Category Archives: Culture

Tarian Musim Dingin
Culture
May 26, 2015 posted by Ozip Team

Tarian Musim Dingin

Neng Yanti Khozana

Daun-daun memerah, lalu berubah coklat dan akhirnya berguguran. Pohon-pohon berdaun merah itu tampak indah, berjajar dengan manis, semanis para penari yang kami tonton siang itu. Pepohonan berdaun merah itu berjejer menyambut langkah-langkah kami menuju sebuah gedung pertunjukan di wilayah Clayton, yang terletak tepat di sebelah perpustakaan umum. Matahari pun turut tersenyum riang siang itu meski dingin tetap terasa menusuk tulang.
(more…)

Kenangan Indah di Wheelers Hill Library
Culture
March 28, 2015 posted by Ozip Team

Kenangan Indah di Wheelers Hill Library

Oleh AM. Sidqi

Saat Anda membaca tulisan ini, aku sudah kembali ke Tanah Air. Jadi tulisan ini semacam mengenang salah satu tempat favoritku selama tinggal di Victoria, bahkan favorit kami sekeluarga, atau bisa juga alasan kami betah di Victoria. Ini hanyalah sebuah perpustakaan lokal di Kota Monash, Wheelers Hills Library namanya, sekitar 35 km dari Kota Melbourne. Kami bisa membaca, menulis, menggambar atau sekedar online menghabiskan waktu sambil menikmati pemandangan dari sebuah ruangan berdinding kaca. Kalau biasanya banyak orang di Indonesia mengisi akhir pekan dengan menyesaki mall dan pusat pembelanjaan, karena hampir tidak ada pilihan lain; di Victoria, perpustakaan lokal menjadi salah satu pilihan untuk hang out di akhir pekan. Tentu saja mall juga tetap ramai, walau tidak sesesak di Jakarta.

Sering kali, kami sekeluarga berlibur menghabiskan akhir pekan di perpustakaan Wheelers Hills. Biasanya kami tidak sendiri. Para mahasiswa sudah sejak pagi hari menguasai cubical atau meja-meja di sekitar colokan listrik, membuka laptop, memasang earphone, dan setumpuk buku di sampingnya. Sementara para warga senior datang untuk sekedar membaca koran atau novel. Dan para orang tua pun tidak ingin ketinggalan mengajak anak-anaknya ke pojok khusus Kids Space. Untungnya masih ada meja tersisa menghadap dinding kaca. Segera kami membuka lapak dan larut dengan urusan masing-masing: aku menulis thesis, Mia istriku yang keren merampungkan buku memasaknya, dan Athar anak kebanggaan kami menggambar sambil bulak-balik mengumpulkan buku-buku dari pojok anak-anak.

Aku ingat ketika itu, Mia masih sibuk dengan draf buku memasaknya dan Athar masih mencorat-coret kertas putih. Menurut Athar, ia sedang menggambar pesawat di antara awan-awan. Pada mulanya, aku khawatir Mia dan Athar akan terenggut kehidupannya di Tanah Air demi “menemaniku” sekolah di Monash University. Mia memang lebih pintar dari aku. Semasa sekolah dulu, Mia adalah siswa teladan Jawa Barat dan mahasiswa berprestasi di Universitas Indonesia. Perlahan kekhawatiranku sirna ketika menemukan perpustakaan lokal serupa Wheelers Hills ini. Tidak hanya di Wheelers Hills, perpustakaan-perpustakaan lokal juga terdapat di berbagai suburb (semacam kecamatan) yang dikelola oleh Pemerintah Kota Monash, yaitu Clayton, Glen Waverley, Mount Waverley, Mulgrave Neighbourhood, Oakleigh, dan Monash Federation Centre. Perpustakaan-perpustakan ini seolah berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi warga secara cuma-cuma. Untuk anak-anak, jejaring perpustakaan ini rutin mengadakan pembacaan cerita (story telling), program liburan sekolah, klub mengerjakan tugas sekolah, lomba menulis, dan program menarik lainnya. Sedangkan untuk dewasa, macam ragam program dirancang bervariasi, dari mulai klub membaca, kelas melukis, merajut, klub percakapan bahasa Inggris bagi penutur asing (conversation circle), pelajaran bahasa lain, pelatihan komputer, internet, IELTS, dan lain sebagainya.

