Kontributor: Muhammad Iqbal
Melbourne dan Yogyakarta kembali menjadi dua kota yang menghubungkan kisah lintas budaya melalui layar. Tahun ini, ReelOzInd! Australia Indonesia Short Film Festival merayakan satu dekade penyelenggaraan dengan tema “Imajinasi”. Festival yang digelar serentak pada 23 Oktober 2025 di ACMI, Federation Square, Melbourne dan di Kaliurang Festival Hub, Yogyakarta, menampilkan karya-karya sinematik yang menembus batas bahasa dan latar, namun menyatu dalam rasa kemanusiaan dan kreativitas.
Sejak pertama kali digelar, ReelOzInd! telah menjadi jembatan kultural yang mempertemukan pembuat film dari dua negara bertetangga, Australia dan Indonesia, dalam satu wadah apresiasi. Diselenggarakan oleh The Australia-Indonesia Centre, festival ini bertujuan mempererat pemahaman antarbangsa melalui medium yang paling universal: film.
“Meski berdekatan secara geografis, Australia dan Indonesia masih saling sedikit mengenal. Melalui film, kita membuka ruang untuk memahami satu sama lain di luar stereotip dan tajuk berita,” ujar perwakilan penyelenggara dalam sesi pembukaan.
Imajinasi Sebagai Bahasa Bersama
Tema “Imajinasi” menjadi benang merah ReelOzInd! tahun ini, menggambarkan bagaimana cerita dapat menghubungkan dua budaya dengan cara yang segar dan inspiratif. Lebih dari sekadar kompetisi, festival ini memberi kesempatan bagi pelajar, sineas muda, dan pembuat film profesional untuk mengekspresikan kisah mereka lewat karya berdurasi maksimal 10 menit.
Para pemenang dipilih oleh dewan juri gabungan dari Indonesia dan Australia yang terdiri atas sineas, kritikus, akademisi, dan profesional industri kreatif. Film yang terpilih tidak hanya ditayangkan di acara utama di Melbourne dan Yogyakarta, tetapi juga akan berkeliling dalam rangkaian Pop-Up Festival di berbagai kota seperti Adelaide, Bandung, Malang, dan Nusa Penida hingga 21 Desember 2025.
Festival tahun ini memperebutkan total hadiah sebesar $15.000 AUD, dengan kategori Best Film, Best Fiction, Best Documentary, Best Young Filmmaker, serta beberapa penghargaan khusus (Special Mentions).
Finalis dan Cerita di Baliknya

Para Pemenang ReelOzInd! 10th yang hadir di QnA di ACMI.
Kiri-Kanan: Bonnie Van De Ven, Trivita Tiffany Winataputri, Dari Justin
Dari ratusan karya yang masuk, sembilan film terpilih menjadi sorotan utama festival. Di antaranya adalah Kau, Aku, dan Kursi Itu karya Trivita Tiffany Winataputri, pemenang Best Fiction/Best Film, yang terinspirasi dari puisi karya ayahnya. Film ini menggambarkan keheningan emosi seorang ayah ketika anaknya bersiap pergi ke luar negeri, disajikan dengan puitis dan lembut penuh dengan ekspresi mendalam.
Di kategori Best Young Filmmaker, film Running Away karya Dari Justin dari Australia memenangkan hati penonton. Film ini mengisahkan dinamika adik-kakak yang sempat menjauh karena kesibukan, lalu kembali menemukan kebersamaan lewat permainan masa kecil.
Untuk kategori Best Documentary, film Wadjemup Wirin Bidi karya Glen Stasiuk (Australia) menghadirkan kisah tentang Pulau Rottnest, sebuah tempat yang menyimpan sejarah mitologi Noongar dan kisah kelam masa kolonial.
Sementara itu, film animasi Leleng karya Zaenal Abidin (Indonesia) memenangkan kategori Best Animation lewat visualisasi metaforis tentang siklus kehidupan yang dituturkan melalui boneka kayu.
Beberapa film juga mendapat penghargaan khusus, seperti Fallow karya Bonnie Van De Ven (Australia), yang mengangkat tantangan seseorang dalam beradaptasi dengan teknologi modern. Buried in Time karya Deandrey Putra (Indonesia), yang menggambarkan siklus kehidupan manusia secara poetik, serta Fighting for the Future karya Marjito Iskandar Tri Gunawan, yang mendokumentasikan komunitas tinju di Yogyakarta sebagai wadah energi positif bagi anak muda.
Film Hurt People, Hurt People karya Isla Ayu Sri Ward turut mendapat perhatian melalui pesan empatinya tentang siklus kekerasan dan penyembuhan diri. Sedangkan Elephant karya Mia Innocenti menghadirkan kisah emosional tentang hubungan anak dan ibu yang berjuang menghadapi demensia.
Film Pendek, Jembatan Panjang

Sesi QnA dengan para Pemenang ReelOzIndo! 10th di ACMI, Federation Square
ReelOzInd! membuktikan bahwa film pendek bisa menjadi jembatan yang kuat antara dua budaya. Melalui tema Imajinasi, para pembuat film muda dan profesional menunjukkan bahwa kisah sederhana pun dapat menembus batas negara dan generasi.
Bagi banyak sineas muda, festival ini bukan sekadar ajang penghargaan, melainkan wadah untuk belajar, berkolaborasi, dan merayakan kemanusiaan lewat karya visual. Seperti disampaikan oleh salah satu finalis, “Film pendek adalah puisi visual, pendek, padat, tapi mampu menyentuh hati.”
Dengan antusiasme yang terus tumbuh selama sepuluh tahun terakhir, ReelOzInd! tidak hanya menjadi festival film, melainkan simbol persahabatan dua bangsa yang terus hidup dalam imajinasi dan layar sinema.















