Oleh: Muhammad Iqbal
Pada Sabtu, 26 April 2025, telah diselenggarakan acara Awakening Voices of Nusantara oleh Persatuan Pelajar Indonesia Australia Victoria (PPIA VIC) di Djerring Flemington Hub, Melbourne. Acara ini merupakan bagian dari inisiatif Ilmu Untuk Anak Bangsa (IUAB)—program yang diinisiasi oleh PPIA VIC untuk memberdayakan dan menginspirasi generasi muda Indonesia.
Tahun 2025 menjadi momen spesial karena IUAB tidak hanya menyelenggarakan program dan acara, tetapi juga bergerak sebagai gerakan sosial yang membangun harapan, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan menciptakan dampak berkelanjutan bagi generasi muda di tanah air.
Lomba, Workshop, dan Cinta Tanah Air
Acara berlangsung penuh semangat dengan nuansa budaya dan kreativitas. Terdapat berbagai kompetisi bertema literasi dan budaya yang terbuka untuk anak-anak usia 6 hingga 12 tahun, seperti lomba Spelling Bee, menyanyi, dan membacakan puisi bertema “Tanah Airku” (My Homeland). Di samping itu, anak-anak dan pengunjung juga antusias mengikuti berbagai lokakarya budaya interaktif seperti workshop Angklung, membatik, membuat cendol, hingga menari Saman.
Tidak ketinggalan, area bazar juga hadir dengan aneka jajanan khas Indonesia seperti kue kering, rice bowl, dan serabi Solo. Di area permainan, banyak anak-anak dan keluarga ikut serta bermain bersama dalam suasana yang hangat dan meriah.


Pembukaan Acara dan Workshop Angklung
Acara dibuka dengan sambutan dari Project Manager serta Presiden PPIA VIC. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan Workshop Angklung oleh Fahmi Nugraha Haryanto, yang mengajak peserta mengenal sejarah alat musik bambu ini, bagaimana suara dihasilkan, hingga cara memainkannya. Workshop ini menjadi pengalaman budaya yang interaktif dan menyenangkan, memperkenalkan kembali kekayaan musik tradisional Indonesia kepada generasi muda.
Kompetisi Literasi: Semangat Anak untuk Bangsa
Kompetisi Spelling Bee diikuti oleh anak-anak kelas 1 dan 2 yang mengeja kata-kata dalam Bahasa Indonesia dengan cepat dan tepat sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Sementara itu, anak-anak kelas 3 dan 4 mengikuti lomba menyanyi dengan lagu-lagu nasional dan tradisional Indonesia. Anak-anak kelas 5 dan 6 pun menunjukkan kecintaan mereka kepada tanah air melalui lomba membaca puisi bertema “Tanah Airku”. Ketiga lomba tersebut dinilai oleh para juri yang berkompeten, yaitu Rizki Catur Putra, Tata Survi dari Balai Bahasa dan Budaya Indonesia di Victoria dan Tasmania, serta Yacinta Kurniasih, pengajar Bahasa Indonesia dan Jawa di Monash University.
Kreativitas dalam Budaya: Dari Batik hingga Cendol
Selain workshop Angklung, acara ini juga menghadirkan workshop “The Art of Batik: Paint & Create” yang merupakan kolaborasi dengan Joyful Plates, di mana anak-anak diajak untuk melukis batik yang berwarna-warni. Tidak kalah menarik, terdapat pula workshop “Make Your Own Cendol” yang mengajak peserta untuk membuat jelly hijau dari pandan dan mencicipinya. Sementara itu, di workshop Tari Saman, anak-anak mempelajari gerakan tarian khas Aceh secara langsung. Acara ini juga turut dimeriahkan oleh penampilan musik dari Lemes Band (@lemes.au) yang menambah semangat dan kehangatan suasana.

Menyebarkan Budaya Indonesia di Australia
Fahmi Nugraha Haryanto, pembicara Workshop Angklung sekaligus mahasiswa Master of Education (Digital Learning) di Monash University, mengungkapkan semangatnya dalam memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya Angklung, di Melbourne.
Sebelumnya, Fahmi juga pernah menjadi pembicara Workshop Angklung di Festival Indonesia di Melbourne (November 2023) dan dalam kegiatan School Excursion Mansfield High School di Monash University. Saat S1, Fahmi aktif di UKM KABUMI, organisasi mahasiswa yang berfokus pada pelestarian budaya, termasuk Angklung.
Yang menarik, saat tampil di School Excursion, Fahmi memperkenalkan bahwa di Monash University terdapat program Indonesian Studies, dan bahwa beberapa sekolah di Melbourne memiliki muatan lokal Bahasa Indonesia. Respons peserta sangat positif. Banyak yang kagum dengan cara Angklung bekerja—bagaimana potongan bambu bisa menghasilkan harmoni musik. Ketertarikan makin besar saat mereka mendengar lagu internasional dimainkan dengan Angklung.
Membangun Kembali Kedekatan Diaspora dengan Budaya
Bukan hanya warga lokal, diaspora Indonesia di Melbourne juga menyambut hangat kehadiran Angklung. Banyak yang rindu suasana budaya kampung halaman. Memainkan Angklung secara langsung membawa nostalgia dan semangat baru. Banyak peserta ingin belajar memainkan lagu-lagu lain dengan alat musik ini.
Fahmi menyampaikan pentingnya konsistensi menghadirkan budaya Indonesia di berbagai acara:
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kebudayaan dan alat musik tradisional seperti Angklung adalah warisan budaya kita. Harus sering dibawa dan dikenalkan di acara ke-Indonesia-an di Melbourne, agar generasi selanjutnya tahu bahwa kita punya budaya yang kaya dan membanggakan.”
Foto : Dokumentasi Pribadi & IUAB