Selain paling indah dibandingkan perpustakaan kecamatan lainnya di Kota Monash, hanya Wheelers Hills terdapat Monash Gallery of Art. Sekitar bulan Februari lalu, produk budaya dan seni Indonesia juga turut dipamerkan di sini. Kalau Wheelers Hills boleh berbangga karena punya Monash Gallery of Art, Clayton Community Center tidak mau kalah dengan fasilitasnya sangat lengkap disamping perpustakaan, seperti, pusat kesehatan ibu dan anak (maternity and child health), gymnasium, kolam renang, taman kanak-kanak (pre-school), penitipan anak (child care), theatter, klub lansia (senior club) juga klub berbasis hobi dan etnis.

Lebih jauh lagi, kekhawatiranku Mia dan Athar akan “putus sekolah” sementara menemaniku sekolah sirna begitu mengetahui program-program di Community Centre ini. Sekitar bulan November 2013, Mia sangat rajin berkeliling dari satu perpustakaan ke perpustakan untuk mengikuti kelas percakapan conversation circle. Ia ingin bahasa Inggrisnya semakin lancar sebelum mengikuti ujian instruktur untuk pijat bayi di Royal Melbourne Hospital. Pernah juga, Mia dan teman-temannya pernah mengikuti seminar tentang zat adiktif pada makanan anak di Wheelers Hills library. Sedangkan sebelum masuk kinder, Athar rutin kami ajak ke program story telling di setiap perpustakaan di Kota Monash. Ia paling senang jika diajak ke Oakleigh library karena story teller-nya yang ekspresif dan energik. Elleen namanya. Usut punya usut, ternyata Neng Elleen ini pernah menjuarai lomba story telling dan menyabet gelar story teller terbaik di Victoria. Menariknya, semua program-program itu gratis alias tanpa biaya sama sekali! Bermodal dengkul dan mengantongi niat, kita bisa menikmati semua fasilitas dari negara ini.

Tidak hanya programnya yang gratis, para relawan juga diundang untuk mengisi program-program di perpustakaan tanpa bayaran, seperti pemandu conversation cirlce biasanya seorang mahasiswa, juga pemandu kelas merajut biasanya berasal dari klub merajut di kecamatan setempat, dan demikian seterusnya. Sehingga label community center betul-betul berbasis komunitas, dan negara cukup menfasilitasinya.

Ringkas kata, setiap warga Kota Monash difasilitasi untuk belajar dan mengembangkan keterampilannya masing-masing melalui perpustakaan yang tersebar di setiap suburb. Mungkin inilah mengapa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Australia, menurut United Nations Development Programme (UNDP), menduduki peringkat ke-2 dunia, sementara Indonesia masih terus berjuang agar keluar dari peringkat ke-121.

Aku heran melihat Australia ini. Bukankah orang bilang leluhur negeri ini adalah para bandit? Namun mengapa kini bisa menduduki peringkat ke-2 dalam indeks pembangunan manusia dunia. Sementara bangsa kita senang sekali mengulang-ulang sejarah adiluhung para leluhur, tapi jauh panggang dari api.

Mungkin salah satu sebabnya karena pembangunan Community Center di Victoria ini yang masif, sistematis, dan terstruktur dalam memfasilitasi dan membuka berbagai ragam kesempatan bagi setiap warga negara agar menjadi pembelajar sejati sesuai minat hanya dengan bermodal niat. Dalam konteks Indonesia, penjaminan pasal 31 UUD 1945 bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan mungkin salah satunya dapat diterjemahkan ke dalam bentuk community center seperti di Victoria ini. Pemerintah dan pemerintah daerah yang diwajibkan memprioritaskan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD, aku yakin, bukan tidak mungkin membangun pusat-pusat komunitas yang jauh lebih baik dari yang dimiliki Kota Monash.

[caption id="attachment_2820" align="alignright" width="150"]AM Sidqi-OZIP AM Sidqi.[/caption]

Hanya masalahnya adalah keberpihakan. Tidak perlu pening memikirkan siapa yang akan menjalankan community center jika dibangun di Tanah Air. Jiwa kerelawanan (volunteerism) yang ditunjukan oleh para relawan di Rumah Dunia dan community center di Victoria menjadi bukti bahwa masyarakat sudah mandiri dan kreatif untuk meminyaki program, tinggal pemerintah berpihak dan bersungguh-sungguh memfasilitasinya.

