Share This Article

Profile
October 21, 2017 posted by Ozip Team

Akan Tampil di Melbourne, Berikut Penjelasan Eko Supriyanto Tentang Tarian SALT

Akan Tampil di Melbourne, Berikut Penjelasan Eko Supriyanto Tentang Tarian SALT

Penari Eko Supriyanto akan tampil di Sylvia Staehli Theatre, Dancehouse, Melbourne pada 3 dan 4 November 2017. Di penampilannya kali ini, Eko yang pernah menjadi penari latar Madonna ini akan menampilkan kreasi terbarunya, SALT. Seperti apa tari SALT yang akan disuguhkannya? Berikut bocoran langsung dari Eko.

Tarian SALT merupakan bagian dari trilogi tarian Cry Jailolo dan Balabala. Apa benang merah antara SALT dengan Cry Jailolo dan Balabala?
SALT merupakan karya terakhir dari Trilogy of Jailolo yang saya ciptakan, setelah sebelumnya melahirkan karya Cry Jailolo dengan penari laki-laki dan Balabala dengan para penari perempuan. Benang merahnya tentu Jailolo – sebuah kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku – yang menjadi fokus kelahiran karya-karya ini. Sejak tahun 2012 saya telah melakukan riset panjang mempelajari budaya maritim dengan cara benar-benar menyelami budaya mereka, keluar dari zona nyaman saya yang memiliki latar belakang kebudayaan agraris di Jawa. Trilogi ini merupakan hasil saya melakukan revisiting, requestioning, dan reinterpretating terhadap budaya yang berbeda dengan yang saya miliki.

Sama seperti tarian Cry Jailolo dan Balabala, SALT juga akan menampilkan kecintaan Eko terhadap dunia bawah laut. Boleh diceritakan awal ketertarikan Eko terhadap dunia bawah laut sehingga memutuskan untuk mengawinkannya dengan tarian?
Saya pertama kali menyelam dipaksa oleh Bupati Halmahera Barat saat itu, Ir. Namto Hui Roba. Padahal saat itu saya sangat takut untuk terjun ke laut. Namun rupanya pengalaman ini mengubah seluruh hidup saya, keindahan alam bawah laut Jailolo menjadi momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya merasakan sebuah alam yang betul-betul berbeda dari yang selama ini saya ketahui. Sebuah kesunyian yang transendental dan meditatif, ditambah sajian pemandangan ‘dunia lain’ yang tak terlukiskan keindahannya. Di sini saya menyadari bahwa manusia menjadi warga yang begitu asing di dalam dimensi ruang yang letaknya sangat berdekatan namun pada saat yang sama dunia tersebut terasa begitu menenangkan. Ganas dan jinak pada saat yang bersamaan. Hal inilah yang ingin saya tuangkan dalam karya koreografi, yang kemudian memunculkan karya-karya dalam trilogi ini.

Apa tantangannya menciptakan tarian yang terinspirasi dari kehidupan bawah laut?
Saya justru diuntungkan karena dapat melakukan penyelaman setiap saat ketika melakukan riset. Ketika menyelam, saya tidak hanya menikmati keindahan alam laut, tapi juga mencoba sensitif terhadap berbagai fenomena ketubuhan yang terjadi di bawah laut. Selain itu, saya mesti peka menangkap bagaimana budaya masyarakat maritim berakulturasi dengan lingkungan laut sambil terus berpikir kritis terhadap fakta-fakta tersebut. Saya mempertanyakan sekaligus menginterpretasi ulang hasil budaya lokal dengan mematerialisasikan berbagai gagasan yang muncul menjadi gerakan bagi tarian saya.

Tarian SALT akan menghadirkan materi tari Jatilan dan Cakelele. Boleh tahu alasannya memilih dua tarian tersebut untuk ditampilkan di SALT?
Saya dibesarkan dalam budaya Jawa terutama didasari oleh tari Jatilan. Bagi saya, refleks tubuh saya terletak pada tarian tersebut, yang sudah sedemikian lama mendarah daging dalam tubuh saya. Hal ini saya sandingkan dengan tari Cakalele, sebuah tarian perang dari Jailolo yang gerakannya sangat menarik perhatian saya. Perpaduan dari keduanya saya harapkan dapat menjadi sebuah bahasa baru, yang merepresentasikan penafsiran terhadap dunia yang baru bagi saya, yaitu alam bawah laut.

Pesan apa yang ingin disampaikan kepada para penonton di Australia melalui tarian SALT ini?
Pengalaman saya melakukan riset dan berinteraksi dengan masyarakat di Jailolo memberi saya pada kesadaran bahwa dalam memahami kebudayaan kita perlu menyadari bahwa setiap komunitas manusia tumbuh dalam ekosistem yang berbeda-beda sehingga kita tidak mungkin memaksakan suatu pemahaman kepada suatu kelompok manusia yang hidup di alam yang berbeda dengan kita. Saya tumbuh di alam agraris Jawa, sehingga untuk memahami budaya maritim di Jailolo, saya tidak bisa sekadar melihat dan menilainya begitu saja. Saya harus menyelam jauh lebih dalam dan berusaha menyatu dengan habitat kebudayaannya. Hal inilah yang ingin saya bagi, metode pemahaman dan penafsiran terhadap keragaman budaya, sesuatu yang saya sebut sebagai “Silent Tourism” yaitu usaha saya mensosialisasikan budaya Indonesia tanpa terasa sebagai suatu usaha yang hard-selling.

Anda ingin mendapatkan tiket gratis untuk menonton pertunjukan SALT? Silakan lihat caranya di tautan berikut ini.

YL
Foto: David Fajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *