“’Pemerintahan rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat’’ – Abrahan Lincoln, Gettyburg 19/11/1863
Kerusuhan 1998 disebabkan krisis moneter dan taruhannya Suharto; kalau Suharto mampu mengatasi krisis moneter, Suharto tidak akan jadi turun tahta tapi ternyata gagal dan Suharto terpaksa dengan jantannya mengundurkan diri! Para elit seharusnya sadar bahwa di era sekarang ini peran sosmed besar karena dan tidak adanya editor, akibatnya emosi masyarakat mudah dipengaruhi jadi untuk kedepannya di dunia tidak ada pemerintahan yg akan bertahan lama kalau mereka bertingkah otoritarianisme.
Tapi kerusuhan 25 Agustus 2025 kali ini disebabkan kesenjangan sosial dan ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat semakin melebar dan ini harus dihentikan!Dan pemerintah tidak perlu cari kambing hitam, karena unjuk rasa sekarang ini betul-betul dari hati nurani rakyat yang menderita dan kecewa dengan perilaku banyak pejabat pemerintah dan anggota wakil rakyat yang duduk di DPR!
Menurut Mahfud MD kerusuhan yang dimulai dari tanggal 25/8/25 sampai Minggu 29/8/25, disebabkan akumulasi dari banyak kekecewaan dan kejadian yang berturut-turut dari kasus Sambo, korupsi Pertamina, BUMN yang terbongkar tapi kemudian tidak ada kelanjutannya, hilang ditelan bumi! Ada apa? Kemana perginya Sambo, kemana para koruptor? Tersebar dan sudah menjadi rahasia umum bahwa para koruptor berkeliaran bahkan ada yang mengatakan bahawa mereka jalan-jalan ke luar negeri!
Dan lebih lanjut mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menilai bahwa persoalan hukum yang tidak pernah selesai dengan tuntas menjadi pemicu kericuhan dalam aksi demonstrasi besar di beberapa kota besar di Indonesia yang berlangsung dari tanggal 25/8 – 28/8/25 kemarin. Sebagai contoh, salah satunya adalah, kasus Ketua Umum Solidaritas Merah Putih, Silfester Matutina, yang telah divonis di pengadilan 1,5 tahun penjara sejak 2019 karena kasus fitnah terhadap Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla tetapi tidak pernah ditahan dan bebas pergi berkeliaran di depan hidung para aparat kepolisian yang tidak berani menangkapnya! Hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas!
Menarik tulisan Haryatmoko di Kompas edisi 21 Agustus yang mengulas berubahnya wajah pemerintah/negara dari yang seharusnya pelindung rakyat menjadi tukang tagih yang membebani masyarakat dengan berbagai tuntutan, contohnya, kebijakan pajak yang salah sasaran, pemblokiran rekening serta penyitaan tanah. Dan ini di tengah-tengah ekonomi yang sedang bergejolak menurut Haryatmoko, di mana pasar yang tidak menentu dan pemerintah sibuk menghitung ‘setoran’ dari jerih payah rakyat yang semakin tercepit!
Kericuhan Agustus 2025 kali ini masih terkontrol disebabkan TNI masih disegani & dihormati dibandingkan dgn Polri karena setelah lepas dari TNI, kepolisian bersikap dan menjadi institusi korup dan bukan pelindung dan pengayom masyarakat tapi justru sebaliknya yaitu institusi yg represif. Semoga Polri melihat kembali dirinya dan melakukan perbaikan demi masa depan Indonesia yg lbh cerah. Dan pemerintah mudah-mudahan menempatkan dirinya sebagai pembela rakyat dan semua anggota DPR sebagai abdi masyarakat bukan suatu kelompok yg merasa diri mereka lebih dari kelompok masyarakat yg diwakilinya dan memotong semua tunjangan-tunjangan yg tdk masuk akal dan tdk perlu!
Menyedihkan jatuh korban Affan Kurniawan, Mohammad Julian Junior, Moh Umar Amirudin, Rusdamdiansyah, Budi, Sarina Wati, Saiful Akbar, Muhammad Akbar Basri, Reza Sendy Pratama & Sumari dll.Merekalah yang menjadi ‘’Pahlawan Hati Nurani’’
‘Mungkin’ Sri Mulyani korban dari kerusuhan yg terjadi kali ini kali, menyedihkan sekali memang rumahnya dijarah perusuh dan barang-barang yang sifatnya pribadi sekali bahkan dijarah dan dibawa lari! Beliau salah satu yang kena imbas dari kerusuhan bagian/instrumen dari suatu pemerintahan yg sebenarnya punya niat baik untuk memperbaiki kehidupan rakyat tapi kurang tepat sasaran atau salah alokasi yang berakibat kemarahan rakyat. Ahmad Sahroni dkk mungkin telah berlaku ‘mulutmu adalah harimaumu!
Janji-janji politik untuk membela kepentingan rakyat hanya menggelegar di mikrofon tapi tidak kelihatan bukti di lapangan dan ini terlihat dengan kebijakan yang sama sekali tidak dipikirkan dengan matang dan ditengah-tengah situasi ekonomi yang mencekik masyarakat, terlihat jelas tingkah laku para elit yang sama sekali tidak peka dan menaruh empati terhadap penderitaan rakyat. Yang lebih tidak masuk akal adalah anggota DPR tidak bayar pajak!! Bagaimana bisa hidup dari pajak rakyat tapi mereka sendiri tidak bayar pajak!
Tuntutan 17+8 mahasiswa kali ini jangan main-main, kalau tidak dipenuhi kemungkinan mereka akan turun kembali ke jalan!!! Pemerintah dan DPR harus betul-betul hati-hati dan berbenah diri!
Menarik yg dikatakan diaspora Indonesia di Denmark, Salsa Hutagalung bahwa tidak berubahnya mentalitas orang Indonesia kalau sudah menjadi pejabat sejak zaman Max Havelaar (1860an) yaitu korup, gila hormat dll. Apa betul?
Mari kita lihat masing-masing film ini sebelum tidur dan ‘ngaca’ apa betul? Besoknya kalau jawabannya ‘ya’ berarti ini merupakan ‘IRONI SEKALIGUS TRAGIS!’ Setelah 80 tahun merdeka!!!
SIAP SEDIA – Chairil Anwar 1944
Suaramu nanti diam ditekan
Nanamu nanti terbang hilang
Langkahmu nanti enggan kedepan
Tapi kami sederap mengganti
Bersatu maju, ke Kemenangan
Kawan, kawan
Dan kita bangkit dengan kesadaran’mencucuk menerang hingga belulang
Kawan, kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!
Anton Alimin
ghazellapublisher@gmail.com













