Share This Article

Featured Articles
February 16, 2016 posted by Ozip Team

SEHARIAN BERKELILING INDONESIA DI TAMAN NUSA

SEHARIAN BERKELILING INDONESIA DI TAMAN NUSA

Halo lagi pembaca Ozip yang setia, kali ini saya ingin mengajak Anda berkeliling Indonesia dalam waktu sehari. Tidak percaya? Yuk, kita sama-sama ke Taman Nusa – Indonesian Cultural Heritage Center yang berada di Gianyar, Bali.

Perjalanan ditempuh sekitar satu jam dari Kuta dan setibanya di sana saya disambut hangat oleh Bapak James Soma selaku Manajer Seni dan Budaya Taman Nusa. Beliau menjelaskan perihal Taman Nusa yang pada dasarnya adalah sebuah taman wisata budaya warisan tradisi Nusantara, dari Sabang sampai Merauke.

“Taman Nusa main product-nya memang rumah tradisional dari 34 provinsi, berisi sekitar 71 rumah yang mewakili setiap daerah, budaya dan etnis. Di rumah-rumah itu ada penjelasan tertulis. Di beberapa tempat ada pengrajin, sanggar, atau orang yang berasal dari daerah tersebut. Kita juga menyediakan Guide untuk menjelaskan bila ada pertanyaan”, papar Pak James.

“Jadi kalau orang datang ke Taman Nusa, ia akan berjalan-jalan santai sambil merasakan nuansa kampung / desa di Nusantara; ada kampung Makasar, Ambon, Papua, Jawa. Nah rasa itu yang ingin kita sampaikan kepada pengunjung sehingga mereka mengenali apa itu Indonesia. Dan betapa kayanya budaya Indonesia.” lanjutnya.

9) Koleksi Wayang Pakubuwono X dari Surakarta

Memang tidak main-main, saya kagum melihat rumah-rumah adat tersebut berdiri dengan megah dan cantiknya di atas lahan seluas 15 hektar. Dilengkapi dengan pemandangan nan indah dari pegunungan Gianyar serta aliran Sungai Melangit dibawahnya, semuanya menciptakan keharuan, kerinduan serta kebanggaan saya akan Indonesia.

2) Robert Usnifit di Rumah AmarasiSetiap rumah memiliki ciri khas tersendiri, serta cerita dan sejarah yang menarik. “Umi” atau rumah dari Kerajaan Amarasi – Nusa Tenggara Timur misalnya, dibangun selama 6 bulan oleh Robert Usnifit untuk kompleks Taman Nusa. Terdapat ukiran-ukiran berbahan kayu mahogani menghiasi pintu depan rumah Amarasi. Tampak patung-patung yang belum selesai dan serbuk kayu berserakan disekitar tempat ia duduk. Pria ramah yang berasal dari Kupang ini menjelaskan bahwa miniatur patung yang sedang dibuatnya itu dikenal dengan sebutan aitos sebagai simbol penjaga rumah kediaman.

Gagasan Bapak Ir. Santoso Senangsyah selaku pendiri dan pemilik Taman Nusa yang berawal dari keprihatinan Beliau akan nasib bangsa dan generasi muda memang patut mendapat acungan jempol. Untuk menjaga keaslian dan keotentikan rumah, Pak Santoso tidak segan membeli dan mengirim rumah-rumah adat tersebut langsung ke Bali. Sebut saja rumah adat Banua Mbaso dari Palu, Sulawesi Tengah atau rumah Gadang Sumatera Barat yang umurnya sudah lebih dari seratus tahun.

Di setiap kampung terdapat Guide yang dengan ramah menceritakan keunikan setiap rumah adat dan tidak ketinggalan pengunjung pun bisa menikmati sekaligus berpartisipasi dalam pertunjukan tarian dan musik tradisional seperti Kolintang dan Rindik.

10) Wayang Beber

Fasilitas pendukung yang lengkap seperti lokasi kamar kecil yang strategis, 7 kafetaria yang tersebar di area kompleks sebagai tempat melepas lelah dan dahaga ditambah layanan buggy bagi pengunjung yang ingin mengistirahatkan kaki mereka barang sejenak menambah nilai plus Taman Nusa. Apalagi makanan yang lezat dapat disantap di restoran Dapur Nusantara dan Royal Sidan.

Perancangan design Taman Nusa memudahkan pengunjung untuk mengikuti urutan riwayat Indonesia. Saya berkesimpulan seharian berjalan-jalan di Taman Nusa layaknya seperti naik mesin waktu. Hal ini pun dibenarkan oleh Pak James. “Taman Nusa mengikuti kronologis sejarah mulai dari Introduction ke jaman Megalitikum untuk mengingatkan kita bahwa nenek moyang kita adalah primitif yang belajar dan merespon alam. Ada jaman sejarah yaitu Borobudur kemudian masuk ke Taman Budaya. Diteruskan dengan Gajah Mada untuk mengingatkan kembali tentang arti dan pentingnya persatuan dan kesatuan. Lalu ada Kemerdekaan Indonesia sebagai starting point bangsa kita, dan akhirnya Museum.”

Museum yang dimaksud meliputi tiga bagian utama yaitu museum etnis, wayang dan kain. Eni Astuti seorang staf museum menerangkan keistimewaan masing-masing bagian dan terus terang saja saya terkesima dengan materi yang dikoleksi. Pernahkah Anda mendengar tentang sulam Kalengkong? Kain menawan yang berbahan dasar timah ini harus disulam pada saat cuaca dingin supaya timah tidak lekas meleleh dan melukai sang penenun. Selain koleksi etnis dari berbagai daerah, terdapat beragam jenis wayang dari Jawa Barat sampai Bali.