Aku percaya, orang Indonesia itu bukan hanya kreatif, tetapi super kreatif. Aku membayangkan, jika pusat komunitas seperti Wheelers Hills dibangun dengan fasilitas lengkap oleh masing-masing pemerintah daerah di seantero kepulauan Nusantara, maka kita akan menyaksikan kelahiran penulis seimajinatif Rowling dari Samarinda, pujangga sekaliber Tagore dari Pekanbaru, ilmuwan secerdas Habibie dari Sigli, pejuang kemanusiaan setulus Niteangel dari Poso, hukum dan politik kita disucikan oleh negarawan-negarawan sekelas Gandhi, Mandela, dan Mohammad Hatta dari tiap-tiap pulau Indonesia. Setiap warga negara tanpa terkecuali bisa merayakan apapun yang diinginkannya karena kesempatan yang dibuka seluas-luasnya oleh negara.

O, alangkah indahnya!

 

Foto: AM. Sidqi

Taman Nusa – Melirik Indonesia dalam Setengah Hari
Culture
February 24, 2015 posted by Ozip Team

Taman Nusa – Melirik Indonesia dalam Setengah Hari

Nuim Khaiyath

Namanya memang sederhana. Bahkan sangat sederhana – Taman Nusa. Tanpa embel-embel “indah”, misalnya. Mungkin pendiri dan pemilik Taman Nusa, keluarga Santoso, terpengaruh oleh kalimat mashur yang dinukilkan pujangga Inggris William Shakespeare dalam karyanya mengenai salah satu kisah cinta paling mashur “Romeo and Juliet”. What’s in a name, that which we call a rose smells as sweet by any other name (Apalah artinya nama. Bukankah mawar itu akan tetap harum biarpun diberi nama lain).
(more…)

JPS-Lewat Puisi Membangun Empati
Culture
January 6, 2015 posted by Ozip Team

JPS-Lewat Puisi Membangun Empati

Salah satu unsur penting dalam bahasa adalah sastra. Begitu pula dalam bahasa Indonesia. Kemampuan pelajar asing dalam berbahasa Indonesia, akan sempurna jika sudah masuk ke wilayah sastra. Menyadari posisi sastra yang cukup berat untuk dipahami, apalagi puisi, lahirlah Jembatan Poetry Society (JPS). Sebuah wadah yang mempertemukan para guru dan pelajar bahasa Indonesia dalam jalinan puisi.
(more…)

Culture
December 18, 2014 posted by Ozip Team

Christmas 2014 Message From The Prime Minister

PM & Mrs Abbott-2

 

Christmas is a time to gather with family and friends, and to give thanks for everything we have.

It is a joyous time – but it can be a sad time, especially for people who have lost loved ones during the year.

This year we are thinking of those families bereaved by the siege in Martin Place, and the loss of Flights MH 370 and MH 17.

Our hearts go out to all affected by these most tragic incidents.

We are also thinking of farmers in drought affected areas whose futures and homes depend on good rains.

Christmas is a time to reach out – to those who have had a difficult year, as well as those who, for whatever reason, are doing it tough.

This Christmas, I acknowledge the significant contribution that Australia’s multicultural communities make to our nation.

We are a nation with an Indigenous heritage, a British foundation and a multicultural character. Together, we have found unity in our diversity and respect in our differences.

Christmas is a time to reflect and resolve; to count our blessings and look forward to a stronger future ahead.

From my family to yours, I wish you a safe and merry Christmas.

 

The Hon. Tony Abbott MP

Prime Minister of Australia

Spotlight on Shanghai
Culture
June 28, 2013 posted by Ozip Team

Spotlight on Shanghai

Di artikel Travel Garuda Destinations kali ini, OZIP akan melirik benua Asia, mengintip apa yang membuat Shanghai patut dikunjungi. Garuda Indonesia mempunyai penerbangan 7 kali dalam 1 seminggu dengan rute Jakarta – Shanghai. (more…)

Batak Wedding
Culture
April 2, 2013 posted by Ozip Team

Batak Wedding

CUL_04   CULTURE
STEP-BY-STEP: THE NOBLE     BATAK WEDDING

Indonesia has been long known as a big mixture of people, tradition, and values, creating a unique system that share the definition of “Indonesian’s Culture”. However, we should admit that several ethnic groups soar more than the others do. Let us try to throw a little question. In your opinion, which Indonesian ethnic group that people “sounds” in modern living but still sticky with the tradition? I guess, “Batak” would be on the A-list! (more…)