terus berulang
Sebagai sejarawan, Pak Bonnie menghubungkan persoalan hari ini dengan jejak panjang ketimpangan pada masa lalu. Ia bercerita tentang rekaman seorang wartawan Belanda yang mengunjungi wilayah sekitar Badur, Lebak, pada 1987. Daerah itu lekat dengan kisah Saidjah dan Adinda dalam novel Max Havelaar karya Multatuli, sebuah cerita tentang penindasan, kemiskinan, dan keterbatasan pilihan hidup pada masa kolonial.
Puluhan tahun kemudian, Pak Bonnie bersama wartawan tersebut kembali menelusuri orang-orang yang muncul dalam rekaman lama. Anak-anak yang dulu terlihat bermain bersama kerbau telah tumbuh dengan jalan hidup yang tidak jauh dari pola sebelumnya. Ada yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga sejak usia muda, ada pula yang menjalani pekerjaan serabutan. Bagi Pak Bonnie, kisah itu menyimpan pertanyaan penting yaitu mengapa setelah kemerdekaan berlangsung begitu lama, pendidikan belum sepenuhnya menjadi jalan perubahan bagi kelompok yang paling terpinggirkan?
Sejarah, dalam percakapan malam itu, tidak hadir sebagai hafalan masa lalu. Ia menjadi cermin untuk menguji apakah kemerdekaan telah benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.
Pandangan serupa muncul ketika diskusi beralih ke pendidikan vokasi dan lapangan kerja. Pak Bonnie menilai lulusan sekolah menengah kejuruan maupun perguruan tinggi menghadapi tantangan ketika pertumbuhan industri dan ketersediaan pekerjaan tidak sejalan dengan jumlah lulusan. Pendidikan tidak boleh hanya menjanjikan mobilitas sosial; negara juga perlu membangun ekosistem yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan digunakan secara bermakna.
Diaspora bukan penonton dari kejauhan
Pertanyaan mengenai penerima beasiswa yang bekerja di luar negeri turut mengemuka. Pak Bonnie berpandangan bahwa kontribusi bagi Indonesia tidak selalu harus diukur dari kepulangan fisik. Diaspora yang bekerja di institusi berkualitas, membangun jejaring internasional, serta membawa nama Indonesia juga dapat memberi pengaruh besar. Yang terpenting adalah bagaimana keahlian, pengalaman, dan jejaring tersebut tetap terhubung dengan kepentingan masyarakat Indonesia.
Ia kemudian menekankan pentingnya suara publik dari luar parlemen. Menurut Pak Bonnie, kritik para politikus tidak akan cukup tanpa dukungan masyarakat sipil, akademisi, jurnalis, komunitas, dan diaspora. Ia mencontohkan perdebatan mengenai penulisan sejarah nasional serta kontroversi pemberian gelar pahlawan sebagai isu yang memerlukan pengawasan publik secara terus-menerus.
“Tidak cukup suara itu datang dari parlemen. Perlu ada dukungan suara dari luar,” ujarnya, seraya mendorong masyarakat tetap kritis melalui ruang publik dan media sosial.
Bagi diaspora, pesan ini terasa relevan. Jarak geografis tidak harus berarti jarak kepedulian. Warga Indonesia di Australia memiliki ruang untuk membawa perspektif lintas negara, memperkuat percakapan publik, membangun kolaborasi, dan menyampaikan aspirasi dengan cara yang konstruktif.
Revolusi Indonesia di panggung dunia
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya bagaimana Pak Bonnie melihat Revolusi Indonesia di panggung global serta hubungan Indonesia dan Australia. Ia menyinggung Konferensi Asia Afrika sebagai tonggak ketika Indonesia tidak hanya memikirkan kepentingan nasional, tetapi juga membangun solidaritas dengan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Menurutnya, semangat internasionalisme tersebut perlu kembali dihidupkan, termasuk melalui gerakan masyarakat sipil.
Pengalaman mengkurasi pameran “Revolusi!” di Rijksmuseum juga membentuk cara Pak Bonnie memperkenalkan kemerdekaan Indonesia kepada dunia. Revolusi, jelasnya, bukan hanya kisah pertempuran dan kekerasan. Pada masa itu juga lahir puisi Chairil Anwar, musik Ismail Marzuki, film Usmar Ismail, serta karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Kebudayaan merekam keinginan bangsa untuk keluar dari kolonialisme dan membayangkan kehidupan yang lebih baik.
Hubungan Indonesia dan Australia pun memiliki akar yang lebih panjang daripada hubungan diplomatik modern. Pak Bonnie mengingatkan adanya relasi antara pelaut Makassar dengan masyarakat di Australia bagian utara, lalu solidaritas buruh dalam peristiwa Black Armada pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jejak ini menunjukkan bahwa hubungan kedua negara dibangun bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh perjumpaan masyarakat, perdagangan, migrasi, dan solidaritas.
Harapan kepada generasi muda
Di tengah berbagai persoalan yang dibicarakan, forum tidak berakhir dalam nada pesimistis. Pak Bonnie menaruh harapan besar kepada Generasi Z. Ia melihat generasi muda sebagai kelompok yang lebih berani bertanya, kritis, kreatif dalam menyampaikan pendapat, dan tidak terlalu dibebani trauma politik masa lalu.
Pak Suhana Lim, penggagas dan pendiri FAKTA, berharap pertemuan serupa dapat lebih sering digelar, termasuk untuk mengangkat sejarah dan kebudayaan komunitas Tionghoa Indonesia di Victoria. Harapan itu memperluas makna acara yaitu bukan hanya forum untuk mendengar seorang tokoh publik, melainkan awal dari ruang dialog yang lebih rutin, inklusif, dan terhubung dengan beragam wajah Indonesia.

Suasana hangat semakin terasa ketika para peserta merayakan ulang tahun Pak Bonnie bersama-sama. Momen sederhana tersebut menjadi penutup yang kontras sekaligus selaras dengan pembahasan malam itu. Persoalan bangsa boleh berat, tetapi percakapan dapat berlangsung dalam suasana dekat, terbuka, dan penuh rasa kebersamaan. Dari Rowville, diaspora mengirimkan pesan yang jelas yaitu mencintai Indonesia dari kejauhan bukan hanya perkara rindu. Ia juga berarti berani bertanya, mengkritik, merawat ingatan sejarah, dan ikut membayangkan masa depan.