Saya tertegun saat Eni menunjukkan dua jenis wayang yang sudah langka. Dibandingkan dengan wayang kulit yang begitu populer, keberadaan wayang rumput dan wayang beber (kemasan) sudah amat sangat jarang. Wayang rumput atau yang dikenal dengan wayang suket memang terbuat dari rumput, relatif lebih mudah rusak dan sering dibuat oleh para ayah untuk mendongeng kepada putra-putrinya. Almarhum Slamet Gundolo lah yang rajin mendalang dengan wayang suket ini.
Wayang beber memiliki keunikan tersendiri karena satu adegan dilukis diatas kain katun dan diperlukan lebih dari 100 scrolls untuk menceritakan satu dongeng. Amatlah jarang wayang beber dipentaskan dan jika ada lembaran wayang kuno yang exist pun langsung dijadikan barang antik koleksi pribadi.

Terus terang saja saya jadi prihatin, bisa-bisa keberadaan wayang rumput dan wayang beber ini akan hilang lantaran kurang mendapatkan kesadaran, perhatian dan apresiasi dari masyarakat.

Bagian terakhir museum yaitu kain-kain koleksi Pak Santoso. Warna warni batik, tenun dan songket dengan motif yang jelita tampak indah dipamerkan. Eni menambahkan bahwa dalam jangka panjang museum batik akan diperluas lagi. Perpustakaan digital pun akan dibuat di dalam gedung yang berbentuk sapu lidi, simbol dari persatuan dan kesatuan. Nantinya diharapkan Taman Nusa bisa menjadi tempat belajar dan pusat penelitian bagi periset lokal dan mancanegara.

Taman Nusa mengajarkan banyak hal yang tadinya tidak terpikirkan oleh saya. Siapa sangka yang tadinya hanya sekedar ingin melongok Indonesia di Taman Nusa bisa muncul perasaan kagum dan haru. Tidak ada yang menyangka bahwa upaya, kerja keras dan jerih payah Pak Santoso bisa “berbicara banyak” tentang keindahan dan kekayaan budaya Indonesia.
Dengan langkah ringan saya pun keluar dari pintu Taman Nusa dengan perasaan yang lebih kaya dari hari kemarin. Tak ada salahnya pembaca Ozip menjadikan Taman Nusa sebagai destinasi utama kunjungan Anda ke Bali berikutnya.

6) Rumah Gadang - Sumatera Barat 3) Honai - Rumah Papua 4) Baileo - Rumah Maluku

 

Apa Kata Mereka tentang Taman Nusa?

 

Alexander and Lilia Naydenov, Bulgaria 

Alexander and Lilia NaydenovAlexander:

“This is our first time for us to visit Bali and we are very excited. I think Taman Nusa is very well organised, we have a very nice guide and a helpful map of the place. We were very well introduced to the place. Every place needs some advertisement in order for the tourists to know and I am glad that our guide was quiet persistent for us to come and visit.”

Lilia:

“Our local guide highly recommended Taman Nusa but because we never heard about this place before we were a little bit sceptical. He was quiet persistent so we decided to come and visit. We are happy to come because even though we have been to many miniature places around Europe, I think this one is the best. We are so happy to see replicas of Indonesia because we have never been to other island so it is a great chance to see everything in a very short time.”

Fiona, Melbourne:

Fiona

“I found it very well structured and easy to navigate. It had many facilities which I could rest at and absorbs the scenery. I was very impressed looking at the art work displayed as well as the architecture knowing that some of the houses were built by a single person by hand. Learning about the culture and traditions were also very rewarding and being Indonesian, yet living in Melbourne I found it very beneficial to understand my roots.

Fournaire Edith dan Maitrejean Chantal, FranceFournaire Edith & Maitrejean Chantal

Edith:

“Taman Nusa is very nice and interesting. It is a very big cultural thing of Indonesia and I like that. 15 days staying in Bali and we rent a car and we drive to Taman Nusa.”

Chantal:

“We saw this place in the picture and we decide to go. Even though it is a little bit difficult to find but it is very nice here and of course we will recommend this place to many of our friends.”

Debora Margareth, Chara Bernike, Yosha Verdana, Deviana Marcelina (Bali)

Debora Margareth, Chara Bernike, Yosha Verdana, Deviana  Marcelina

Debora:

“Miniatur adat budaya Indonesia bisa dilihat disini. Kalau mau ke masing-masing daerah pasti akan memakan biaya yang cukup besar dan waktu.”

Chara :

“Aku datang ke Taman Nusa buat hiburan. Sekalian liburan pengen lihat-lihat juga, baru tau juga jadi kesini.

Yosha :

“Kalo aku pribadi karena cinta Indonesia aku pengen tahu dari ujung ke ujung kayak gimana.”

Deviana:

“Taman Nusa bagus tempatnya. Kita bela-belain naik motor sekitar satu jam dari rumah”

Sebastian, Melbourne:

Sebastian“Taman Nusa is a great attraction for tourists. You can come to Indonesia without actually having to visit all islands. The highlight was when I played rindik (Balinese instrument, red). I was given the opportunity to play as well as listen to it. The food at Nusa Café was amazing, love it!”

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan dan foto oleh: Ineke Iswardojo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>