*This article was written by an Ozip contributor. The views and information expressed are those of the author, and Ozip is not responsible for the content of this article.*
OzipMates yang budiman, Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 tahun!
Pada edisi kali ini kita akan mengunjungi Desa Dayun di Kabupaten Siak provinsi Riau, yang dikenal sebagai desa percontohan setelah bertransformasi dari desa tertinggal menjadi desa maju dan mandiri. Bagaimana bisa? Sejak ratusan tahun, Dayun memiliki keunikan alam danau Zamrud, danau rawa gambut berwarna kehitaman terluas ke-2 di dunia. Di satu sisi ini sangat penting bagi paru-paru kawasan, memberi keseimbangan hidrologi dengan kemampuan luar biasa dalam menyimpan cadangan karbon raksasa dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati unik serta menopang kehidupan satwa liar. Namun di sisi lain, sistem ekologis yang menopang kawasan tersebut seiring waktu berubah karena masifnya pengembangan lahan perkebunan sawit.

Satu sisi baik bagi pendapatan ekonomi warga lokal, namun akibat perubahan drastis kawasan gambut dengan mudah mengalami kebakaran hutan dan lahan (karthula) yang muncul saat musim kemarau panjang. Untuk mengantisipasinya, maka penduduk desa bergotong-royong membuat telaga buatan yang diberi nama Embung Terpadu Dayun untuk mendukung ekologi gambut yang seiring waktu secara kreatif dikembangkan menjadi area rekreasi air bagi keluarga dan sarana olahraga warga.

Ketergantungan pada industri sawit pun perlahan-lahan berkurang dengan memaksimalkan potensi keunikan alam dan pengembangan budidaya buah-buahan semangka yang kemudian diolah menjadi berbagai produk seperti brownies semangka, keripik semangka hingga sirop semangka. Bahkan inovasi merambah hingga dunia fashion dimana motif batik lokal yang terinspirasi dari semangka menjadi ikon desa Dayun.

Penduduk lokal pun konsisten menjaga warisan budaya leluhur dengan baik, seperti kesenian tarian Zapin yang merupakan fusi budaya Melayu dan Arab, kebudayaan tradisional seperti Kompang, Gambus, dan Marwas, seni tarian Elang (olang-olang) dan seni bela diri silat Pangean semakin menambah ketertarikan wisatawan asing berkunjung ke desa ini. Tak ketinggalan pula kuliner khas Melayu-Siakyang sangat diminati seperti asam pedas ikan Tapah (debuk), Gulai Patin, Ikan Salai Asap, Roti Jala Kari Ayam, Mie Sagu, Sambal Tempoyak (fermentasi durian).
Wander, Wonder, Grow. Ayo kunjungi Indonesia.
Rio S. Migang *Pendiri EcoPlan Australia. Saat ini berdomisili di Maryland, Amerika Serikat. | Foto Istimewa (berbagai sumber)













